[Press Release] Musyawarah Buku Sehimpun Cerita Pendek “BUGIALI”

Share!

Studiohanafi bekerjasama dengan Komunitas Salihara mengadakan Musyawarah Buku cerita pendek berjudul Bugiali Karangan Arianto Adipurwanto. Musyawarah buku ini diselenggarakan di Serambi Salihara, Komunitas Salihara, Jl. Salihara No. 56, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 1 Februari 2019. Acara ini dimulai pukul 19.00 WIB – selesai. Dalam sesi diskusi, Sastrawan Yusi Avianto Pareanom akan berlaku sebagai pembicara, Fariq Alfaruqi sebagai moderator, dan Heru Joni Putra sebagai penanggap diskusi.

Bugiali adalah kumpulan cerita pendek karya seorang penulis dari Lombok, Arianto Adipurwanto. Ia lahir di Lombok Utara, 25 tahun yang lalu. Ia menyelesaikan kuliah di Program Bahasa dan Sastra di Universitas Mataram, Lombok. Selain itu, ia juga aktif di Komunitas Akar Pohon, sebuah komunitas seni yang berdomisili di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Cerpen-cerpennya telah disiarkan di pelbagai surat kabar dan situs online. Tahun 2017 Arianto diundang mengikuti Literature & Idea Festival (LIFE’s) di Salihara, Jakarta Selatan.

Kumpulan cerita pendek Bugiali ini terdiri dari 20 cerita pendek yang mulai ditulis Arianto sejak tahun 2015. Buku ini diterbitkan oleh penerbit Pustaka Jaya bekerja sama dengan Studiohanafi pada tahun 2018. 19 dari 20 cerita pendek yang terangkum dalam buku ini pernah diterbitkan di berbagai media cetak. Sampul buku ini merupakan lukisan karya Hanafi yang dibuat khusus untuk buku ini.

Dalam kata pengantarnya, Arianto menjelaskan bahwa penulisan karyanya dipengaruhi oleh kenangan traumatis masa kecilnya di Lelenggo, sebuah perkampungan yang terletak di sebelah utara Pulau Lombok. “Dengan menulis, saya seperti kembali ke kampung masa kecil saya,” ujarnya. “Saya dapat mencium aroma bunga kopi. Saya dapat melihat dengan jelas jernihnya sungai Keditan. Saya kembali menyusuri jalan-jalan setapaknya, juga, dan ini adalah hal terpenting yang saya kira hanya bisa terjadi melalui menulis, saya dapat menyaksikan kehidupan di dalamnya,” ia melanjutkan.

Beberapa cerita yang terhimpun dalam Bugiali ini diakhiri dengan strategi ending terbuka. Seperti dalam cerpen pembuka yang berjudul Suara Dari Puncak Bukit, bercerita tentang sepasang suami istri, Maq Colak dan Naq Colak, yang berselisih paham tentang makna kesejahteraan hidup. Maq Colaq dengan mudahnya menumbalkan anaknya demi tanah yang luas, sedangkan Naq Colak tidak terima dengan keputusan itu dan berniat ingin bunuh diri. Di akhir cerita, tidak dijelaskan apakah Maq Colak menggantung dirinya atau menghilang entah ke mana. Ending terbuka seperti ini menjadi cara umum yang digunakan Arianto.

Arianto mengatakan secara pribadi bahwa ia memang menyukai akhir cerita yang menggantung seperti itu. Akhir cerita yang menggantung ini akan menyisakan sesuatu bagi pembaca setelah selesai menikmati cerita-ceritanya. Ia menyerahkan ke pembaca sepenuhnya bagaimana cerita-ceritanya berakhir. Pilihan ending seperti itu punya alasan tersendiri baginya. “Pengamatan pada kehidupan sehari-hari yang membuat ending terbuka itu sangat mungkin dilakukan” ujarnya. Selain itu, di kumpulan cerita pendek ini, pembaca disuguhkan berbagai kosakata Sasak. Arianto sendiri menjelaskan bahwa dengan memasukkan kosakata Sasak, ia dapat masuk lebih dalam ke cerita yang ia buat.

/ Ulasan

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *