Tubuh yang Memintal Dirinya dalam Galaksi Fiksi dan Pengalaman-pengalaman Menggembirakan Paralaks Fiksi Lainnya

Share!

Catatan Pameran “PARALAKS FIKSI” Oleh Geger Riyanto

“Bagaimana menurutmu?” Cecil menunjukkan salah satu gambarnya kepada saya. Saya kontan menyukainya. Namun, kata-kata, yang dapat menyampaikan impresi saya atas gambar tersebut, tak teranyam secepat perasaan saya terpantik olehnya. Perasaan saya terpukau. Isi kepala saya kosong. Gambar Cecil meninggalkan pengalaman yang intens, campur aduk, dan menggebu-gebu, saya tahu, tetapi saya tak tahu apa ekspresi logis dan verbal yang dapat meringkusnya.

Tentu saja, saya akhirnya menemukan ungkapan yang dapat mengartikulasikan perasaan saya. Hanya saja, ia tak lebih dari satu kata.
“Grotesque,” ujar saya ke Cecil

Benar. Grotesque yang padanannya dalam bahasa Indonesia adalah menjijikan. Grotesque yang sama pengertiannya dengan tidak karuan. Grotesque—sebuah perasaan yang meluap tak tertahankan kala seseorang menonton film horor.

Cecil senyum-senyum saja mendengar jawaban saya tersebut. Saya tak tahu ia puas atau tidak dengannya. Saya membayangkan, ia sudah menantikan respons intelektual yang tajam, eksploratif, bernas. Ujung-ujungnya, ia malah memperoleh tanggapan yang irit dan pelit.

Buat saya sendiri, pastinya, respons awal saya tersebut sama sekali tidak memuaskan.

Akan tetapi, grotesque, betapapun iritnya respons ini, merupakan pintu masuk yang tak keliru kala memperbincangkan gambar-gambar Cecil. Ia juga merupakan satu kata yang menjelaskan mengapa gambar-gambarnya jauh lebih cepat beresonansi dengan perasaan ketimbang pikiran saya—demikian juga yang akan dialami orang lain yang mencermatinya, saya percaya. Apa yang menjadikan film Alien, yang akan terus dikenal sebagai telur emas Ridley Scott, horor yang sukses? Dan dengan kata horor yang sukses, artinya, ia horor yang mencangkokkan mimpi buruk yang sebelumnya tak terbayangkan ke imajinasi khalayak luas? Saya kira, ia tak lain dari apa yang disampaikan Dan O’Bannon, penggarap naskah Alien sendiri, dan kritikus Ximena Gallardo. “Film ini,” ujar O’Bannon, “merupakan film tentang perkosaan antarspesies.” Sosok Xenomorph, sang alien, menurut Gallardo, merupakan perpaduan mimpi buruk seks dan kematian.

Saya masih ingat dengan perasaan saya ketika pertama kali menonton Alien puluhan tahun silam. Saya terganggu. Saya merasa tidak aman dalam derajat yang sangat ekstrem—bukan karena saya merasa akan ada Xenomorph yang akan menerkam saya dari kegelapan melainkan karena saya tak pernah membayangkan sebelumnya manusia dapat dihancurkan dengan cara yang demikian mengerikan. Tubuh-tubuh para tokoh tak hanya dikoyak-koyak melainkan juga dikoyak-koyak dengan cara dicabuli. Tubuh pria-pria sehat, perkasa, dewasa ditaklukkan dan disusupi paksa benih Xenomorph, menjadi tempat bernaung dan membesarnya embrio ini, dan porak-poranda ketika Xenomorph menggerogot keluar tubuh yang menjadi rahimnya untuk beberapa jam. Boleh jadi, benar, kita mendamba kemantapan ontologis, yang bayangan paling mula-mulanya adalah tubuh yang utuh, tak tercampur baur dengan yang bukan-tubuh, dan citra-citra yang disajikan Alien menggoyahkan kepejalan ini secara mendasar. Citra-citranya mengingatkan kita, tubuh tak selamanya utuh dan tidak tercampur baur. Ia rentan dimutilasi, dilanggar, dan dihancurkan. Ia rentan menjadi subjek deformasi sekaligus transgresi. Namun, apakah yang paling pertama tersayat, tergentayangi oleh citra-citranya? Ketika saya berbicara Alien menghadapkan diri dengan ancaman ontologis, siapakah yang paling peka dengan ancamannya?

Tubuh. Tubuh yang disadarkan dengan kefanaannya—yang kontan mencecap ngilu, syok, kegamangan mendapati padanannya di layar kaca bisa dilumat, dicabuli dengan sebegitu semena-mena. Tubuh yang mengatakan film Alien:

“grotesque.”

*** Bukan kebetulan, saya rasa, saya merespons gambar-gambar Cecil dengan idiom yang sama ketika saya menonton Alien—grotesque. Gambar-gambar Cecil menampilkan tubuh manusia dan bagianbagiannya yang meliuk dan melekuk dengan tak seharusnya. Tubuh satu dan tubuh lain saling melingkupi, saling bertumbukan secara tidak wajar. Dua tubuh, terkadang, berjalin kelindan menjadi satu tubuh dengan rupa bercabang-cabang riuh, mencekam. Terkadang pula, tubuh termutilasi dan terempas ke mana-mana dalam peragaan yang nyaris spektakuler. Berbagai fitur manusiawi pun absen dari figurfigurnya.

Apa yang paling sigap mencerap kejanggalan-kejanggalan tubuh semacam itu kalau bukan tubuh sendiri? Citra tubuh yang meliuk tak masuk akal—otot saya dapat kontan merasakan nyeri keterpuntirannya. Pundak, leher, kepala yang terlipatlipat bagai kertas—tubuh saya, kendati tak mungkin mengalaminya, tercekam ketika citra-citranya terbayang. Jasad-jasad yang tembusmenembus, sambung-menyambung— saya, meski sadar ia mustahil terjadi, gusar melihat deformasi tubuh yang semacam itu. Jauh sebelum parade geometri ganjil gambar-gambar Cecil menganyamkan tafsiran-tafsiran konseptual, citra-citranya melecut ketidaknyamanan yang serius. Dan apa yang merangkum segenap pengalaman tak nyaman ini, yang terjadi tak lebih dari sekejap, adalah idiom yang sudah saya sampaikan kepada Cecil sejak awal. Grotesque.

Akan tetapi, saya kira, tidak menarik bila paparan barusan berujung kesimpulan, tubuh adalah penentu atau ada pengalaman jasmaniah yang murni dan ia mendikte keterpikatan manusiawi kita dengan sekelumit penanda tertentu. Sebaliknya, tubuh, saya ingin mengatakan, merupakan situs produksi fiksi yang paling ampuh sekaligus perkakas yang memungkinkan fiksi berdampak tak ayalnya kenyataan. Tubuh merupakan poros di mana pengalaman ragawi dan tatanan rekaan, penanda konkret dan penanda mengambang dapat terpaut dalam asemblase yang pejal. Ilustrasinya? Saya bagikan saja dengan salah satu pengalaman terdekat saya ketika saya menulis esai ini. Saya menulis esai ini di sebuah kampung di Seram Utara. Hari-hari ini beredar kabar, Makalua, pengambil kepala, tengah berkeliaran di sekitar desa. Anakanak sebaiknya tidak jalan-jalan sembarangan karenanya. Makalua dapat menculik dan mencuri organ (?) mereka untuk dijual.

Cerita ini tidak pernah terbukti. Pun, tak jelas bagaimana ceritanya orang-orang ditakuti yang tradisinya memburu kepala sekonyongkonyong beralih menjadi bagian dari sindikat perdagangan organ. Namun, ketika saya berhadapan dengan mereka yang termakan cerita ini, saya tak berhadapan dengan orangorang yang tidak memberdayakan akal sehatnya. Kepala dusun, katakanlah, insaf, tidak ada bukti yang membenarkan adanya Makalua. Ia meragukan bahwa ada orang yang benar-benar bisa memperdagangkan organ jauh di pelosok Seram. Ia, kendati demikian, tidak dapat sepenuhnya skeptis. Ia tetap merasa ada kemungkinan cerita tersebut benar.

Alasannya?

Ia takut cerita tersebut benar. Makalua, yang telah menjadi penanda fiktif sejak puluhan tahun silam, kembali menjadi fakta sosial akibat citra hilang, dirampas organ yang dijejalkan oleh kasak-kusuknya. Sebagai sebuah informasi, cerita tentang Makalua yang merampas organ para warga Seram Utara tidak meyakinkan. Ia tidak memiliki keutuhan logis. Ia tidak memiliki korespondensi empiris. Kendati demikian, kegamangan yang diantarkannya nyata. Perasaan yang dipantiknya tak bisa ditampik. Penanda yang tertaut dengannya, konsekuensinya, menjadi seolah benar-benar hadir.

Xenomorph jelas-jelas adalah rekaan. Akan tetapi, mengapa selepas menontonnya banyak yang tak bisa menghindari kegusaran akan disergap oleh monster ini di rumahnya sendiri? Mengapa mereka—termasuk saya sebenarnya— tidak berpikir bahwa mereka lebih mungkin mati tersedak kudapan ketimbang diterkam oleh Xenomorph di rumahnya? Kemungkinankemungkinan mengerikan yang ditayangkan dialami tubuh di Alien, pasalnya, menghadirkan kegamangan yang akan mendekam lama. Dan selama tubuh kita gentar karenanya, selama itu pula fiksi yang menggelayut kepada sensasi ini tak akan kurang nyata dibandingkan kenyataan-kenyataan paling dekat kita sekalipun.

Akhirnya, demikian juga yang dilakukan oleh gambar-gambar Cecil. Citra yang dipaparkannya kepada sensibilitas, betapapun mustahilnya ia mewujud dalam aktualitas kita, adalah pengalaman-pengalaman ketubuhan. Ia membawakan tubuh yang terpelanting, terpilin, terlipat seakan tak ada bedanya dengan plastik. Tubuh tak mungkin menjadi plastik, tentu. Hanya saja, selama tubuh digelisahkan dengan citra tersebut—selama ia terhantui dengan kerentanan-kerentanan peluruhan serta pelanggaran keutuhannya— kemungkinan yang dibawakan gambar-gambar ini akan terus hadir.

Namun, memang, keberjarakan saya dengan situasi mencekam yang dibawakan gambar-gambar Cecil memungkinkan saya, alihalih benar-benar ketakutan dengannya, merengkuhnya sebagai pengalaman estetik. Saya menatap deformasi dan transgresi namun tak menjadi sasaran dari deformasi dan transgresi. Saya berdiri di hadapan bahaya ontologis tanpa saya sendiri terancam punah olehnya. Konsekuensinya, saya dapat menyesap dan mengapresiasi dampaknya mengguncang sensibilitas saya lantaran tidak dikuasai oleh kengerian yang meluap-luap. Sebagaimana yang disampaikan Edmund Burke, toh, syarat terpantiknya pengalaman sublim adalah sensasi teror—teror yang berjarak. Pertanyaan spekulatifnya, apa yang terjadi seandainya kita menghilangkan keberjarakan ini?

Pernahkah kita berpikir mengapa lukisan-lukisan neraka dari abad pertengahan—sebut saja Penghakiman Terakhir karya Jan Van Eyk—melukiskan tubuh telanjang terhambur, berimpitan sesak, menyakitkan, serta tak karuan satu sama lain? Kontras dengan surga di mana tubuh-tubuh Tuhan, para rasul, para malaikat serta orang-orang terselamatkan terjajar dengan rapih?

Neraka dan surga, sebagai sebuah gagasan, tak pernah berjarak dengan kita. Kita tak pernah aman dari ancaman dan imingimingnya. Dan lukisan-lukisan tersebut menunjukkan, apa yang mematerialisasikan gagasan yang paling berhasil mencengkeram manusia ini bukan semata konsep keselamatan dan keterbuangan kekal melainkan apa yang melanda tubuh dalam kurun yang bergulir hingga akhir waktu tersebut: kenyamanan dan penderitaan kekal, keleluasaan dan ketercekikan kekal, keamanan dan ketercabik-cabikan kekal.

Menariknya, visualisasi penderitaan yang mengemuka pada lukisanlukisan medieval ini dapat dibandingkan dengan citra yang mendominasi gambar-gambar Cecil. Tubuh-tubuh yang kait-mengait tanpa aturan. Kepaduan yang tidak manusiawi dan menggelisahkan dari tubuh-tubuh yang saling berbaur tersebut. Ada sensasi horor yang kurang-lebih serupa yang dibawakan oleh kedua representasi ini dan pengalaman tersebut, saya taksir, terbersit oleh citra terlanggar dan luluhnya keutuhan manusia-manusia dalam gambarannya.

Mungkin saja, karenanya, ketika keberjarakan kita dengan karya Cecil dihilangkan, ia akan menjadi monumen yang menghadirkan fiksifiksi berbahaya sebagai kenyataan pada segenap perkakas pencerapan kita.

Fiksi semacam neraka, pembuangan yang kekal.

***

Cecil, tentu saja, tak menginginkan skenario semacam itu terjadi. Tetapi, apa yang tepatnya dikehendakinya? Cecil percaya bahwa kita terkepung fiksi. Kita hidup di dalam galaksi fiksi yang bercabang-cabang tak tepermanai. Kehidupan awam berjalan lantaran iming-iming pelbagai narasi fiksi— pembuktian diri sebagai manusia, mengepul amal baik untuk di akhirat, hingga mengembalikan kedigdayaan bangsa. Namun, para pengembang fiksi yang mengeruk keuntungan dari keterbiusan orang-orang pun melakukannya karena fiksi. Para politisi penyemai narasi-narasi kebangkitan umat atau rakyat? Mereka mengejar posisi lebih tinggi yang menggiurkan semata-mata karena kesepakatan sosial. Dan inisiatif-inisiatif kritis memeriksa merajalelanya fiksi? Mereka pun dimotivasi oleh fiksi. Karya-karya yang paling tajam mendedah cara beroperasi ideologi bersemi di institusi yang memiliki keyakinan buta bahwa publikasi adalah segalanya dan pemahaman ilmiah lebih baik dari pemahaman-pemahaman lainnya: perguruan tinggi. Pun, pameran ini sendiri, yang digelar untuk menginterogasi fiksi, Cecil sadar, beranjak dari motivasi yang sejatinya fiktif (yang, persisnya, Anda seyogianya menanyakan kepadanya sendiri).

Fiksi lebih keras kepala dari yang kita duga. Jauh lebih keras kepala. Cecil, karenanya, sedari awal tak berambisi muluk-muluk mencoba keluar dari jagat raya yang tak terjumpai ujungnya ini. Ia, sebaliknya, berusaha melakukan bongkar pasang lapisan-lapisan fiksi yang persisten. Ia menambal fiksi-fiksi yang sudah ada dan saling terpaut dengan fiksi baru alih-alih menyingkapnya yang, ia tahu, tak akan membawanya ke mana-mana. Dengan usaha ini, mungkin saja ia bisa meraba posisi menerawang baru dari antara konstelasi fiksi di mana subjek memperoleh sudut pandang yang secara drastis dan radikal berbeda.

Cecil menyebut kerjanya: paralaks fiksi.

Berhasilkah? Jawabannya, dengan posisi subjek yang berbeda-beda terhadap konstelasi fiksi yang ada dan intervensi yang diemban Cecil, saya yakin, bukan “ya” atau “tidak.”

Buat saya, saya lega pilihan Cecil adalah bergelut intens dengan citracitra tubuh serta pengalaman ragawi. Saya tak percaya bahwa segenap anasir yang mengonstitusi aktualitas kita adalah fiksi. Tubuh, katakanlah, tak bisa direduksi dalam ekspektasi-ekspektasi naratif kita. Namun, apa yang dilakukan Cecil dengan menambal citra-citra yang sudah kita akrabi terkait tubuh dengan watak plastis, memaksanya terpampat dalam postur yang surealistis sekaligus sensual mengingatkan saya dengan bagaimana fiksi senantiasa diproduksi dalam persekutuannya dengan korporealitas kita. Geometri ganjilnya yang membekas kuat dan lama menegaskan bahwa penanda-penanda yang beresonansi dengan tubuh akan dihadirkan oleh sensibilitas kita sebagai kenyataan, tak peduli ia penanda fiktif sekalipun.

Ia mengingatkan saya bahwa waktu di mana kita hidup sekarang ini bukanlah tikungan sejarah yang diada-adakan. Orang-orang membicarakan negara, jejalin relasi sosial-politik yang ruwet, seakan ia insan manusia yang hidup, bertindak, mengindra, dan tidak ada yang merasa keliru dengannya. Para demagog yang berkoar-koar negara lembek dan tidak tegas, seolah negara adalah sesosok ayah dan seharusnya ia bertangan besi, bahkan dapat mengerek daya tawar politiknya dengannya. Kejayaan dan kejatuhan bisnis-bisnis besar ditentukan oleh penilaian-penilaian yang memperlakukan entitas ini seolah manusia. Ia nampak murah hati, rela berkorban, dan mempertaruhkan diri demi kebaikan banyak orang? Tesla, yang mencitrakan dirinya demikian, dalam waktu tak lama memiliki salah satu valuasi paling megah sebagai perusahaan otomotif.

Peristiwa-peristiwa spektakuler dan menentukan hari-hari ini secara ganjil dan telanjang mengorbit di atas fiksi. Namun, dalam pameran ini saya diingatkan, kita mau apa seandainya fiksi bersangkutan bersahutan intim dengan tubuh kita dan diperlakukan olehnya bukan lagi sebagai keberadaan spektral melainkan keberadaan konkret? Senyata kayu dan batu yang dapat tersentuh oleh tangan kita?

Apakah saya tergiring dalam paralaks fiksi sebagaimana diharapkan Cecil? Mungkin saja. Posisi menerawang ke mana saya dibawa olehnya mengingatkan saya agar tidak terlalu naif dan dungu. Ia mengingatkan saya bahwa daya mengelabui fiksi tidak bertumpu pada koherensinya melainkan buaian-buaian afektifnya dan saya, jelas, setiap saat juga menjadi mangsanya.

Dan saya cukup gembira dapat mengingat hal-hal ini. Bahwa saya, di antara galaksi fiksi ini, bukanlah bukanlah potret yang gagah melainkan karikatur. Bahwa saya adalah ulat yang memintal diri dalam kepompong fiksi tetapi untuk selamanya terselimut di dalamnya.

 

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *