WORKSHOP SETRIP Menggali Bahasa Visual-Sekuensial Komik

Share!

Konsep Workshop Setrip oleh Hikmat Darmawan:

Lokakarya atau workshop ini akan terdiri dari dua bagian: (1) ceramah dan diskusi tentang sejarah dan seluk-beluk komik setrip di dunia dan Indonesia, (2) praktik membuat komik dengan gramatika komik setrip yang menggabungkan gagasan komik sebagai wahana membangun dunia, dan kanvas tak-hingga (infinite canvas).

 

Komik adalah bahasa visual yang khusus: intisarinya pada watak sekuensial/jukstaposisi, dan pada watak sebagai peta waktu. Dari segi bentuk, paling tidak ada tiga bentuk utama komik yang saat ini berkembang: komik setrip, buku komik, dan novel grafis. Dalam sejarah komik modern, Rodolphe Topffer dari Swiss yang hidup sezaman dengan Goethe dianggap pelopor ketika menerbitkan komik berbentuk buku pada 1837 menerbitkan Histoire de M. Vieux Bois (pada 1842, buku sekuensial-visual ini diterbitkan di Amerika dengan judul The Adventures of Obadiah Obduck, terjemahan Benjamin Franklin). Tapi, di Inggris, Prancis, Jepang, dan terutama Amerika pada akhir abad ke-19, pertumbuhan komik modern didominasi oleh relasi bahasa visual-sekuensial ini dengan sejarah media massa (yakni terbitan kala untuk massa, berupa koran dan majalah). Dan bentuk komik yang sangat khas serta dominan di terbitan berkala hingga pertengahan abad ke-20 adalah komik setrip. Di Amerika, misalnya, komik setrip seperti Yellow Kid, Tarzan, Krazy Kat, Orphan Annie, hingga Peanuts bisa merengkuh jutaan pembaca setiap hari. Komik setrip di majalah seperti Spy vs. Spy di Mad Magazine, Coki si Pelukis Cepat di majalah Hai, atau Storm di majalah Eppo juga menjadi bagian penting subkultur budaya popular di berbagai Negara. Komik berbentuk buku pun pada mulanya lebih banyak merupakan keturunan langsung dari komik setrip, yang dibukukan. Khususnya pada periode 1940-an hingga 1950-an, dan kemudian mapan sebagai bentuk tersendiri dan dominan dalam sejarah komik modern. Dari kedua akar itulah, novel grafis tumbuh pesat sejak 1980-an dan mencapai era jaya pada 2000-an hingga kini. Tapi, perkembangan komik online saat ini menyumbang kembalinya sebuah rasa-estetika komik setrip yang sekaligus retrospektif dan futuristik.

 

Bentuk komik setrip juga amat penting dalam sejarah komik Indonesia sejak 1920-an hingga sekarang. Komik setrip Put On karya Kho Wang Ghie, Kissah Pendudukan Djogdjakarta karya Abdul Salam, komik-komik setrip di berkala Star Weekly dan Pantjawarna, berbagai judul komik setrip di majalah-majalah anak macam Si Kuntjung, Kawanku, Bobo, Gadis, juga di koran-koran seperti edisi Minggu harian Kompas dan lembergar Pos Kota, turut menyumbang penyusunan narasi Indonesia dalam keseharian masyarakatnya dari masa ke masa. Sayangnya, di saat akses dan ekses komik digital secara online meliputi kita, segi eksploratif seni berbahasa visual-sekuensial itu pun terpinggirkan oleh segi cari untung-cepat-kejar-tayang yang didominasi oleh pendekatan visual-sekuensial yang formulaik. Padahal, potensi komik setrip untuk menjadi wahana membangun sebuah dunia alternatif yang utuh, padu, dan lengkap adalah sebuah potensi besar untuk menyumbang pada penyusunan narasi Indonesia/dunia yang mutakhir.

 

Pelatihan akan dirancang untuk memberikan wacana interaktif dan pengalaman menggunakan bahasa visual-sekuensial secara eksploratif.

 

SESSI:

Sessi 1: Ceramah interaktif tentang sejarah dan estetika komik setrip.

Sessi 2: Praktik menciptakan sebuah dunia alternatif dengan bahasa komik setrip di sebuah bidang besar

Peralatan pelengkap:

  1. Layar dan proyektor untuk presentasi
  2. Buku rujukan “Mengapa Komik Setrip” + How to Make Comics karya Hikmat.
  3. Meja atau rak untuk menempatkan buku-buku rujukan tentang komik dan komik setrip koleksi Hikmat/Ruang Baca Pabrikultur
  4. Alat-alat Gambar

 

/ Catatan Pameran

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *