Sharing Kolaborasi Musik Lawe Samagaha dan Elegi

Share!

Pada pembukaan pameran “Scavenging Stories” karya 7 perupa muda pilihan Rob Pearce, galerikertas akan menghadirkan kolaborasi musik antara Lawe Samagaha dan Elegi. Kolaborasi ini adalah hasil dari agenda “Sharing Kolaborasi Musik Lawe Samagaha dan Elegi” yang diselenggarakan 10 Mei 2019 lalu. Perpaduan antara musik tradisi (Lawe Samagaha) dan musik pop (Elegi) akan ditampilkan pada pembukaan pameran tersebut. Pembukaan pameran ini akan berlangsung pada hari Sabtu, 15 Juni 2019, pukul 19.30 WIB di Galerikertas Studiohanafi, Depok.

Berikut profil dari Lawe Samagaha dan Elegi

Lawe Samagaha

Pada alm. T Nitya AS di teater KAP .Tahun 1999 mendirikan kelompok Kumpulan Bunyi Sunya. tahun 2000 studi komposisi pada komponis Yasudah di solo. Tahun 2001 hijrah ke Bandung studi komposisi pada komponis Dodi Satya EG dan terdaftar sebagai mahasiswa karawitan STSI Bandung. Tahun 2003 mendirikan kelompok Lungsuran Daur bersama alm.Dodong Khodir, yang mengkhususkan diri pada penciptaan instrumen baru. Tahun 2004 studi komposisi pada komponis Slamet Abdul Syukur. banyak.terlibat pada proses pembuatan musik teater dan tari. mengikuti beberapa festival di Indonesia, Jerman,Pakistan, Malaysia, Belgia, Taiwan,Belanda, Singapore dan Azerbaijan. Sejak 2015 terlibat di studio hanafi untuk beberapa program.

His artistic process is a self-taught, begins with learning painting with T Nitya AS in KAP theatre. In 1999, he founded Bunyi Sunya Group. In 2000, a composition studied in Yasudah composer. In 2001, he moved to Bandung to study composition with a composer Dodi Satya EG and was registered as a student of Karawitan, a traditional music of Indonesia in STSI Bandung. In 2003, he established the group Lungsuran Daur with Dodong Khodir who specialized in the creation of new instruments. In 2004, he studied composition with composer Abdul Syukur. Lawe Samagha also involved in many process of theatre and dance music. He also participated in several festivals in Indonesia, Germany, Pakistan, Malaysia, Bulgium, Taiwan, The Netherlands, Singapore and Azerbaijan. Since 2015 he has been involved in Studiohanafi for several programs.

Elegi

Memilih genre pop dan sentuhan akustik yang murah. Karyanya banyak bercerita tentang kehidupan sehari-hari, tentang yang ia lihat atau rasakan, seperti tentang romansa dan kota Depok tempat ia bermukim. Beberapa di antaranya adalah “Bulan di Margonda” yang bercerita tentang sebuah kisah romansa yang lahir di jalan raya Margonda. Selain itu, ada “Raja Rimba di Tengah Kota” tentang robohnya sebuah pohon besar di tengah pemukiman warga yang terjadi pada 2013 lalu di Perumnas Depok Jaya.

Elegi resmi melahirkan album pertamanya pada akhir 2017 setelah sibuk manggung di beberapa tempat. Album tersebut diberi judul “Merayakan Sepi” dan bercerita tentang luka dan duka, atau kisah-kisah romansa yang sering ditemui oleh pasangan-pasangan usia remaja. Album ini mengajak para pendengar untuk merayakan kesedihan-kesedihan yang biasanya mereka sembunyikan.

Pada tahun 2018 Elegi mengedarkan album “Merayakan Sepi” dengan format fisik sebanyak 1000 keping bersama label musik yang juga ia dirikan sendiri dengan nama “Senandung”. Bersama Senandung, Elegi banyak mengadakan panggung-panggungnya sendiri seperti Intimate Showcase hingga menjalankan tur. Pada praktik musik di atas panggung Elegi dibantu oleh Khalif Fadhel (Gitar dan Vokal), Denny Aryo (Keyboard an Vokal), Dendy Aryo (Tamborin dan Vokal). Tahun 2019 ini Elegi mulai kembali ke dapur untuk mempersiapkan album selanjutnya.

Elegi is a solo project by Bimo Aryo. This project begins in 2013 and choose Pop as a genre with cheap acoustic touch. His work tells about a daily life, everything that he sees and feels, it is like a romance and Depok city where he lives. Some of them are “Bulan di Margonda”, tells about a romance story that is born in Margonda Raya street. In other work, there is “Raja Rimba di Tengah Kota”, tells about the collapse of the big tree in the middle of residential area that occurred in 2013 at the Depok Jaya Housing Court.

Elegi officially release the first album in the end of 2017 after long performing in several places. This album entitled “Merayakan Sepi” and tell a story about wound grief or other romance stories that are often encountered by teenage couples. This album invites listeners to celebrate the sadness they usually hide.

In 2018 Elegi distributed album “Merayakan Sepi” with a physical format of 1000 pieces along with a music label which he also founded with the name “Senandung”. Together with Senandung, Elegi held many of his own stages such as Intimate Showcase to run the tour. On the practice of music on stage Elegi is assisted by Khalif Fadhel (Guitar and Vocals), Denny Aryo (Keyboard and Vocal), Dendy Aryo (Tamborin and Vocals). In 2019 Elegi began returning to the recording studio to prepare for the next album.

 

 

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *