Ugo Untoro: Cinta, Keberanian dan Pascakolonial

Share!

Pada 23 Maret hingga 22 April yang lalu, Ugo Untoro mengadakan pameran tunggal berjudul Marang Ibu di Galeri Kertas, Studio Hanafi, Depok. Pada salah satu kesempatan di dalam perhelatan itu, Jurnal Karbon sempat mencuri waktu Ugo Untoro untuk berbincang-bincang. Kami ditemani juga oleh Hanafi di dalam perbincangan tersebut. Di bawah ini adalah transkip diskusi tersebut.

Kami berbincang-bincang beberapa jam setelah kegiatan diskusi antara Ugo Untoro dengan mahasiswa seni rupa ISBI Bandung. Tak pelak, perihal diskusi itulah yang pertama-tama menjadi topik perbincangan kami.

Hanafi: Orang yang mempelajari ilmu terapan susah sekali paham seni murni, kenapa? Padahal itu satu kesatuan kerja.

Jurnal Karbon: Ini konteksnya dengan diskusi tadi? Kesimpulannya kenapa?

Hanafi: Ya, mereka seperti punya patokan-patokan “harus”. Indah itu ‘ini’. Bagus itu ‘begini’. Jadi, susah dibongkar. Jadi, tadi kami coba membongkar itu. Tugas kita itu, merenovasi. Bongkar, terus nggakdibiarkan.

Ugo Untoro: Kriteria pertama bagiku itu keberanian, eksplorasi dan ide.

Jurnal Karbon: Ugo bicara tentang keberanian. Apakah maksudnya di sini keberanian untuk mencari “siapa aku.” Semacam pencarian persona atau identitas. Atau apa sebenarnya maksudnya?

Hanafi: Itu cara melihat objek yang spesifik “kamu” itu yang mana. Jangan menjadi umum. Seperti sebuah pendalaman suatu objek, misalnya.

Jurnal Karbon: Mungkin karena mahasiswa tadi itu mahasiswa seni terapan?

Ugo Untoro: Kalau terapan, apa tidak punya hak untuk mengeluarkan ide pribadi?

Jurnal Karbon: Berarti problem mereka sebetulnya apa?

Ugo Untoro: Problem mereka, saya pikir, belum punya keberanian.

Hanafi: Mereka menjadi orang kebanyakan.

Ugo Untoro: Celakanya, mereka hanya akan jadi tukang. Kalau jadi tukang, mereka sudah senang, tidak masalah. Tapi, kalau mereka masih punya obsesi yang lebih dari itu, barulah jadi problem.

Jurnal Karbon: Apa salah satu problemnya adalah sekolah yang membuat mahasiswa kurang berani?

Ugo Untoro: Sekolah, kan sebenarnya memberi dasar-dasar. Kalau mereka punya niat yang lebih, seharusnya mahasiswa belajar ke luar. Mencari pengalaman ke sini, atau ke mana. Soalnya, kalau melihat wajah-wajah mereka, sepertinya bersih-bersih. Kurang belajar di luar begitu.

Jurnal Karbon: Kalau Ugo dulu belajar ke luar ke mana?

Ugo Untoro: Aku? Ya, dari pelacuran, Malioboro. Banyak. Kalau di zamanku sekolah di ISI, namanya Pasar Kembang. Kita, teman-teman, dulu berkumpul untuk menangkap suasana. Paling minum-minum di sana dan mendengarkan obrolan pekerja seks itu karena cenderung lucu. Itu yang kita tangkap sebenarnya.

Jurnal Karbon: Kalau seandainya generasi sekarang berpikir, “Untuk apa belajar keluar? Sekarang sudah ada Internet, tinggal beli kuota, selesai.” Bagaimana kalau begitu?

Ugo Untoro: Ya, itu yang membikin wajah mereka steril.

Jurnal Karbon: Apa itu sebuah problem?

Ugo Untoro: Ya, problem juga. Karena mereka hanya belajar visualnya.

Jurnal Karbon: Memang intinya apa, selain keberanian tadi itu? Misalnya, para seniman street art, mereka sering mengikuti perkembangan Banksy melalui Internet, lalu mulai bikin karya-karya seperti Banksy.

Ugo Untoro: Mereka kan hanya belajar tentang sensasinya. Mereka harus tahu cara berpikir Banksy. Kenapa Banksy bisa jadi seperti itu?

Jurnal Karbon: Banksy bisa muncul begitu karena ada lingkungan tertentu di sana yang menjadi prakondisinya. Kalau diadaptasi ke dalam lingkungan Indonesia, bagaimana?

Ugo Untoro: Ya, seniman harus paham lingkungan asalnya.

Jurnal Karbon: Jadi, problemnya sekarang seniman kurang memahami lingkungan asalnya?

Ugo Untoro: Ya, begitu.

Jurnal Karbon: Kalau medium lukisan sendiri, menurut Ugo, bagaimana? Apakah sudah selesai? Apakah masih punya masa depan?

Ugo Untoro: Ya, ada yang bilang author is deadpainting is dead. Sebenarnya, banyak yang salah mengartikan itu. Seperti kalau kita bicara tentang Buddha, hidup adalah penderitaan, hidup adalah duka. Yang sebenarnya, hidup itu mengandung duka, bukan hidup itu adalah duka.

Hanafi: Kalau itu ditanyakan ke saya, seandainya lukisan sudah mati. Ya, tinggal hidupkan lagi.

Jurnal Karbon: Apakah, kalau begitu, setuju bahwa lukisan sudah mati?

Hanafi: Setuju, tapi saya tinggal menghidupkannya lagi. Itu kan sebuah kesepakatan yang ditawarkan. Kalau saya tidak sepakat? Orang boleh-boleh saja mengatakan abstrak sudah mati, sekarang muncul lagi, seakan-akan di belakang… Saya lain, kok, bukan yang dulu. . .

Ugo Untoro: Author is dead, katakan. Si A menulis buku ini, isinya begini, begitu… Ya sudah, sebetulnya penulisnya sudah nggak perlu. Yang perlu itu karyanya. Penulisnya itu bisa saja sudah mati.

Hanafi: Analoginya Ugo lebih sopan.

Jurnal Karbon: Ugo kan menulis buku kumpulan cerpen, Cerita Pendek Sekali. Bagaimana menurut Ugo tentang karya cerpen itu? Apakah itu sastra?

Ugo Untoro: Aku sih nggak peduli itu mau dianggap sastra atau apa. Yang penting, aku suka menulis.

MARANG-IBU-1

Jurnal Karbon: Apa bedanya untuk Ugo, antara ekspresi cerpen dan medium visual lain, seperti lukisan, misalnya?

Ugo Untoro: Bagiku, seni itu adalah bahasa. Aku mau menyampaikan sesuatu, aku mau bicara dengan orang lain, aku harus pilih bahasa yang paling tepat. Aku bicara sama orang yang wawasannya sekian, nggak mungkin aku ngomong tentang Stephen Hawking. Walaupun aku ngomong tentang Stephen Hawking, tapi aku akan cari bahasa yang akan mudah dipahami orang. Jadi, mungkin akan terjadi lewat tulisan, lewat visual, atau lewat apa. Bukan berarti dengan begitu ketika membikin karya, yang terbayang pertama kali adalah pemirsa. Aku pilih sesuatu yang paling cocok antara ide dan bentuk. Bentuk apa yang paling pas dengan ide saya? Paling tidak mendekati lah. Maka dari itu, sepertinya aku tidak terlalu setuju dengan styleStyle itu, buat aku hanya mengikuti.

Jurnal Karbon: Dalam pameran di Galeri Kertas ini kan kami banyak temukan kata-kata yang kuat. Sehingga, kami menyimpulkan Ugo punya kemahiran berbahasa di atas rata-rata. Menurut Ugo sendiri adakah hubungan antara sastra dan cabang seni lain? Antara kata-kata dan seni performans, misalnya. Atau antara kata-kata dengan seni lukis.

Hanafi: Itu pertanyaan jebakan sepertinya. Kesepakatan bahwa sesuatu itu sastra atau bukan sepertinya ada di tangan kamu (Jurnal Karbon).

Ugo Untoro: Aku suka menulis dari kecil. Cita-cita jadi pelukis sebenarnya baru ada ketika aku kuliah di ISI. Sebelumnya aku ingin jadi komikus, ingin jadi penyair. Ingin jadi novelis, ingin jadi wartawan. Atau, malah, sempat ingin jadi arkeolog dan sebagainya. Kalau aku lihat, memang karya seni sekarang kehilangan sisi puitisnya.

MARANG-IBU-2

Jurnal Karbon: Mengapa begitu?

Ugo Untoro: Aku lihat gejalanya sejak reformasi. Ketika semuanya bebas bicara secara vulgar. Ditambah lagi ada demistifikasi kata atau bahasa yang mungkin dulu oleh beberapa oknum konotasinya negatif. Tetapi sekarang sudah tidak lagi demikian. Bukan berarti puitis itu bahasa-bahasa yang seperti Sutan Takdir Alisjahbana, bukan seperti Ebiet. Itu bukan berarti seniman sekarang harus menggunakan bahasa yang melambai-lambai. Bukan. Puisi sekarang harus beda. Tapi, perbedaan itu juga tidak aku tangkap. Tidak ada puisi dalam karya seni. Bahkan jauh lebih miskin ketimbang dulu. Mereka bercerita tentang cinta, misalnya. Katakanlah lagu atau syair-syair lagu kan dangkal sekali. Mereka mengartikan cinta seperti itu. Bahkan sebelum si penyanyi melanjutkan bait selanjutnya, kita sudah tahu.

Jurnal Karbon: Apa itu ada hubungannya dengan kematian cinta dalam tema-tema puisi?

Ugo Untoro: Itu karena kemiskinan kita mengartikan cinta. Kita tahunya cinta selalu antara laki-laki dan perempuan.

Jurnal Karbon: Kalau begitu, tolong definisikan cinta dalam kata-kata Ugo. Mungkin harus dituang lagi agar bisa mendefinisikan cinta… Ugo kerja pakai cinta, kan? Berarti, apa itu cinta?

Ugo Untoro: Cinta itu sesuatu yang indah, juga sakit, mungkin bisa bikin mati juga. Ya, itulah cinta. Sebetulnya, aku masih curiga, sebelum bangsa kulit putih datang ke sini, cinta di sini itu seperti apa, aku belum terbayang. Kalau cinta menurut orang kulit putih kita sudah tahu lah, seperti itu. Aku ingin tahu, sebelum ada orang kulit putih, cinta buat kita itu seperti apa.

Jurnal Karbon: Sepertinya, kalau dilihat dari gambar-gambar yang ada di pameran, ada kesan bahwa Ugo tertarik dengan hal-hal yang ada sebelum kedatangan mereka (orang kulit putih). Hal ini bisa dilihat ketika Ugo menggambarkan perahu-perahu asing lempar sauh di cakrawala.

Ugo Untoro: Karena ada isu pascamodern dan ada isu kontemporer dan seterusnya. Ada nilai-nilai lokal yang semestinya kita tahu. Artinya begini, aku punya pikiran, atau mungkin bayangan, ketika sebuah tumbal, katakanlah, ketika kita melihat suku Inca, misalnya, yang harus disembelih. Kita melihatnya sebagai sebuah kekejaman. Kita tidak tahu, apakah di zaman Inca itu hal yang semacam itu kekejaman atau bukan. Mungkin yang dipenggal itu antre untuk dipenggal. Contoh yang paling dekat dengan kita, katakan, Majapahit. Kenapa sampai sekarang situs Majapahit itu tidak ditemukan? Di mana sebetulnya pusat pemerintahan Majapahit itu? Tidak ada. Tidak ditemukan. Karena itu adalah pandangan Barat. Bahwa sebuah kerajaan mesti memiliki istana tempat memerintah. Mungkin di Majapahit tidak ada sistem seperti itu.

Jurnal Karbon: Jadi, menurut Ugo, pandangan Barat yang dipaksakan untuk kita adalah sebuah masalah?

Ugo Untoro: Ya. Sebenarnya, pandangan pascamodern dan kontemporer sangat membantu dalam memahami hal-hal semacam ini. Tapi, sayangnya masih sekadar wacana. Wacana terus. Karena semuanya tidak lepas dari modal. Kekuasaan juga.

Jurnal Karbon: Sejak kapan Ugo tertarik dengan hal-hal seperti ini? Hal-hal yang bersangkutan dengan kondisi pascakolonial atau bahwa sebenarnya pemahaman kita dikonstruksi oleh bangsa Barat.

Ugo Untoro: Sejak kecil. Karena aku tertarik dengan komik-komik Jan Mintaraga dan S. H. Mintarja. Sebenarnya aku paling tertarik sama kehidupan-kehidupan zaman itu. Kenapa, misalnya, pohon disembah. Ada Roro Kidul, katakanlah. Apa sebenarnya latar belakang kita menciptakan mitos semacam itu? Sebenarnya mitos itu fungsinya kan untuk menjaga. Kenapa pohon disembah, batu disembah? Karena orang kita sebenarnya sudah tahu, semua itu punya energi. Mereka itu hidup juga. Tapi, mereka kan tidak punya pemikiran ilmiah seperti orang Barat. Jadi, cara kita, ya, seperti itu. Dan, untuk orang modernis, hal semacam itu takhayul. Atau bahkan, bodoh. Mereka (orang Barat) akhirnya main tebang saja. Ketika muncul teori-teori pascamodern, mereka (orang Barat) akhirnya menggali itu.

Ugo-Untoro-2-1-1024x680

Jurnal Karbon: Menurut Ugo, upaya penggalian mereka sudah baik atau belum?

Ugo Untoro: Baik, sih, baik. Tetapi akhirnya kita masih kalah dengan kekuasaan itu tadi.

Jurnal Karbon: Mengenai asal-usul, mungkinkah, kita sebagai bangsa yang pernah dijajah mencari kembali jati diri kita sebagai bangsa agar bisa ke depannya maju sesuai dengan logika kita sendiri, terlepas dari segala jenis pembaratan yang pernah terjadi?

Ugo Untoro: Semuanya serba mungkin sebenarnya.

Hanafi: Inti besarnya bukan pada ketemu atau tidaknya sebuah pencarian itu. Tapi, semangat pencarian itu harus benar.

Ugo Untoro: Seperti itulah. Kita nggak tahu nantinya, tapi kita berusaha.

Jurnal Karbon: Dan ini selaras dengan persoalan di muka kan? Bahwa seniman sekarang kehilangan identitasnya, karena selama ini sudah dibentuk oleh sekolah, misalnya.

Hanafi: Sekolah dari awal memang bermasalah. Saya menulis tentang kolaborasi saya dengan Mas Goen (Goenawan Mohamad) mengenai masalah pendidikan seni di Indonesia. Kata “bermasalah” dicoret oleh Mas Goen. Diganti dengan “berantakan.” Sardono, misalnya, melihat bahwa pendidikan sekolah seni rupa dulu yang digantikan oleh SMSR pada tahun 1979–1980 menjadi sekolah pendidikan yang agak formal. Setelah SESRI (Sekolah Seni Rupa Indonesia) dianggap terlalu bebas dan hanya menghasilkan beberapa seniman yang sampai sekarang bertahan, ternyata kalau diamati, karya-karya jebolan SESRI jauh lebih baik karena dimulai sejak usia dini. Contohnya saya. Masuk SESRI itu setelah SMP, tetapi bukan kejuruan. Dalam arti memang dipersiapkan untuk jadi seniman. Tetapi, negara melihat yang menjadi seniman terlalu sedikit, maka negara khawatir para siswa SESRI selepas lulus tidak punya pegangan, pekerjaan.

Ugo Untoro: Itu kaitannya dengan industri. Dulu pendidikan kita acuannya ke Eropa, ke Belanda. Jadi, sesuatunya memang lebih pelan. Tapi, mereka memberikan dasar-dasarnya dulu. Kalau sekarang kanpendidikan kita mengadopsi sistem Amerika, dengan kurikulum Amerika. Maka, cepat jadi, langsung kerja. Jadi, pandangan anak sekarang itu cuma lurus ke depan, tanpa dimensi-dimensi lain. Hal ini lantaran negara perlu mengatasi kenaikan jumlah penduduk. Dan itu pasti ada sebuah kontrak antara Amerika dan kita. Aku ambil contoh pendidikan Jawa, dalang, misalnya. Orang yang mau jadi dalang nyantri kepada seorang dalang. Dia tidak diajar cara pegang wayang, cara menyanyi. Dia malah diminta menyapu atau segala macam. Atau membersihkan gamelan dan lain sebagainya. Si dalang akan mengamati secara diam-diam: Anak ini cocoknya di mana? Jadi, guru dalang akan tahu tentang potensi muridnya. Proses itu terjadi pelan-pelan. Si dalang akan mengajarkan semuanya.

Hanafi: Jadi, intinya, sekolah itu sering mengganggu pendidikan.

Jurnal Karbon: Kalau begitu, apakah anda sekalian percaya dengan bakat? Adakah yang dimaksud dengan kebolehan yang sudah dibawa sejak lahir? Atau, kecakapan seseorang di satu bidang dibentuk oleh lingkungannya ataukah memang sudah ada aturannya?

Ugo Untoro: Aku yakin semuanya punya bakat. Entah menggambar, entah menulis. Semuanya punya. Kita dikaruniai itu semua. Tapi, lingkungan lah yang akan membentuknya. Karena atom-atom kita sama semua. Katakan, di sebuah rumah tempat kita dilahirkan itu, orang tua kita itu kecenderungannya apa. Kalau kecenderungannya ke musik, maka anak itu tentu akan diarahkan ke musik.

Hanafi: Tapi, pertanyaannya, “Seni itu dimengerti sebagai seni atau bukan, itu kapan?” Kita diajari sesuatu yang bukan seni atau seni. Kalau melipat kain itu seni atau bukan? Kalau membantu orang mendekorasi janur itu seni atau bukan? Kita kan baru bisa mengatakan, “Oh, berarti kita dulu diajari seni atau dulu tidak diajari seni,” sekarang ini. Setelah kita lihat kemudian. Tetapi, nyatanya kita jadi seniman.

Jurnal Karbon: Oke, kembali lagi ke masalah tadi. Jiwa-jiwa petualang itu sekarang hampir punah, ya? Atau mungkin sekarang semua itu bisa didapat dari Internet? Kalau Ugo melihat Internet dan teknologi itu bagaimana?

Ugo Untoro: Sayangnya, generasi sekarang hanya melihat visualnya saja, hanya teknisnya saja.

Jurnal Karbon: Teknik itu apa?

Hanafi: Sekarang orang melihat teknik itu sebagai tujuan, sedangkan menurut saya, teknik itu adalah sarana untuk mencapai tujuan. Banyak orang mampu di bagian teknis, tapi, tidak tahu mau dibawa ke mana. Jadi, punya kendaraan saja, tapi tidak punya tujuan.

Ugo Untoro: Aku nggak setujunya banyak orang yang bilang kemajuan, kecepatan, media sosial sekarang ini menjadikan generasi sekarang lebih maju. Seni rupa kita berkembang pesat. Padahal tidak. Kemarin aku ditunjukkan oleh Afrizal gambar-gambar Venice Biennale. Mereka menggarap tema Faust. Itu kansudah tema lama sekali. Tapi, itu digarap lagi dengan canggih. Aku melihatnya begini: Seakan-akan semua sudah menjual jiwanya kepada iblis. Itu kan cara berpikir baru. Kalau kita melihat itu melalui Internet, kita kan hanya melihat tekniknya. Kita belum mempelajari cara berpikirnya.

Jurnal Karbon: Berarti, Ugo, kalau berkarya prosesnya lama, ya? Segala sesuatu harus didalami terlebih dahulu, diteliti tuntas.

Ugo Untoro: Ya, harusnya seperti itu. Sekarang semua itu hilang. Katakan aku punya style dekoratif. Kalau sistem pendidikan dulu, aku harus tahu semuanya dulu. Paling tidak permukaannya aku harus tahu. Kalau sekarang tidak begitu. Dari awal sebelum masuk sekolah seni, si A suka menggambar vignette, katakan. Dosen seni sekarang kan rata-rata juga tidak bisa melukis, tokh… Waktu dia melihat seorang mahasiswa yang bisa menggambar vignette bagus, dia akan bilang, “Teruskan!” Dia tidak memberi contoh-contoh lain kepada murid itu. Jadi, vignette-nya, akan begitu saja terus. Kering, tanpa roh. Misalnya, contoh, kalau aku menggambar abstrak. Aku harus dapat arahan untuk melihat karya-karya lain di luar abstrak. Sampai aku memilih ini, setelah banyak melihat yang lain. Jadi, ada roh-roh lain yang masuk, tidak hanya lurus saja. Kalau sekarang, lurus saja.

Jurnal Karbon: Bicara tadi mengenai industri, bagaimana, menurut Ugo, keadaan industri saat ini? Tadi sempat disinggung mengenai tuntutan pemerintah untuk mencetak banyak orang untuk memenuhi kebutuhan industri. Misalnya, sekarang banyak kampus menawarkan perkuliahan Desain Komunikasi Visual. Persoalan lama yang sekarang mengemuka lagi kan salah satunya adalah industri budaya. Bagaimana Ugo menanggapi peristiwa ini?

Ugo Untoro: Sekarang, perguruan tinggi atau sekolah sudah menjadi industri. Soal industri budaya, itu memang sudah lama. Ya, untungnya ada seniman yang menjaga itu.

Jurnal Karbon: Berarti, kita harus cium tangan Ugo untuk berterima kasih sebagai seniman penjaga budaya.

Ugo Untoro: Artinya begini, kita ambil contoh di Bali. Untuk membuat sebuah patung, dulu proses membikinnya berbulan-bulan, karena tujuannya bukan untuk turis. Tapi, untuk hal spiritual. Tapi, ketika turis masuk, patung itu bisa dibikin dalam satu hari. Jadi, sudah kehilangan rohnya. Itu sudah menjadi industri. Dan itu didukung pemerintah. Artinya, silahkan saja bagi mereka-mereka yang ingin terjun ke dalam industri tersebut. Tetapi, pemerintah seharusnya melindungi orang-orang yang masih setia dengan sistem itu. Yang dilakukan selama ini oleh pemerintah masih kurang. Wayang kulit yang seharusnya semalam suntuk akhirnya dipotong menjadi dua jam saja. Bagaimana itu?

Jurnal Karbon: Dari tadi Ugo bicara mengenai roh. Apa artinya roh untuk Ugo?

Ugo Untoro: Roh itu, menurutku, alam semesta ini. Ego itu dalam sebuah ajaran Timur kan tidak ada. Yang ada adalah alam semesta, yang punya roh. Kita berusaha untuk menghadirkan itu. Ya, itu sebenarnya yang bersifat keilahian. Kalau itu sudah tidak ada, sebetulnya kita sudah lari dari ilahi.

????????????????????????????????????

Jurnal Karbon: Seandainya Ugo suka dengan pelukis Barat, misalnya, Picasso. Orang-orang Barat itu kantidak mengerti roh. Bagaimana menurut Ugo?

Ugo Untoro: Siapa bilang? Mereka mengerti roh tapi dengan cara yang lain dengan kita. Mereka mencari roh dengan nalar. Kalau kita dengan rasa. Itu perbedaannya. Jadi, ketika memasuki zaman renaisans, ketemu bahwa manusia memiliki ego, ada “saya,” intelegensi, rasio, dan lain sebagainya, sebenarnya kita sudah ada yang seperti itu. Namanya rasa. Orang Barat menganggap kita orang bodoh. Itu karena perbedaan cara berpikir saja.

Jurnal Karbon: Ugo sendiri apakah kesal dengan orang Barat yang mengatur ini itu?

Ugo Untoro: Nggak juga. Itu terserah mereka.

Jurnal Karbon: Ugo, pernah debat sama orang Barat?

Ugo Untoro: Pernah. Aku bilang “Do you want to make love with me?

Jurnal Karbon: Yang diajak debat perempuan?

Ugo Untoro: Ya, perempuan. Sebetulnya kita punya logika sendiri yang berbeda dengan orang Barat. Orang Barat mencari dengan memecah dan mengkotak-kotakkan. Mereka mencari apa itu dunia, apa itu bumi dengan cara menghancurkan. Mereka mau tahu apa itu pohon, mereka tebang dan bawa ke laboratorium. Kalau kita tidak begitu. Cara kita lain. Masalahnya, pemerintah sekarang mendukung pembaratan itu. Misalnya melalui pendidikan tadi.

Jurnal Karbon: Bagaimana proses Ugo ketika menulis Cerita Pendek yang Pendek Sekali?

Ugo Untoro: Mungkin aku tidak lepas dari karya rupa. Karena aku mencari cara yang paling singkat, paling jitu. Sniper lah, katakan. Untuk apa banyak simbol-simbol?

Jurnal Karbon: Cara yang ekonomis, ya?

Hanafi: Tidak juga selalu begitu. Di dalam karya juga ada pesona. Artinya, yang pesona ini kan tidak dibangun dari yang ekonomis. Ya, apa artinya karya tanpa pesona?

Jurnal Karbon: Artinya, selama karya menuntut bentuk tertentu, maka sesuatu itu boleh dilakukan?

Hanafi: Karya tidak pernah menuntut apa pun. Tetapi, kita senang dengan cara jitu. Jitu ini setiap kali berubah bangunannya. Dalam arti, tidak selalu hapalan, tidak menjadi rutin. Yang bisa ditemukan dari karya ke karya itu tidak sama. Kadang-kadang mengutamakan pesona, kadang-kadang tidak perlu pesona. Kadang-kadang perlu jitu, kadang-kadang kita perlu bermain-main.

Ugo Untoro: Kita harus memilih bahasa yang paling tepat. Seperti itu.

Jurnal Karbon: Balik lagi ke masalah simbol. Ugo tadi bilang tidak mau mubazir simbol. Apakah dalam berkarya Ugo senantiasa memerhatikan efektivitas simbol? Selain itu, apakah, menurut Ugo, karya-karya yang mubazir simbol adalah karya yang buruk?

Ugo Untoro: Kalau aku begitu. Orang lain belum tentu sama.

Jurnal Karbon: Terkait dengan proses kekaryaan, tadi Ugo sempat bicara mengenai cinta. Bahwa cinta itu sakit. Bagaimana sebenarnya proses kerkayaan Ugo sehingga bisa mendapatkan simbol-simbol yang tepat? Apakah dengan menghayati proses sakit, senang, dan seterusnya?

Ugo Untoro: Sebenarnya seni itu berbagi. Kalau kita menyampaikannya tepat, dengan hanya bahasa yang sedikit dan itu bisa diterima, buat saya itu lebih berhasil. Berarti saya berhasil. Seni buat saya adalah pendalaman, pencarian sesuatu yang hakiki. Ada inti dan ada proses reduksi di situ. Artinya, kalau ada sesuatu yang tidak perlu, aku buang.

Jurnal Karbon: Kalau begitu, apabila seni adalah pendalaman, pencarian sesuatu yang hakiki, berarti ada proses atau perjalanan dalam rentang kekaryaan Ugo. Apabila ada seseorang baru mengenal karya Ugo, apakah ia bisa memahami karya seutuhnya, mengingat tadi, karya terakhir adalah titik paling mutakhir dari pencarian Ugo akan sesuatu yang hakiki itu?

Ugo Untoro: Ya, terserah saja. Bagaimana cara orang itu mendekati karya, apakah ia ingin mempelajari karya saya.

Jurnal Karbon: Jadi ada tuntutan juga sebenarnya bagi pemirsa, ya?

Ugo Untoro: Seni itu kan sebenarnya mengajak. Kita belajar. Artinya, bukan si seniman itu lebih pintar. Lebih bersifat ajakan.

Jurnal Karbon: Apakah konsep ajakan ini sudah Ugo pahami sejak awal berkarya atau bagaimana?

Ugo Untoro: Ya, tidak dari awal. Ada prosesnya juga. Sebenarnya seniman, kan, menciptakan simbol personal. Misalnya, van Gogh, yang hidupnya berat, menggunakan warna-warna yang cerah. Itu kansimbol personal. Artinya, kita jangan dengan mudah percaya bahwa van Gogh hidupnya sengsara. Dia sebetulnya bahagia, dia tidak kesusahan.

Jurnal Karbon: Kalau menurut Ugo, apakah seniman dan persona dapat dipisahkan. Atau apakah seniman identik dengan personanya?

Ugo Untoro: Tidak bisa. Apakah kita bisa melompat menjadi orang lain? Siapa pun tidak bisa. Aktor yang sangat hebat sekalipun.

Jurnal Karbon: Berarti kita bisa melihat “diri” seorang seniman dari karyanya. Kalau begitu, apa arti Marang Ibu bagi Ugo?

UU

Ugo Untoro: Awalnya memang dari sesuatu yang personal. Sebelum ayah saya meninggal, saya jarang sekali pulang kampung menengok orang tua. Ketika ayah saya meninggal, tinggal lah saya anak laki-laki. Karena adik saya yang laki-laki sudah meninggal, ibu saya perlu teman. Dia mungkin merasa saya adalah gambaran bapak, paling tidak pengganti bapak. Saya jadi rutin pulang dan akhirnya itu menjadi sesuatu yang, bukan tugas, saya anggap sebagai tanggung jawab. Dari situ berkembang menjadi sebuah ide. Ide yang dekat, yang sangat saya pahami, saya rasakan. Akhirnya berkembang menjadi ibu yang tidak lagi personal sebagai ibu saya, tetapi, ibu bisa berarti tanah, rumah, Bumi, atau bahkan dalam arti lain, pulang, kepulangan. Ketika saya sudah berjalan terlalu jauh, tersesat, atau bingung, saya harus pulang, kembali melihat diri saya sendiri.

Jurnal Karbon: Sepertinya ada sebuah tema besar dalam kehidupan Ugo. Tadi sempat disinggung mengenai Majapahit, pencarian jati diri bangsa, pencarian fondasi. Ada kegelisahan apa, tatkala Ugo, sepertinya selalu mencari asal usul?

Ugo Untoro: Kaitannya dengan contoh tadi mengenai generasi sekarang yang seperti generasi mengambang.

Jurnal Karbon: Menanggapi generasi yang mengambang tadi, menurut Ugo, seniman muda harus apa?

Ugo Untoro: Mereka harus sadar bahwa mereka hidup di masa sekarang. Jangan membandingkan dengan zaman saya. Atau dengan yang akan datang. Mereka bisa saja membandingkan dengan zaman lain, ya, tapi nanti karyanya akan mengambang lagi. Seniman sekarang harus menangkap fenomena-fenomena sekarang ini.

Jurnal Karbon: Bicara mengenai perbandingan, siapa seniman kesukaan Ugo?

Ugo Untoro: Dari sejak SMP saya suka Sudjojono dan Nashar. Waktu SMA saya mulai mengenal Paul Klee.

Jurnal Karbon: Ada seorang kritikus sastra yang mengajukan sebuah wacana tentang keresahan atas pengaruh. Dalam hal ini, apakah Ugo merasakan kegelisahan yang sama tatkala semua yang ingin Ugo lakukan sudah dilakukan oleh seniman idola Ugo?

Ugo Untoro: Sebenarnya masih ada banyak yang belum tergarap. Mereka mungkin hanya melihat tema-tema besar saja. Yang kecil-kecil dan sepele masih banyak yang bisa digali. Katakan, yang paling gampang, film Hollywood. Mengapa mereka masih bisa mengangkat hal baru? Karena survey mereka mungkin merasuki hal kecil-kecil itu. Kita belum punya kepekaan seperti itu, kita masih berpikir secara gigantis mungkin.

Jurnal Karbon: Ugo tadi mengatakan survey dan di dunia seni sekarang ini banyak yang mengangkat “riset” artistik. Misalnya, karya berdasarkan riset atau pameran berdasarkan riset. Menurut Ugo, bagaimana kecenderungan yang muncul belakangan ini?

Ugo Untoro: Dari dulu seniman pasti punya riset. Tidak mungkin tidak riset. Saya pikir itu hanya cara menjual saja.

Hanafi: Riset itu konstruksi Barat. Cara pendekatan riset yang mengikuti Barat itu yang saya tidak setuju.

Ugo Untoro: Aku sepertinya tidak setuju dengan riset artistik. Karena sekarang pergulatan estetik makin ditinggalkan. Kebanyakan yang ada itu riset di luar estetika itu sendiri. Mereka menekankan riset ilmiah, bukan menekankan kepada seni rupanya. Cara berpikir budaya kita sebetulnya holistik. Ibarat rantai motor, orang Barat akan mengambil satu bagian untuk dibawa ke laboratorium dan diperiksa. Riset yang dikenal oleh bangsa kita sebenarnya adalah riset holistik. Kita sebenarnya masih gagap dengan riset dan segala macamnya.

Jurnal Karbon: Dari tadi Ugo menggunakan istilah pulang, atau paling tidak ada keresahan tentang asal usul. Mengapa hal tersebut (tradisi) tidak muncul dalam kekaryaan Ugo? Atau, bagaimana Ugo mengartikulasikan tradisi dalam bentuk karya?

Ugo Untoro: Ya, aku kan tidak mungkin menggunakan tradisi secara verbal. Kembali lagi kepada roh, sebenarnya. Mengapa dulu orang Jawa mengatakan tidak boleh makan di pintu, misalnya. Tidak mungkin aku menggambar orang makan di depan pintu! Aku cari ada apa sebenarnya di balik larangan itu. Rupanya, pintu itu adalah tempat masuk beraneka rupa energi. Itulah yang aku ambil. Mungkin yang terjadi sekarang adalah penggambaran verbal melalui riset tersebut.

Hanafi: Dulu orang Jawa tidak pernah berani memisahkan antara tata dan krama. Yang ada sekarang hanyalah krama atau cara-cara saja. Era saya dulu seperti itu: Masih menginginkan ada tata di dalam cara. Era yang kita hadapi sekarang sudah melepaskan tata dari cara, atau sebaliknya. Kalau dalam dunia akademik, tata itu bisa dibilang konsep. Cara adalah tindakan atau praktik. Tapi, dunia modern mengajarkan kepada kita, kalau kita mau berpikir, tinggalkanlah tindakan. Karena kita tidak bisa benar-benar berpikir sambil bertindak, begitu juga sebaliknya. Ini jahat. Karena dalam kebudayaan kita, berpikir dan bertindak itu satu.

Ugo Untoro: Cogito ergo sum. Aku berpikir maka aku ada. Apa kita tidak ada sebelum berpikir? Kita ada! Penggalian kita terhadap filsafat kita sendiri sebenarnya kurang. Kita itu bangsa yang paling canggih di dunia. Coba Indonesia menutup diri selama tiga bulan, apa tidak kiamat dunia ini?

Jurnal Karbon: Bagaimana mungkin? Pasti banyak sektor-sektor perekonomian yang mati kalau kita menutup diri. Produksi dalam negeri kan pasti berlebihan untuk konsumsi sendiri. Kalau tidak dijual ke luar negeri, maka, produksi tersebut lama-lama akan rusak dan merugikan. Bagaimana itu?

Ugo Untoro: Misalkan aku presidennya, aku akan bilang, “Wahai rakyatku, kita prihatin tiga bulan, ya? Kita akan hancurkan dunia ini!” Pasti negara lain kelabakan menghadapi itu.

Jurnal Karbon: Kembali ke karya yang dipamerkan dalam Galeri Kertas, bagaimana Ugo melihat kertas sebagai medium?

Ugo Untoro: Terus terang aku ketika dihubungi satu bulan sebelum pameran, aku langsung menyatakan sanggup. Karena hubungan kertas dan aku sangat intim. Mungkin kalau kasusnya kanvas, aku akan langsung menolak. “Beri aku waktu satu tahun,” mungkin jawaban aku akan seperti itu. Saya pernah pameran tunggal kertas, karya-karya sejak SMA itu saya keluarkan.

UU_1

Jurnal Karbon: Mengapa Ugo bisa begitu intim dengan medium kertas?

Ugo Untoro: Karena aku dulu di kampung, tidak tahu apa itu kanvas. Bahkan krayon dalam acara Pak Tino Sidin itu aku nggak tahu. Aku pikir itu kapur berwarna. Aku jadi berpikir terus mengenai krayon itu. Aku juga suka wayang, boneka. Ketika muncul Si Unyil, aku keheranan. Aku sampai beli banyak permen karet untuk dikunyah dan kemudian aku pakai untuk membentuk ekspresi wajah boneka, seperti tersenyum. Padahal, kemudian aku baru tahu kalau ternyata itu ganti boneka agar bisa ganti ekspresi. Setelah itu muncul Muppet, aku sampai bikin marionet.

Jurnal Karbon: Oke, ini mungkin hal yang perlu kita perbincangkan di penghujung diskusi ini. Bagaimana kondisi seni rupa Indonesia di masa depan?

Ugo Untoro: Misalnya seniman muda meriset tentang lebah, katakanlah. Ada ratunya dan lain sebagainya. Mereka benar-benar riset. Tetapi, ketika mereka mengubahnya menjadi visual, persis sama seperti yang mereka dapatkan dari riset itu tadi. Jadi, seperti buku biologi. Tidak ada rasa lagi. Harusnya ada abstraksi.

Jurnal Karbon: Kalau seandainya itulah wajah seni rupa Indonesia masa depan, bagaimana?

Ugo Untoro: Aku percaya seni itu tetap melibatkan rasa, imajinasi, dan juga menggugah. Kalau itu semua sudah tidak ada, maka habislah sudah.

Jurnal Karbon: Kalau di Barat bagaimana? Apakah ada krisis serupa?

Ugo Untoro: Aku beberapa kali melihat pameran di luar negeri. Aku perhatikan riset mereka berat, tetapi, karya mereka tetap menggugah. Mungkin itu yang belum kita bisa pelajari. Kita masih memuliakan riset.

Jurnal Karbon: Apakah itu imajinasi?

Ugo Untoro: Imajinasi adalah kelebihan kita sebagai manusia. Kita punya bayangan, harapan… Membuat segala sesuatu lebih mudah, lebih enak. Itulah imajinasi.

Jurnal Karbon: Seniman harus apa di tahun-tahun politik?

Ugo Untoro: Seniman harus bebas. Bebas dari pasar. Pasar yang harus mengikuti seniman. Seni Indonesia sudah mendunia, mengapa kita harus mengikuti pasar. Ketika pasar semakin besar, kita seharusnya bebas melakukan apa saja, dan pasar akan menelannya.

Jurnal Karbon: Kalau dibahasakan ulang, “Sebagai seniman yang juga sekaligus warga negara, apakah yang harus dilakukan di tahun-tahun politik ini?”

Hanafi: Kamu pernah tanya itu ke tukang becak, tukang patri? Kok, hanya seniman yang ditanya? Kita sudah kerja, kok, masih ditanya? Negara saya itu di sana, ada cat, ada air, akrilik, ada kuas. Negara tidak pernah hadir waktu genteng saya bocor. Pertanyaannya seniman harus apa di tahun politik? Pertanyaannya, sekarang, tanpa tahun politik pun, di mana kita harus mencari negara?

Ugo Untoro: Kembali lah seniman itu sebagai guru. Katakanlah, seperti dalang dalam wayang, memberi tuntuntan dan tontonan. Saya memilih jawaban mulia, walaupun kadang-kadang saya mengajari mabuk juga. Tapi, sebenarnya tugas seniman di situ. Seniman bagi saya itu seperti wakil tuhan. Karena seniman punya waktu yang lebih longgar daripada orang lain. Orang lain mungkin pagi-pagi, jam enam berangkat, baru pulang jam delapan malam. Kita diberikan keistimewaan. Yang ditakuti oleh negara adalah seniman, karena seniman banyak menganggur, jadi banyak yang bisa dipikirkan. Tapi ya, pesanku cuma satu, jangan terlalu percaya kepada seniman.***

 

Tulisan asli dapat dibaca disini!

/ Galerikertas, Ulasan / Tags: ,

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *