Sebuah Arah Pada Kompas

Share!

Catatan Pameran “batas” 5 Perupa Galerikertas
Oleh. Afrizal Malna

“20 Tahun Usia Kesadaran”, karya Suvi Wahyudianto. foto: afrizal malna“20 Tahun Usia Kesadaran”, karya Suvi Wahyudianto. foto: afrizal malna

Beberapa tahun belakangan ini saya cenderung menghindar menghadiri pameran-pameran seni rupa. Mungkin karena saya bertambah tua. Cepat merasa lelah berada dalam ruang pamer. Saya menduga seni rupa kini menjadi terlalu visual dan terlalu yakin dengan visualitasnya. Karya seni rupa, secara provokatif, seolah-olah memaksa saya untuk mengagumi visualitasnya. Secara tak sadar, saya cenderung menghindar setiap berhadapan dengan ruang komunikasi dengan agresi seperti ini. Kalau saya mengagumi sebuah karya, itu terjadi karena memang terjalin internalisasi khas antara saya dengan karya, dan saya mulai merasa dilibatkan dalam sebuah pengalaman estetis sebagai relasi baru antara saya dengan karya yang saya hadapi. Tetapi kalau karya itu dengan sadar dibuat untuk dikagumi, saya merasa ini konyol: karya itu mau meringkus respon saya dengan visualitasnya yang provokatif, dan setelah itu saya merasa kehilangan momen sebab-akibat sebelum dan setelah saya berhadapan dengan sebuah karya.

Pameran Batas yang ditulis sebagai Ba-(ker)-tas, proyek ke dua Galerikertas, Studio Hanafi, Depok, setelah pameran Ugo Untoro sebelumnya, memiliki dua eksperimen kuratorial untuk program-program yang dijalaninya. Dua eksperimen kuratorial itu sudah terlihat pada konstruksi judul pameran antara batas dan kertas, lalu batas kertas sebagai permainan tifografi antara kertas sebagai medium dan materi sekaligus, serta batas sebaga wacana. Perlu semacam kesabaran untuk bagaimana ke dua pengertian ini mendapatkan pijakan kuratorial yang cukup terpegang oleh para perupa yang terlibat dalam pameran ini.

Eksperimen kuratorial kedua dalam pameran ini, adalah seniman yang telah berpameran sebelumnya, yaitu Ugo Untoro, melalui program workshop melakukan kurasi atas peserta workshop yang akan dilibatkan dalam proyek pameran berikutnya, yaitu pameran Ba-(ker)-tas ini. Maka pameran ini terjadi dengan 5 seniman yang dilibatkan di dalamnya : Henryette Louise, Suvi Wahyudianto, Suyatno, Silvy Livano dan Moch Yudistira Wididdarma. Mereka berasal dari disiplin dan kota berbeda. Ugo menyebutnya sebagai seniman muda yang “dipilih”. Memilih memang memerlukan proses panjang untuk mengenali apa yang dipilih. Yang terjadi dengan kerja kurasi seperti ini, menurut saya tidak semata “memilih” melainkan “bertemu”. Ugo Untoro bertemu dengan 5 seniman ini sebagai pertemuan estetis antara seniman yang sudah berpengalaman (seperti Ugo Untoro) dengan mereka yang masih dini menggeluti media seni rupa, kecuali Louise yang memang sudah lebih berpengalaman dari yang lain.

“20 Tahun Usia Kesadaran”, karya Suvi Wahyudianto. foto: afrizal malna“20 Tahun Usia Kesadaran”, karya Suvi Wahyudianto. foto: afrizal malna

Batas dan Kertas                                                                 

Dalam catatan pameran, kertas dianggap medium yang kian tersingkir oleh media digital. Karena itu medium ini perlu dilihat ulang dan dihadirkan kembali untuk bagaimana kerja-kerja artistik masa kini meresponnya. Sementara saya punya kesan lain dengan kertas. Medium ini hampir selalu hadir dalam dunia sehari-hari saya, entah dalam bentuk tissu, bungkusan rokok, kertas lintingan rokok, struk pembelian, struk aktivitas menggunakan mesin ATM, tiket pesawat atau kereta dll. Kertas mengikuti setiap perubahan tindakan yang saya lakukan. Dalam berbagai perubahan jaman, kertas bertahan dan mengikuti bentuk-bentuk performatif dari perkembangan industri yang masih melibatkan kertas sebagai mata rantai produksi dan paska-produksi setelah masyarakat luas menyentuhnya di pasar. Beberapa pabrik yang dengan sadar menghitung faktor lingkungan, kembali menggunakan kertas dibandingkan dengan plastik yang kini jadi momok pencemaran. Perkembangan mesin cetak ikut menantang memproduksi kertas sebagai medium yang selalu menawarkan kemungkinan baru pada tekstur, ketebalan maupun efek optikal yang dikandungnya, dan selalu merangsang kerja desain grafis.

Tawaran lain dalam menyasar keberadaan medium kertas, seperti penjembrengan di atas, juga menjadi tantangan tersendiri untuk ke lima seniman yang terlibat dalam pameran ini mencari batas pada setiap asal-usul kertas, karena asal-usul ini alih-alih menjadi sangat majemuk. Kertas tidak selalu harus dikembalikan ke berbagai jenis tanaman sebagai materi dasar pembuatan kertas. Setiap orang punya asal-usulnya sendiri dalam memandang kertas. Kita juga bisa memunculkan pertanyaan sederhana: apakah “kardus” sama dengan “kertas”?

Tatapan sebagai tembusan batas

Suvi Wahyudianto menggunakan tatapan sebagai asal-usul dalam memperlakukan medium kertas. Yaitu dengan menggeser aktivitas tatapan menjadi tembusan: menembus batas. Asal-usul ini membuat sebuah spektrum baru antara reaksi fisikal tubuh dengan jenis kertas yang dipilih. Yaitu jenis kertas yang tidak umum digunakan dalam praktek-praktek menggambar. Suvi memilih kertas tipis yang biasa digunakan sebagai bungkus makanan, tetapi kertas ini memiliki tekstur yang bisa menghadirkan objek di baliknya, dalam skala cahaya tertentu, dan objek di balik kertas terlihat sebagai objek yang kabur.

suvi 20 tahun usia kesadaran“20 Tahun Usia Kesadaran”, karya Suvi Wahyudianto. foto: afrizal malna

Reaksi fisikal atas materi kertas yang dipilih, menjadi medan baru untuk bagaimana kerja artistik bisa berlangsung. Juga menghadirkan pembayangan atas softwere-effect yang lain: Praktek photoshop dari aplikasi grafis yang digital, diperlakukan sebagai praktek analog atas materi secara manual. Pembayangan ini memang tidak ditempuh Suvi, dia lebih memilih mendisplay karya pada 3 meja kaca dan menempatkan kertas dengan kaca justru sebagai latar depannya, sehingga aktifitas tatapan sebagai tembusan berlangsung dalam dua lapis materi: kertas dan kaca.

Untuk saya, membaca karya Suvi seperti ini sudah cukup memunculkan berbagai momen puitik antara kertas putih tipis, kaca dan spektrum cahaya yang dimunculkannya. Tetapi Suvi menciptakan bentuk lain pada bidang kertas dengan memainkan garis-garis pulpen pada masing-masing bidang kertas, lalu membuat lipatan dalam pertemuan antara kertas satu dengan kertas lainnya.

Mata rantai lain dari kerja artistik itu adalah menghadirkan suara ketukan yang direkam saat Suvi bekerja membuat garis dengan pulpen di atas kertas. Suara yang juga jadi ambigu, apakah ini dilihat sebagai inisial dari suara kertas atau suara bidang lain tempat kertas diletakkan saat bekerja. Suara yang repetitif itu, memang memberikan dinding visual lain pada bagaimana ketiga meja dijejerkan dengan posisi diagonal. Sambil mengubah aktifitas tatapan yang biasa ke depan (tempat umumnya lukisan digantung sejajar dengan tatapan saat kita berdiri), menjadi ke bawah, seolah-olah karya yang dipamerkan dihadirkan sebagai dokumen atau arsip.

Karya Suvi memang memperlihatkan tegangan konseptual untuk memutuskan bekerja dengan kertas sebagai materi utama dan mengubahnya menjadi media, atau memperlakukan kertas sebagai medium melukis. Display yang digunakan tidak cukup mampu meredam lentingan dari adanya tegangan ini. Tetapi hal ini juga menghasilkan dialog pada kerja-kerja artistik yang berada dalam spektrum bagaimana gesekan antara materi dan media masih bisa diikuti setelah karya dihadirkan di ruang pamer. Walau proses dari gesekan itu sudah berhenti.

Lentingan lain pada karya Suvi, masih terjadi lagi pada bentuk jahitan di tubuh kertas dengan benang yang dibiarkan masih tertempel. Jahitan ini membawa hal lain di luar praktek seni murni menggunakan medium kertas, dengan praktek instalasi yang bisa digunakan untuk menjahit elemen-elemen artistik yang belum tentu saling terkait satu sama lainnya. Kebutuhan untuk menempelkan pengalaman perupa atas peristiwa yang dianggap bermakna (sebagai pengalaman terluka), membuat karya yang berwatak hening ini berada atau dipaksakan berdiri di atas lantai perspektif yang berlapis dengan ruang makna yang berjauhan satu sama lainnya sebagai bentuk tegangan laten dalam medan kerja representatif dan presentatif untuk menemukan bentuk performatif karya yang padu. Sebuah celah yang memang ringkih, sensitif dan neorotik dalam kerja-kerja artistik.

 

Luaran dan Dalaman

Umumnya kita sudah mengetahui bentuk kertas yang terkait langsung dengan fungsinya. Kertas adalah objek eksternal yang sudah memiliki penjelasan pada dirinya sendiri. Tegangan seperti ini juga direspon dalam pameran ini dengan mengubah dimensi eksternal dan internal pada kertas (kertas sebagai objek eksternal). Kemudian saya ingin menyebutnya sebagai luaran dan dalaman.

Karya Henryette Louise, yang menggunakan medium kardus dan biasa digunakan sebagai penyanggah bagian dalam gulungan kain maupun kanvas, bentuknya mirip pipa, memunculkan dialog objek sebagai luaran dan dalaman. Apakah pipa kardus sebagai materi yang pada dirinya sendiri sudah eksternal itu, memunculkan dalaman maupun luaran baru yang berbeda dengan fungsi sebelumnya?

Metode disfungsionalisasi atas pipa kardus, tampaknya memang lebih bertujuan mencari bentuk-bentuk performatif baru atas materi dasar yang digunakan. Dan didisplay pada dinding gallery yang cat temboknya memang sudah dibuat seperti belum selesai. Display yang ditempuh, menembus batas dinding satu dengan dinding lainnya yang berbeda. Kesan pertama dari bagaimana pipa-pipa kardus didisplay ini, memunculkan kesan tipografi tubuh puisi yang terbuat dari pipa kardus. Dan pada masing-masing kardus ada goresan hitam memanjang, atau torehan kata-kata. Tetapi display ini juga membuat tegangan baru antara karya yang diwujudkan untuk merespon bidang dinding galeri, atau memang untuk menghasilkan bentuk-bentuk performatif yang memunculkan tegangan luaran dan dalaman itu.

Tema luaran dan dalaman memang otomatis menggoda saya, sebagai akibat langsung dari materi eksternal yang digunakan Louise dalam karyanya: Apakah yang sedang ditawarkan Louise? Menemukan dalaman baru untuk objek yang sudah eksternal, atau eksternalitas dari objek itu memang terlalu kuat dan tidak teratasi?

henryette louisekarya Henryette Louise. foto: afrizal malna

Karya Louise yang lain, dengan bentuk-bentuk yang inisialnya bisa diikuti, seolah-olah bagian terpisah dari pameran, dan tidak menjadi perhatian saya untuk menjadikannya sebagai bagian dari tulisan ini. Di antaranya terdapat buku drawing dari kardus yang memuat lukisan-lukisan Louise.

Konflik luaran dan dalaman ini tidak aktif pada karya Moch Yudistira Wididdarma, karena medium kardus pada karyanya memang digunakan untuk menciptakan objek baru. Yudis menggunakan tipologi kotak yang kadang tersamar juga hadir sebagai panggung-panggung kecil. Atau panggung-panggung kecil yang bisa ditutup seperti sebuah kotak kardus.

karya Henryette Louise. foto: afrizal malnakarya Henryette Louise. foto: afrizal malna

Karya ini terdiri dari beberapa kotak kardus dengan ukuran tidak sama, vertikal maupun horizontal. Objek diletakkan di dalam kotak dengan kedalaman yang juga berbeda, ada permainan skala penempatan objek yang berbeda, ada sisa-sisa teks pada kertas yang dibiarkan hadir. Objek di dalam dibuat seperti tumpukan, beberapa dibuat tergantung. Memunculkan kesan dunia mikro yang intim, rapuh, tetapi juga sekaligus asing. Vibrasi ruang luaran dan dalaman berlangsung hening. Sebuah kotak dibuat seperti rangkaian alat elektronik yang cukup kompleks, namun juga tetap menggunakan materi dari kelupasan-kelupasan kardus.

yudis 2karya Moch Yudistira Wididdarma. foto: afrizal malna

Karya Yudis hampir satu-satunya perwujudan karya dengan arah berbeda dalam pameran ini. Ada kerja arsitektural, konstruksi maupun kerja interior yang teaterikal. Karya dihadirkan hampir mirip sebuah maket untuk seni rupa panggung. Namun Yudis mampu membuat transformasi minimalis antara teater dan seni rupa. Saya membayangkan akan terjadi sebuah aktifisme teater baru, jika karya ini diwujudkan dalam ruang pertunjukan teater.

yudis 1karya Moch Yudistira Wididdarma. foto: afrizal malna

Internalisasi aku: “lihat saja aku pasti bisa terbang”

Kurasi bentuk kertas yang dialami sebagai bagian aktivitas sehari-hari, baru muncul pada karya Silvy Livano yang melibatkan banyak struk pembelian sebagai bagian dari karyanya. Keseluruhan karya dihadirkan sebagai “kesibukan kertas” sehari-hari yang sudah menjadi artefak. Ada asbak dari kertas, puntung rokok, penjepit kertas, catatan-catatan visual yang muncul sebagai kode-kode personal, sebuah kursi kayu. Karya yang terkesan dibuat bukan untuk siapa pun dan tidak untuk dipublikasi.

Karya Silvy menampilkan semacam aku-internal yang berkelindan di dalam tubuh kertas. Kertas menjadi medium puitis untuk menyembunyikan aku-internal itu: aku bukan sebagai objek tatapan. Imaji-imaji bergerak tanpa memerlukan inisial makna apapun. Karya ini seperti bekerja di luar makna, tidak perduli dengan makna. Satu-satunya makna eksternal adalah bukti pengeluaran, atau sebaliknya sebagai teks yang merepresentasi ruang lain melalui ungkapan “terbang”. Ungkapan ini berada pada salah satu Pernik-pernik karya Silvy: “lihat saja aku pasti bisa terbang”.

karya Silvy Livano.. foto: afrizal malnakarya Silvy Livano.. foto: afrizal malna

Up a direction on the compass, sebagai salah satu teks yang muncul pada karya Silvy, saya gunakan sebagai judul catatan ini: Sebuah arah pada kompas. Dan ke empat perupa telah memperlihatkan arahnya masing-masing. Satu-satunya perupa yang menggunakan arah yang umum digunakan dalam seni rupa, adalah karya Suyatno. Karya hitam putihnya dengan judul “Belum ada Judul”, dihadirkan normatif sebagai lukisan di atas kertas dengan bingkai dan dilindungi kaca.

Ada bentuk seperti lempengan batu segitiga yang menyeruak dari atas, menekan bidang dengan garis-garis hitam tidak beratur. Di antara gesekan bentuk dan bidang ini, terdapat bulatan maupun lonjongan kecil untuk menghadirkan efek gerak pada karya. Suyatno berusaha mengolah tema batas dalam pameran ini melalui tradisi dua dimensi kerja seni lukis.

karya Silvy Livano.. foto: afrizal malnakarya Silvy Livano.. foto: afrizal malna

Pada karyanya yang lain, Suyatno kembali mencoba mengolah tema batas menggunakan mix-media dengan karya yang dihadirkan sebagai objek yang diletakkan pada dinding. Kebiasaan Suyatno bekerja dengan bidang dua dimensi seni lukis, tidak bisa dilepaskan ketika mencoba menggunakan objek yang berhubungan langsung dengan bidang tiga dimensi. Ada bidang kosong di dalam objek, dan ukuran yang mirip sama dengan bidang kosong itu, dihadirkan sebagai objek putih di luar bidang.

Karya Suyatno yang diberi judul “Batas Kertas” itu mengingatkan saya pada bentuk-bentuk mesin. Dan saya disadari juga bahwa Suyatno satu-satunya perupa yang memiliki latar pendidikan teknik mesin. Bentuk-bentuk mesin ini bocor, dan luput dari pengenalan lebih dini untuk kemungkinan membawa kertas ke wilayah yang sama sekali lain, yaitu wilayah mekanikal dunia mesin.

suyatno 1karya Suyatno foto: afrizal malna

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah karya Louise di bawah ini:

louise lastkarya Henryette Louise. foto: afrizal malna

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *