Vida Festival 2018: Berbeda Hulu Satu Muara

Share!

16 Sungai Memeluk Bekasi: Berbeda Hulu Satu Muara

John Wesley Powell, penjelajah pertama keturunan Eropa, seorang ahli bebatuan (geologis), juga seorang tentara Amerika. Pada tahun 1869, ia melakukan ekspedisi sungai selama tiga bulan, menelusuri sungai Green ke Colorado, melalui Gran Canyon. Dengan rendah hati ia mengatakan, “Kita memiliki jarak yang belum diketahui untuk dijalani, sebuah sungai yang tidak diketahui untuk dijelajahi. Apa yang jatuh di sana, kita tidak tahu; batuan apa yang menyerbu saluran itu, kita tidak tahu; dinding apa yang naik di atas sungai, kita tidak tahu, ah! Baiklah kita mungkin menduga banyak hal.”

Kita juga tidak tahu bahwa sungai Bekasi (Kali Bekasi) pada tanggal 19 Oktober 1945 dikenang sebagai peristiwa berbau luka dan air mata. 99 orang tentara Jepang disergap rakyat dan pemuda Bekasi dalam sebuah kereta yang diatur dari jauh. Kita tidak tahu, siapa yang lebih terluka, keluarga tentara Jepang, atau rakyat Bekasi yang mengalami penindasan masa pendudukan Jepang. Namun di dekat sungai Bekasi itu, saat ini ada monumen: semacam statement damai atau perayaan duka bersama?

Kita pun tidak tahu pada abad ke tiga sampai abad ke enam dayeuh Sunda Sembawa atau Jayagiri – sebutan untuk Bekasi saat itu, adalah ibukota kerajaan Tarumanagara yang memanjang jauh dari Bekasi sampai Indramayu, melewati Sunda Kelapa, Depok, Cibinong, Bogor, sampai ke wilayah Cimanuk.

Kita tidak tahu bahwa pada akhir abad ke tiga, kerajaan Tarumanagara memiliki raja besar (raja ke tiga) bernama Purnawarman yang memerintahkan rakyatnya membuat sungai Candrabhaga, dilanjutkan dengan sungai Gomati, sepanjang 6.122 tumbak panjangnya – sekitar 12 km, dimulaipada hari baik, petang menuju malam tanggal 8 bulan Phalguna (Februari-Maret), dan selesai pada tangggal 13 siang yang mendung di bulan Caitra (maret-April). Konon, selamatan sungai itu menghadirkan 1000 sapi untuk disembelih.

Dua sungai cikal bakal Bekasi itu melahirkan 16 sungai yang memeluk Bekasi saat ini: Sungai Citarum, sungai Bekasi, sungai Cikarang, sungai Ciherang, sungai Belencong, sungai Jambe, sungai Sadang, sungai Cikedokan, sungai Ulu, sungai Cilemah abang, sungai Cibeet, sungai Cimangkis, sungai Siluman, sungai Serengseng, sungai Sepak, dan sungai Jaeran.

Kita tidak tahu, dari dongeng nenek sebelum tidur, bahwa sungai Bekasi dibuat oleh seekor ular yang meliuk, dengan dibantu burung yang mematuk-matuk bibir sungai, melingkari Bekasi, agar tetap hangat dan baik.

Powell benar, kita tidak tahu, dan hanya menduga. Namun, sungai itu ada menjadi saksi setiap peristiwa. 16 sungai yang hadir dan mengalir tak penting lagi berasal darimana, namun kemana sungai itu berlabuh, tetap saja laut!

Kita tidak tahu laut yang mana, namun kita tahu, di laut segala perbedaan sungai tak penting lagi, ia sudah menjadi ombak, badai, landai, dan tenang. Laut tahu dari perbedaan sungai ia berikan perbedaan tanda, sebelum ikan itu bernama.

Kini tahun 2018. Bekasi telah menjadi tempat yang sibuk. Namun, selalu tak cukup sibuk, jika kita hanya termangu menyesali ketidaktahuan kota Bekasi. Pada saat yang sama, kita terkadang lupa bahwa menghormati kenangan, menghormati peristiwa tentang Bekasi, juga dongeng nenekmu yang merisaukan, bersama perbedaan sungaimu, membutuhkan cintamu.

Mencintai Bekasi adalah sebuah ekspresi rasa syukur, lewat karya apa saja yang kau punya. Ketidaktahuanmu tak kosong, dan bisa nyaring bunyinya bila dijadikan karya seni.

Art Program Studiohanafi,

Adinda Luthvianti

/ Kolaborasi Vida / Tags:

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *