[Riset] Tari Nenemo dan Musik Q-thik Tubaba

Share!

IMG-20180402-WA0004

Tari Nenemo

Pada tahun 2018 program Tari Nenemo dijalankan secara lebih intensif dengan lokus kerja yang tersebar. Bersama 37 peserta didik angkatan pertama ditambah dengan 15 peserta didik baru, koreografer Hartati memulai kembali latihan gerak-gerak dasar Tari Nenemo di Sesat Agung Bumi Gayo Ragem Sai Mangi Wawai. Berbeda dengan tahun sebelumnya kegiatan ini hanya terpusat di Sesat Agung, pada tahun ini lokus Tari Nenemo akan disebar di empat titik potensial di Tubaba, peserta didik terpilih membentuk kelompok-kelompok Tari Nenemo di delapan sekolah, situasi yang menginspirasi dibuatnya Festival Tari Nenemo yang direncanakan digelar pada bulan Oktober 2018 dengan konsep Site Specific Art. Pertemuan dengan sejumlah Budayawan Tubaba diharapkan mendapatkan sejumlah ide agar Tari Nenemo bisa lebih dikembangkan dan bukan tidak mungkin dari hasil pertemuan bisa menginspirasi penciptaan karya-karya baru. Riset terhdapat sejumlah tempat (kebun karet, lapangan, sungai dan sawah) adalah upaya bagaimana Tari Nenemo bisa menemukan ruang yang tepat baik bagi plastisitas ide dan tubuh penari maupun antusiasme apresiasi publik. Publik tetap menjadi subjek penting bagi program ini.

IMG-20180402-WA0007

Musik Q-Thik

Komposer Lawe Samagaha memiliki tanggung jawab ganda; sebagai penata musik tari Nenemo, sekaligus sebagai koordinator program musik yang pada awalnya memiliki tanggungjawab pengembangan instrumen musik Q-thik ( dikembangkan dari alat musik C-thik; menambah dua oktaf nada dari satu oktaf, pun mengembangkan anatomi istrumen menjadi gigantik). Kali ini Lawe memulai riset ruang di kampung tua Pagar Dewa, ini semacam riset atmosferal. Lawe mengidentifikasi ruang kampung tua dengan demografi dan organisme kampung yang unik, rumah-rumah tua berjejer rapih dengan pusat balai sesat yang berdiri di antara dua sungai Way Kanan dan Way Kiri.

Sebuah Makam Tua yang bersemayam Minak Minak Pati Prajurit atau Tuan Kemala Bumi, seorang tokoh yang dipercaya pemuka agama Islam pada abad 15. Pagar Dewa dipercaya sebagai asal usul orang Tubaba. Air sungai yang meluap membanjiri sebagai jalan kampung, burung-burung berwarna biru migrasi dari benua Australia, cerita tentang kerajaan gaib yang sewaktu-waktu mendengarkan suara gongnya di dini hari seturut Cerita Hermani S.p (Tetua Kampung), diambil oleh Lawe sebagai atmosfir yang dimungkinkan untuk penciptaan musik baru. Pun sebagai bagi penciptaan karya Tari dibawah koreografer Hartati.

IMG-20180402-WA0005

Dalam sesi workshop Lawe mengenalkan konsep “Tempo Menubuh”, peserta didik diharapkan mengenal dan mengalami rasa ketukan dengan ketentuan metronom yang berbeda (30,60, 120 second). Praktik ini dibagi dalam tiga tahap; pertama, Tubuh Diam (mendengarkan dan merasakan audio ketukan metronom); kedua, Tubuh Memukul, sembari memegang alat pukul tangan bergerak dengan mengikuti metronom dengan intensitas waktu yang variatip; ketiga Tubuh Bergerak, seluruh anggota badan, tanpa terkecuali bergerak dengan mengikuti metronom, pada awalnya peserta didik melakukan secara individual lalu kemudian berpasangan, dengan posisi bergantian memukul tubuh pasangannya. Workshop kali ini merupakan awalan bagi metode-metode selanjutnya yang akan dijalankan secara intensif satu tahun ke depan. Pada tahun 2018, materi musik bertambah, selain pengembangan alat musik Q-thik dan komposisi yang didasarinya, juga akan dipelajari materi musik-musik Barat.

 

/ Kolaborasi Tubaba

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *