SALAH CETAK

Share!

Catatan Pameran “MAL” Oleh Heru Joni Putra

“Salah-cetak” adalah anak kandung dunia industri. Namun, sebagai anak kandung yang tak terelakkan, ia cenderung tak dianggap. Pergantian tenaga manusia ke tenaga mesin, selain sebagai kehendak untuk memproduksi barang lebih massif, juga sebagai evolusi untuk menghindari salah cetak. Mesin lebih patuh pada “kerapian produk”, sedangkan manusia— karena energinya terbatas, perasaannya tidak diam, begitu juga pikiran selalu bergerak, dan tentu saja hidup dalam kultur tertentu—sangat berpotensi untuk “merusak” kerapian tersebut. Campur tangan manusia, kemudian, hanya meneruskan apa yang sudah dikerjakan mesin. Namun begitu, bukan berarti mesin telah menyelamatkan manusia dari segala keterbatasan khas mahkluk hidup. Justru kehadiran mesin-produksi menjadi acuan untuk budaya kerja manusia: para pekerja mesti mengejar target produksi dan tentu saja tidak boleh memproduksi “salah cetak”.

 

“Salah cetak” bisa hadir dalam berbagai bentuk: Lelehan cat di huruf-huruf pada papan iklan, jahitan benang yang tidak sempurna pada celana levis, kancing yang tak punya lobang, kaleng makanan yang penyot sedikit, relief batako yang tidak akurat, goresan pada pemotongan telapak sepatu dan seterusnya. Setiap produk yang mendapat salah cetak seperti itu akan masuk ke dalam barang kelas dua dan dijual dengan harga yang lebih murah, meski secara kualitas tentu tak akan jauh berbeda. Dunia industri terlanjur “malu” dengan “cacat fisik” seperti itu, “malu” kepada kelompok konsumen tertentu yang diam-diam juga tak sudi menerima catat produk tersebab “keterbatasan” kerja manusia, terutama bila produk itu ditujukan untuk kelas menengah-atas. “Salah cetak” telah lama menjadi momok menakutkan dalam dunia industri: semacam luka lebih sering disembunyikan daripada disembuhkan.

 

Tapi, bagi seniman mural Farhan Siki, “salah cetak” justru menjadi sumber energi penciptaannya. Ia sengaja membawa “salah cetak” ke tengah gelanggang penciptaan seni rupa setelah sekian lama mesin industri meminggirkannya. Bila mesin industri menjunjung tinggi repetisi sebagai piranti untuk melipatkangandakan “kesempurnaan” produksi, maka Farhan Siki menggunakan repetisi untuk menunjukkan ataupun mengembalikan jejak-jejak manusiawi pada produk cetak via karya seni. Maka, tak heran, bila lelehan cat, garis yang tidak bersih-rapi, huruf-huruf yang saling berhimpitan, proyeksi ukuran yang tidak sepenuhnya seimbang dan sebagainya, menjadi pemandangan umum dalam karya-karya seni rupa Farhan Siki. Bila repetisi mesin industri menjauhkan diri dari otentisitas setiap satuan barang, maka Farhan Siki dengan kreatif menggunakan “salah cetak” justru untuk mengembalikan “hak otentik” setiap benda yang diproduksi oleh tangan manusia: tak ada yang benar-benar sama persis dalam karya seni Farhan Siki meski ia menggunakan teknik cetak yang sama. Di tangan Farhan Siki, “salah cetak” telah menyelamatkan kerja manual dari “kesempurnaan” yang menjemukan khas mesin industri.

 

Dalam kerja seni yang tak henti-henti untuk mengartikulasikan “salah cetak”, Farhan Siki kerap menggunakan kembali merek-merek produk industri (yang juga sering dipasangkan dengan simbol lainnya dalam kebudayaan kita). Tentu, kehadiran berbagai merek tersebut sebagai anak yang durhaka pada mesin industri. Segala merek tersebut tidak untuk mengamini kehendak pasar melainkan sebagai momen untuk mempertanyakan ataupun menolak keinginan asal-usulnya tersebut. Begitulah, dalam karya Farhan Siki, kita tak akan menemukan perayaan meriah atas konsumerisme, melainkan kita temukan sisi ironis yang berbeda dari siklus produksi-konsumsi massa, kadang kita lihat sisi rusuh dari dunia urban, atau kita rasakan kembali bagaimana kuasa tanda-tanda bekerja sampai ke sisi terkecil dalam kehidupan sehari-hari kita. Bila selama ini “salah cetak” disembunyikan untuk melegitimasi kesempurnaan mesin industri, kini “salah cetak” digunakan untuk menunjukkan dimensi MALpraktek dari dunia industri itu sendiri***

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *