UJICOBA

Share!

Catatan Pameran BA[KER]TAS, 7 Perupa Muda Pilihan Ugo Untoro Oleh Heru Joni Putra

Menciptakan karya seni adalah berperkara dengan keterbatasan. Kita bisa saja berada dalam kondisi “kelebihan” material tapi dengan “keterbatasan” banyak hal, entah itu gagasan penciptaan, daya kreatif, atau apapun itu. Dalam kondisi seperti itu mungkin kita hanya menghasilkan pengulangan belaka, hanya meneruskan—baik dalam bentuk penyederhanaan, perumitan, atau sekedar pencampuran—dari apa yang sudah dikerjakan orang-orang terdahulu. Kita ibarat sedang merayakan hasil kerja orang lain dalam bentuk yang disesuaikan dengan kemampuan kita sendiri. Tapi, mungkin bagi sebagian seniman yang sangat mendukung gagasan “berakhirnya segala hal,” ketika segala pencapaian terbaik dianggap sudah milik generasi terdahulu, maka bagi mereka seniman hari ini cukup dengan merayakannya saja, dengan suatu dan lain cara.

Namun hal itu bukanlah lagu bersama yang dilantunkan semua seniman di semesta penciptaan karya seni. Masih banyak seniman yang masih percaya dengan “kebaruan” dan tak henti-henti menggali dan menguji gagasan demi gagasan, mencari sebuah jarum-penciptaan dalam tumpukan jerami-kebudayaan, menawarkan “penemuan demi penemuan”. Seniman yang memiliki “kelebihan ” ide adalah seniman yang gemar mencari “keterbatasan”, terutama dari karya pendahulu, sebab dengan mengetahui segala “keterbatasan” tersebut, di sana mereka mendapatkan celah untuk menawarkan “kebaruan”, suatu ikhtiar untuk tidak terlalu pesimis pada kejayaan masa lalu.

Bila dua contoh tersebut sering diposisikan sebagai dua titik ekstrim dalam modus penciptaan seni, di mana yang pertama menunjukkan ketidakpercayaan pada kebaruan sedangkan yang kedua menunjukkan sikap sebaliknya, maka pada kondisi kekinian tampak keduanya tidak lagi berseberangan sejadi-jadinya, melainkan telah bercampur-baur menjadi suatu gejala tersendiri, mungkin semacam “kegamangan kreatif”, di mana para seniman muda hari ini tak berada dalam posisi memilih salah satunya, melainkan keduanya hadir di saat bersamaan, suatu gejala yang mungkin khas untuk negara yang belum sepenuhnya menjadi “modern” tapi sudah lelah dengan “pascamodern”.

Dalam kondisi seperti itu, saya kira, salah satu hal paling mungkin dilakukan seniman muda adalah memposisikan seni sebagai ujicoba—sebelum jauhjauh bicara soal pencapaian terbaik atau sebelum terlalu terburu-buru mengatakan seni tak ada gunanya sama sekali. Pameran ba[ker]tas ini saya kira adalah sebuah usaha untuk memposisikan karya seni sebagai ujicoba. Lima perupa muda dalam pameran ini mencoba berkarya menggunakan kertas ketika kertas sudah mulai ditinggalkan; dengan begitu mereka sedang menguji apakah masih mungkin menciptakan karya dengan kertas saat ini dan kemungkinan seperti apa yang masih bisa dimunculkan. Apakah sebuah buku catatan sehari-hari, masih bisa kita maknai lebih luas dan dalam dari fungsi dasarnya? Apakah sebuah diorama bisa membicarakan hal yang lebih panjang daripada yang apa yang diembannya selama ini? Apakah material sederhana dalam hidup kita seperti amplop, sobekan kertas, dan karton masih bisa menceritakan hal yang justru tidak sederhana? Apakah kita masih mungkin menemukan batas yang lain dari kertas?

Selain itu, para perupa muda itu juga mencoba melakukan pameran dengan cara berproses bersama (dari berdiskusi, membuat konsep, sampai mempromosikan bersama) ketika kehendak untuk mencari diri sendiri sedang naik; dengan begitu mereka sedang menguji apakah masih mungkin membuat “pameran bersama” tanpa sekedar berarti “memamerkan karya di ruangan yang sama” atau sekedar menjadi “bersama” karena disudah dikonsep oleh orang di luar mereka terlebih dahulu agar berada dalam “isu yang sama”. Apakah seni rupa masih membutuhkan “sidik jari” para pelukisnya? Apakah mungkin nanti kita menciptakan karya atas nama bersama dan menghilangnya “ke-aku-an” senimannya? Apakah makna pameran bersama bisa terus kita perluas sampai sampai terakhirnya? Mengapa menjadi “anonim” masih mustahil dalam arena seni rupa kita? Dan seterusnya.

Suatu ujicoba, dengan begitu, dapat berarti sebagai suatu ikhtiar untuk menjauhkan diri dari pesimisme akut dan juga tak ingin terjebak pada ambisi yang berlebihan. Barangkali hal itu berguna bagi sesama seniman muda. Dengan memperbanyak ujicoba maka dengan sendirinya kita sedang bersikap lebih hatihati terhadap begitu banyak konstruksi sosial yang sudah terbangun selama ini dalam gelanggang seni kita. Konstruksi tersebut bisa dalam bentuk dikotomi yang sudah dianggap wajar bahwa karya kertas sudah tidak berarti lagi; maka dengan ujicoba kita berusaha memeriksa konstruksi tersebut. Konstruksi tersebut bisa dalam pandangan lumrah bahwa pameran tunggal 15 lebih bergengsi daripada pameran bersama; maka dengan ujicoba kita berupaya untuk menelisik apakah benar selalu begitu. Lagi, konstruksi tersebut bisa juga berbentuk bahwa modus kolaborasi dalam penciptaan seni menghilangkan kekuatan pribadi atau gaya sendiri dalam karya kita; maka dengan ujicoba kita berusaha meragukan paradigma tersebut, atau mungkin ingin mempertanyakan seberapa penting gaya-pribadi dibanding gaya-bersama dalam sebuah karya seni. Dan seterusnya.

Sebagai generasi ke sekian dalam perkembangan seni rupa, begitu luas semesta konstruksi yang diwariskan ke seniman muda, tak habis-habis untuk diangkat tinggitinggi, yang diam-diam mempengaruhi cara kita melihat kenyataan hari ini. Oleh sebab itu, seni sebagai ujicoba akan terus menelisik kembali segala bentuk kelumrahan yang ditularkan kepada kita sekarang, jangan-jangan “kebebasan kreatif” yang kita punyai sekarang justru telah diberi batas-batas tertentu: Jangan-jangan ketika sudah merasa keluar dari satu tempurung, kita sebenarnya hanya sedang terkurung dalam tempurung yang lebih besar dan lebih luas, tapi kita terlanjur sering menunduk dan tak sempat mencoba dan menguji untuk melihatnya.

Tentu dalam suatu ujicoba akan jadi tergesa-gesa bila kita bicara soal tujuan pasti, seperti apa yang ingin dibuat setelah konstruksi tersebut disibak dan juga sebaliknya terlalu sia-sia bila kerja ujicoba hanya diartikan sebagau tindakan meragukan segala-galanya. Suatu ikhtiar ujicoba adalah sebuah gelanggang yang sangat luas, sebuah hamparan yang tak mudah ditempuh dalam satu dua langkah, sebuah kesabaran yang langka, ketika banyak yang terlalu terburu-buru mencari perbedaan dari orang lain, ketergesaan menunjukkan atau mungkin memaksakan 16 “keunikan”. Suatu ujicoba adalah suatu keinginan tak terbatas untuk menggali visi, meraba-raba titik-pijak untuk membayangkan masa depan, suatu acuan untuk mereka-reka penciptaan seni selanjutnya, ketika banyak yang merasa sia-sia dengan “kebaruan”.

 

/ Catatan Pameran

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *