[Press Release] “Festival Tubaba #3”

Share!

Tubaba Multikultural “Dari Aku Menjadi Kita” 100 Tahun Transmigrasi

Tubaba, 5 November 2018 – Festival Tubaba merupakan presentasi akhir dari semua program pelatihan kesenian yang digelar oleh Pemda Tubaba bekerjasama dengan Studiohanafi dan Sanggar Pakem, berjalan sepanjang tahun di Sesat Agung Bumi Gayo Ragem Sai Mangi Wawai. Diikuti oleh sekira 300 peserta didik yang meliputi pelatihan Seni Tari, Teater, Seni Rupa, Musik dan Sastra.

Pada tahun ini festival memilih tajuk “ Tubaba Multikultural: dari Aku menuju Kita” sebuah tajuk yang memercayai bahwa multikulturalisme adalah fakta sosial sekaligus kata kerja yang terus menerus mesti diperjuangkan. Dengan mempercayai Multikulturalisme sebagai kata kerja maka kita bisa memberikan tendensi positif tinimbang melihatnya sebagai trauma pascakolonial di mana satu entitas dengan entitas lain melulu berada dalam situasi cemas akan pentingnya kesejajaran.

Alih-alih terefleksikan semata pada produk akhirnya, gagasan Multikulturalisme banyak bekerja pada wilayah proses kreatifnya, sehingga seluruh peserta didik belajar menghargai perbedaan, saling menyayangi, berempati sekaligus bekerjasama dalam membuat karya-karya kesenian yang diharapkan menjadi inspirasi masyarakat penontonnya.

“Kita bisa membayangkan bagaimana jika sebuah kota dibangun oleh ratusan manusia yang pernah ditempa dalam proses kesenian? Bagaimana jika sebuah kota setiap tahun memproduksi puisi, teater, musik, tari dan seni rupa. Atmosfir kebudayaan ini tentunya akan mampu menginternalisasi manusi-manusia yang berada di dalam kota tersebut” tutur Semi Ikra Anggara, Direktur Festival.

Pembukaan festival akan dimulai pada hari Sabtu, 10 November 2018 pada jam 7:30 pagi di halaman depan Islamic Center Tubaba. Akan ditampilkan musik kulintang, paduan suara Gema Tubaba yang akan membawakan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam 3 stanza, tari sembah sigeh pengunten, tari bedana, tari nenemo dan musik gambus. Reog akan mengantar hadirin ke area venue Sesat Agung untuk menyaksikan action painting oleh Hanafi, gitar klasik Lampung yang dibawakan Forum Muli Mekhanai Panargan sampai akhirnya menyaksikan sekira 100 karya Seni Rupa di dalam Sesast Agung karya 30 perupa anak dan remaja Tubaba.

Pada malam hari digelar panggung musik yang akan menampilkan Baleganjur, Gitar Klasik Buai Bulan Merintah, Marhaen Band, Sandrayati Fay (Bali) dan Batas Senja (Bandar Lampung). Penyanyi Sandrayati Fay diundang karena dianggap memiliki pengalaman dan kualitas yang mumpuni dalam seni musik, sehingga musisi jebolan sekolah teater dan Musik di Amerika Serikat tersebut bisa menginspirasi anak-anak Tubaba, khususnya bagi peserta kelas musik. Sandra direncanakan akan memberikan workshop bagi peserta pelatihan Musik terpilih.

Pada tanggal 11 November, acara dimulai pagi hari dengan launching buku sastra “ Bayang Menara di Tepian Kolam” karya 13 peserta pelatihan menulis sastra. Dalam launching buku tersebut akan ditampilkan pula musik klasik Barat dari Moors Duo, sebuah kelompok musik klasik dari Jakarta yang sedang konser keliling di beberapa kota di Indonesia. Juga ditampilkan kelompok Gitar Klasik Muara Mas yang beranggotakan 15 personel. Pada malam harinya pukul 7:30 WIB, akan tampil Teater Tubaba dengan lakon “Macbeth” karya pujangga William Shakespeare (Inggris), sebuah teater dengan tema Kudeta berdarah yang dilakukan seorang prajurit terhadap raja. Teater tersebut bermain dengan pendekatan interkultural. Dipentaskan di Kampung Budaya Ulluan Nughik, para penonton akan berkesempatan mendapatkan hadiah kipas angin dan ricecooker dengan sistem pengocokan voucher.

Pada tanggal 12 dan 13 November setiap sore digelar Festival Tari Nenemo yang diikuti oleh 9 grup dari seluruh Tubaba. Festival Tubaba akan ditutup pada tanggal 13 November malam di Uluan Nughik, dengan penampilan musik dari Sanggar Pakem, Teater Klatak “Kopyah” pengumuman pemenang Festival Nenemo dan Marhaen Band.

“Selamat untuk Festival Tubaba III. Mari kita rayakan keberagaman kita. Mari kita gembira karena kita bisa bersama-sama menjaga Tubaba. Dengan Festival Tubaba, mari kita sama-sama menunjukkan bahwa setiap tahun selalu ada kita perbaiki dan kembangkan. Semuanya oleh Tubaba dan untuk Tubaba” ungkap Umar Ahmad, Bupati Tubaba menyambut penyelenggaraan Festival Tubaba.

Tentang Sanggar Pakem
Proses terbentuknya Sanggar Pakem Tulang Bawang Barat (Tubaba) berawal dari ide sekumpulan pemuda desa Margo Kencono, Tulang Bawang Barat. Mereka adalah Koirul Hartoko, Ilham Yuli Isdiyanto, Rahmat Hidayat, Dwi Ahmad Istanto, Agung Triyadi, Febiyansyah, Rohmad Wardoyo, dan Bayu Sulistyo. Pada mulanya sekumpulan pemuda ini aktif bermain band bersama di sekitaran kantor Desa Margo Kencana. Kemudian kelompok ini tidak semata memiliki kesukaan pada seni musik (populer) tapi juga merasa harus mengembangkan diri pada bidang kesenian yang lain, ini juga didasari anak-anak dan remaja yang berada di lingkungan mereka memiliki banyak bakat dalam bidang Seni Rupa, Teater dan Tari. Pada tanggal 14 Agustus didekalarasikan kelompok kesenian bernama Jong Pakem dan kemudian pada tanggal 24 April 2017 berubah nama menjadi Sanggar Pakem. Berikut adalah beberapa kegiatan yang pernah dilakukan (seluruhnya di wilayah Kabupaten Tulang Bawang Barat)

Info lebih lanjut dapat hubungi Semi Ikra Anggara +62821 4436 5889

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *