Studiohanafi berdiri pada tahun 1999, yang pada awalnya merupakan sebuah studio pribadi bagi Hanafi berkarya—sebuah ruang yang intens terletak di bibir sungai Pesanggrahan, Parung Bingung Depok. Namun peristiwa pasca Orde Baru, siapapun di antara kita merasakan betapa berat krisis yang melanda hampir di semua bidang. Kesenian dan kebudayaan salah satu yang telihat compang camping, menarik perhatian saya untuk melakukan langkah kecil. Sebuah langkah yang dimulai dengan pertanyaan, dari mana dan hendak kemana?

Datangnya reformasi sebagai koreksi terhadap Orde Baru, gaungnya seperti suara yang menghormati kebebasan manusia dan sebagai modal utama untuk dapat bergerak maju secara terbuka. Saya menerjemahkannya secara fleksibel, bahwa yang terbuka sudah pasti atau paling tidak juga adalah hal yang dekat, nampak jelas dan terjangkau. Maka pertanyaan darimana, saya jawab dengan membuat rumah singgah bagi para pengamen kereta jurusan Bogor-Jakarta.

Saya membuat jadwal rutin bagi para pengamen tersebut, menambah pengetahuan bermusik bagi mereka, membiasakan makan teratur dan kerja teratur. Tetapi rupanya, semua yang saya agendakan itu, bukan suatu kebutuhan bagi mereka. Nyatanya saat itu saya hanya bertahan empat bulan menemani para pengamen di studiohanafi. Saya gagal.

Ketika Inisisri (alm) bersama grup Kahanan menyiapkan karya untuk dibawa ke Festival Perkusi Internasional di Belanda, datang ke studiohanafi, meminjam tempat untuk berlatih, saya sangat riang, seperti sebuah pemandangan yang menjawab secara sempurna pertanyaan di atas, dari mana dan hendak kemana?

Tempat atau rumah untuk proses nyatanya sangat krusial dibutuhkan seniman/kreator untuk mempersiapkan karyanya. Maka, sejak saat itu, studiohanafi dengan pelan, tidak berisik dan melangkah tegas, memilih jalan menjadi tempat proses, atau rumah proses, bagi seniman lintas disiplin. Terima kasih Inisisri (alm).

Pada tahun 2000, langkah studiohanafi mulai terdengar pelan, bersamaan dengan datangnya kelompok Ruang Rupa  yang mempertemukan Apotik Komik dan Taring Padi dari Yogyakarta di studiohanafi, untuk pembuatan mural di Jakarta dan diskusi seni rupa. Menyusul kemudian kelompok Teater Kami yang tengah mempersiapkan pertunjukan teater  di Japan Foundation.

Studiohanafi makin ramai dengan datangnya berbagai kelompok lintas disiplin. Hanafi intrupsi, dia merasa tempatnya belum layak sebagai “rumah”, kami belum memiliki tempat tidur yang layak, teman-teman seniman yang berproses di tempatkan di sebuah ruangan hanya menggelar kasur lipat seadanya untuk tidur. Studiohanafi lebih terasa seperti “dapur” dimana aroma segala ramuan tercium kuat. Mencoba satu bumbu, gagal, mencoba lagi, diskusi lagi, seperti seorang juru masak yang menyiapkan hidangannya. Maka, Hanafi mengusulkan studiohanafi di baca sebagai “dapur kreatif” tempat segala ramuan diolah-matangkan, siap disajikan di panggung-panggung, galeri-galeri, lembaga-lembaga kesenian, komunitas, dan layar film.

Tahun 2005, studiohanafi membuka perpustakaan dan tempat belajar tari, teater, musik, menulis dan melukis bagi anak-anak dan remaja. Sebuah komunitas anak-anak dan remaja, berlatih setiap akhir pekan pada sabtu dan minggu. Anak-anak teater studiohanafi sabar mengikuti latihan. Dan mulai menjajal panggul Festival Teater Anak di Taman Ismail Marzuki, pada tahun 2013, setelah hampir 8 tahun berproses, dengan memborong 6 piala, sebagai juara umum pada tahun 2013.

Dapur kreatif studiohanafi kian hangat dengan program residensi yang digagas Hanafi, Nukila Amal, Zen Hae dan Adinda Luthvianti dalam wadah Masyarakat Indonesia Cipta (MIC) pada tahun 2012. MIC mengundang 20 seniman muda dari kawasan Timur Indonesia, untuk belajar dan berkarya selama satu bulan penuh di studiohanafi.

Studiohanafi mulai terasa sebagai rumah, kami sudah memiliki tempat tidur sederhana, ruang diskusi dan fasilitas sederhana lainnya.

Kawan-kawan seniman yang pernah mengisi dapur kreatif studiohanafi, selain yang disebutkan di atas, adalah : Lenong H Sharon,  Andreaw Timar, kelompok gamelan dari Toronto yang mempersiapkan pertunjukannya di Indonesia, Teater Bunga, Maxine Happner ( Choreographer ) dari Canada, yang mempersiapkan karyanya di Gedung Kesenian Jakarta,  Lab Teater Kubur, Popo Tri Wahyudi ( Perupa ) mempersiapkan karyanya untuk pameran di Galeri Lontar- Komunitas Utan Kayu- Jakarta,  Fitri Setyaningsih ( Choregrapher ) mempersiapkan beberapa karyanya di studiohanafi, Bandar Teater Jakarta, Teater Jalan Kecil-Bandung dan choreo Lab Dewan Kesenian Jakarta yang mempertemukan tiga koreografer pilihan DKJ untuk berproses bersama, menyiapkan pertunjukan di Taman Ismail Marzuki.

Studiohanafi, masih berjalan, semoga melebar dan jauh, dalam keterbatasan banyak hal. Studiohanafi, dengan semua kegiatannya tidak didanai oleh lembaga atau siapa pun, studiohanafi di danai secara pribadi oleh Hanafi, sampai saat ini.

Akhirnya, mudah-mudahan dapur kreatif studiohanafi mampu menjalankan fungsinya sebagai penghormatan terhadap kebebasan berkarya. Kebebasan bukanlah hadiah dari pemerintah, bukan jua pemberian yang harus diminta kepada Negara, tetapi merupakan hak yang melekat dalam kodrat seseorang sebagai manusia, sebagai seniman. Serta bermanfaat terhadap siapa saja yang peduli terhadap kesenian.

Studiohanafi,
Adinda Luthvianti
Pengelola studiohanafi