PROSES. (Catatan Belajar Bersama Maestro 2018) oleh Heru Joni Putra

Share!

Program Belajar Bersama Maestro (BBM) Direktorat Kesenian Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI yang diselenggarakan di Studiohanafi (2-15 Juli 2018) bukanlah sebagai “jalur instan” bagi 15 murid SMA/Sederajat untuk menjadi “seniman”. Justru sebaliknya, program ini—paling tidak di Studiohanafi—mengajak para siswa sekolah untuk mengalami sekaligus memahami bahwa menjadi “seniman” bukanlah hal yang mudah. Namun begitu, bukan berarti mustahil. Para siswa tidak diajarkan melukis seperti misalnya ajaran dalam buku-buku “how to” atau semacam tips-tips instan ataupun siap saji, mereka melainkan diajak untuk tekun dan sabar dengan proses serta latihan demi latihan, bahkan mengenal tata-cara membuat acara seni, sembari menikmati pengalaman menyenangkan bertemu teman-teman baru dan melihat sendiri bagaimana seniman Hanafi bekerja sebagai pelukis. Dua pengalaman yang jarang bisa dipertemukan, tapi mereka mendapatkannya.

Bila kita percaya bahwa seniman-seniman terkemuka Indonesia telah melewati berbagai jalan serta “penderitaan” untuk bisa menjadi “maestro”, maka apa yang didapatkan para siswa tersebut dalam waktu yang sungguh singkat sangat tidak menjamin bahwa suatu kelak bisa menjadi seniman. Namun, tak dapat kita anggap sepele juga, tak jarang pemicu-pemicu yang sebentar seperti program BBM ini malah mengobarkan api yang tak mudah dipadamkan dalam jiwa anak-anak yang merasakan manfaat darinya.

Program BBM ini dengan suatu dan lain cara akan menjadi pintu masuk untuk mendapatkan pengalaman “mengenal” kesenian secara nyata bahkan berbeda ketika paradigma pendidikan seni di sekolah menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Tak jarang para siswa mengaku bahwa apa yang mereka bayangkan tentang seni selama ini bertolak belakang dari apa yang mereka ketahui secara sepintas. Kerja seni, yang dalam pandangan masyarakat kita dianggap hanya sebagai “hobi”, “hiburan”, “extrakurikuler”, ternyata dalam pengalaman BBM ditunjukan bahwa seni juga mensyaratkan adanya ketekunan, keseriusan, kesabaran, intelektualitas, tanggungjawab, dst. sebagaimana ranah lain seperti olahraga, sains, dst. Paling tidak, muncul suatu pemahaman bahwa menjadi seniman juga sebuah “cita-cita hebat”.

Pameran sederhana bertajuk “Ingatan Sebagai Konsep” ini adalah titik-temu antara pengalaman-pengalaman yang mereka dapatkan selama BBM, baik pengalaman latihan menggunakan alat dan membuat karya, pengalaman mencoba-coba membuat acara seni, pengalaman membuat konsep karya dari ingatan sehari-hari, dan pengalaman berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia. Bagaimanapun juga, semua yang ditampilkan sekaligus dihadirkan tersebut adalah sebuah “proses” dari proses-demi-proses-demiproses-demi-proses yang akan dilalui di kemudian hari, bilamana memang mereka sudah bercita-cita hebat jadi seniman. Begitu juga, pameran sederhana ini bisa saja jadi pameran terakhir dan satu-satunya sepanjang hidup bagi mereka yang memang pada akhirnya memilih jalan lain. Tak ada yang salah satupun. Apapun itu, yang penting, setiap jalan yang ditempuh mesti dilalui dengan kesadaran bahwa segala yang didapatkan secara instan tak akan bertahan lama. Kepada siapa saja, Studiohanafi selalu menekankan: Proses proses proses!

Comments

Comments are closed.