‘yang Baur’: Permainan atau Kerja Reka keterhubungan

Share!

Catatan Pameran GAMBAUR oleh Cecil Mariani

Konsistensi atau persistensi praktik pameran menawarkan objek benda-benda, juga olah ragam pemaknaan atas benda-benda, sesungguhnya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana kerja objek-objek karya dan reka-keterhubungan antar agen menjadi permainan yang sesungguhnya telah atau pun berpotensi melampaui/mentransformasi posisi pameran-pameran.

 

Lewat perangkat pameran, Ugeng T. Moetidjo melakukan kerja-kerja (atau permainan?) jelajah problematisasi media kertas dengan kapasitas materialitas objeknya hingga ke ragam jelajah permainan  kapasitas kognitif dan afektif. Ugeng dalam kerja estetiknya memproduksi karya sebagai sistem permainan sekaligus mereproduksi sosialitas.

 

Kita akan mendapati jelalah reflektif pengarya[1] soal material ke metode yang menghasilkan reka-bahasa judul “gambaur” ke reka cipta kerja permainan yang dibangun di atasnya. Antara kinerja objek-objek pilihan dan dinamika agensi permainan. Permainan di sini terkait dengan objek dan kerja objek di ruang galeri maupun reproduksi sosial yang menjadi pra-syarat, sekaligus mengakibatkan sistem-sistem permainan hidup dari jalan-jalan di kota menyusup masuk lewat alienasi di ruang galeri hingga kembali ke jejaring kerja reka keterhubungan di kehidupan sehari-hari.

 

Kerja-kerja objek gambar

Gambar bisa jadi bentuk reka-tanda permainan yang umumnya diharapkan untuk dihasilkan disiplin tubuh seorang pengkarya atas medium kertas. Dalam pameran Ugeng, yang umumnya diharapkan bisa mensinyalkan asumsi problematisasi ke ’umum’an atau jangkitan yang ‘normal’ pada realitas kita dalam memirsa pameran, yang bisa jadi pertanyaan lanjutan, adalah: Apabila kerja diasumsikan sebagai hal yang memaknai manusia, kerja apa yang dilakukan oleh dan melalui objek sehari-hari sehingga kemudian ia dimaknai sebagai objek karya (identitasnya kemudian bergantung pada pengkarya)? Apakah ketika obyek karya menjadi mandiri dan asing usai alienasi pengarya? Kerja apa yang dilakukan kertas dalam ragam manifestasi bentuknya hingga ia dimaknai sebagai objek seni? Bagaimana kerja non-berkarya bisa kentara di dalamnya? Bagaimana objek-objek berbasis kertas sehari-hari memaknai balik keberkaryaan Ugeng, memaknai program galeri kertas—yang menyoal objek kertas sebagai media—juga memaknai kita pemirsanya kelak selama pameran dan seusainya? Bagaimana interaksi dan tatanan relasi ini menawarkan tatanan keterhubungan baru? Bagaimana tatanan relasi bisa direka cipta dari objek (gambar ataupun non gambar)

 

gambaur” menawarkan tak hanya kategori di luar objek ‘gambar’; ia menawarkan kontradiksi bawaan dalam reka keterhubungan karya, berkarya dan pengkarya serta sosialitas di sekitarnya. Kontradiksi yang ‘baur’ berpotensi otonom untuk mereka ulang keterhubungan agen, benda fisik hingga ke wacana gagasan. Bagaimana praktik mereka-rekakan ini merangkaikan subjektifitas, kerja dan peristiwa menjadi tatanan pengasingan makna baru atau semacam rakitan pembagian kerja (division of labor) antara manusia dan non manusia yang menawarkan imajinasi?

 

Ciri ‘yang baur’ dalam ‘gambaur’ juga merupakan problematisasi antara ‘yang kentara’ dan ‘yang tak kentara’. Rangkaian keterhubungan dan proses reka yang tak hanya berkelindah namun juga tak terbedakan (undifferentiated). Peristiwa antara kerja dan benda-benda, pengkarya dan gagasan kerja sejak pra hingga pasca pameran. Yang tak terbedakan tapi meniscayakan keterhubungan dan mereka-reka keterhubungan lain. Reka keterhubungan antara aktor dan agen di sistem produktifitas kota, galerikertas, studi tetang waktu yang dibingkai oleh jendela dan kemudian dibingkai dalam presentasi pameran, gambar bersubjek kawan dan yang karib bagi pengkarya pada balik sampul DVD, juga yang asing dan tak asing dari pilihan-pilihan sampul, kemasan, dan produk-produk karya industri di atas kertas dan karton yang akan kita temukan di pengalaman pameran.

 

Bermain dengan ‘yang baur’

Ugeng lebih suka menyebut berkarya sebagai bermain. Ia tahu bahwa permainan adalah reka-cipta sistem, bahwa semua sistem mengasumsikan ragam bentuk permainan aturan/ eksperimentasi keterhubungan untuk bisa berfungsi kerja sebagai sistem yang utuh. Di atas itu semua, yang penting dari permainan adalah bentuk interaksi, insentif agar interaksi berkesinambungan, insentif afektif; barangkali kepuasan, kegembiraan, keceriaan yang bisa diumpan balik ke sistem permainan sosial serta ketekunan dan keseriusan sukarela menjalaninya.

 

Bila permainan adalah karya, maka tiap objek karyanya adalah tawaran sistemik, dan sebaliknya, sistem adalah permainan rekaan karya dan akumulasi karya-karya permainan. Kerja-karya-bermain ini merupakan mekanika yang ‘baur’ dengan keseharian pengkarya dan kita.  Hal yang seringkali kita tak pertanyakan. Persis seperti polaritas pembedaan antara hidup dan kerja, antara kerja dan non-kerja, karya dan non-karya, seni dan non-seni. Keterhubungan dan keutuhan antar ketegangan, antar kontradiksi, dan hal-hal yang menopang persistensi pembedaan, selalu pasti berbentuk-bentuk permainan yang berkesinambungan. Permainan yang terus produktif akibat kontradiksi.

 

Alih-alih kita terpaku pada simpul objek benda seni dan sifat kebendaan dari gagasan di ruang pamer, kita bisa tak mengabaikan reka produksi keterhubungannya—yang sebenarnya tak kurang juga dari bentuk karya, rangkaian sistem permainan yang digagas pengkarya bersama-sama dengan keterhubungan sosial dan laku kultural tubuhnya. Permainan sistemik umumnya tak kentara karena kita menjalaninya seperti sesuatu yang normal dan alamiah?  Cetusan permainan-permainan Ugeng adalah sudut pandang sekaligus tawaran perkakas berpikir. Pameran ini bisa menjadi perkakas pikir kita dalam memilih, memilah, menyadari, dan kemudian mengekstrapolasi permainan-permainan baru. Lantas, kita akan lebih banyak membicarakan bagaimana permainan menciptakan tatanan keterhubungan baru? Bagaimana tatanan relasi bisa direka cipta dari objek dengan analisis “yang baur”? Kebermainan sebagai karya macam apa yang melampaui kerja-kerja objek maupun non-objek yang melampaui pameran ini, kembali ke keseharian dan yang harusnya memproduksi pameran-pameran lain setelah ini?

[1] demikian Ugeng menawarkan sebutan untuk kaum pembuat karya yang umumnya kita sebut seniman

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *