Plotting dan Angkot Depok

Share!

Oleh Fiametta Gabriela dan Afrizal Malna

galerikertas membuat platform terbuka dan tertutup sekaligus dalam kerja kurasi yang mereka lakukan. Tertutup untuk tim kurasi mereka memilih seniman yang akan memproduksi karya pameran tunggal. Dan terbuka, karena seniman yang sedang pameran berdasarkan kurasi tertutup ini, harus melakukan transformasi pengetahuan melalui lokakarya maupun sharing. berdasarkan lokakarya dan sharing inilah kemudian berlangsung proses kurasi terbuka yang dilakukan seniman yang sedang berpameran terhadap peserta yang mengikuti platform terbuka ini. Dan kali ini adalah giliran Fiametta Gabriela yang sedang melakukan pameran dengan isu “setengah isi setengah kosong”.

Sore itu, para perupa yang akan mengajukan konsep pameran mereka untuk platform terbuka yang diselenggarakan galerikertas, sudah berkumpul di ruang utama galerikertas. Mereka membawa karya yang akan dipresentasikan. Fiametta Gabriela, yang akan menemani mereka melakukan presentasi, mulai melirik kanan-kiri. Konon, beberapa perupa ini, yang sebagian baru pertama kali “akan” melakukan pameran, bahkan presentasi karya, agak gugup. (Masak gugup, sih. Gimmick kali ya). Hanafi juga sudah berada di antara hadirin lainnya.

Mereka, delapan orang yang mengikuti platform terbuka ini (Ade kurniawan, Alin Sugiar, Dzikra Afifah Nurrasyidah, Charisa Adria Rizanti, Fairly Apriani, Paypaypow, Reza F Abiyyu dan Teguh Kurnia Ramadhan) adalah perupa yang rata-rata masih berusia 20-an, sebagian besar berbasis pendidikan formal.

“Dalam keluarga kami, dimana percakapan sering terjadi di meja makan, sendok menjadi perhatian saya. Karena sendok sedang mendesak tradisi makan bagi mereka yang masih menggunakan tangan untuk menyuap makanan langsung ke mulut. Sendok jadi medium yang memprantarai munculnya narasi-narasi etis dari orang tua untuk apa yang boleh dan tidak-boleh-kami-lakukan.”

“Burung gagak adalah lambang kesetiaan dan kuat” –  “Kuning adalah lambang harapan” –  “Kolase berbagai materi kertas pada karya saya ini menggambarkan kegembiraan” –  “Kenapa ada perang? Saya ingin di masa depan, perang tidak ada lagi”.

Apa hubungannya antara sendok, nilai-nilai yang sedang bergeser, dengan bentuk-bentuk abstrak geometri dan arsitektural pada karya? Apa hubungannya antara warna kuning dengan repetisi bentuk dan pembelahan bidang pada karya, ketika kita sedang membicarakan harapan atau kegembiraan? Mana yang harus dipilih antara mata (sebagai tatapan subjektif terhadap objek-objek tertentu) dengan godaan shoftware untuk memanipulasi effek-effek visual?

Beberapa kata kunci mulai bermunculan dalam presentasi mereka. Sebuah presentasi dimana sebagian perupa melihat medan representasi berlangsung sebagai semacam otoritas penuh yang dimiliki seniman; alih-alih seorang seniman merasa bisa mewakili medan sosial-politik yang berlangsung di sekitar mereka. Siapakah yang memiliki otoritas penciptaan? Dari mana datangnya otoritas ini?

Semi Ikra Anggara yang juga hadir dalam forum ini, ikut mengingatkan: medan representasi seperti apa yang sedang berlangsung dalam proses presentasi karya? Sebuah medan yang terkesan tidak terjadinya sirkulasi eksternal-internal sebagai proses logika penciptaan, yaitu ketika seorang perupa menghadapi isu-isu sosial-politik dari realitas yang dihadapi dan dijadikan sebagai titik-tolak berkarya. Atau logika ini cenderung terlewatkan oleh otoritas penciptaan yang terlalu dini untuk diterima begitu saja.

“Kertas” dan kemudian “tubuh”, merupakan dua medium yang cenderung saling menghadirkan satu sama lainnya, menjadi hal yang fundamental dalam platform terbuka yang diinisiasi Galeri Kertas. Karena itu pula skala terpendek dalam medan representasi merupakan premis yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Spektrum penciptaan yang terlalu melebar, dan membuat goyah sebuah gagasan yang terlalu besar, ditarik kembali agar bisa dialami tubuh.

Di sisi lain, beberapa perupa justru bertolak dari ruang internal mereka. Terutama ruang internal tubuh perempuan. Di antaranya dalam bentuk proses biologis, seperti menstruasi. Apakah darah menstruasi itu? Kenapa proses biologis ini oleh kepercayaan-kepercayaan tertentu dikonstruksi ke dalam makna-makna yang sama sekali tidak lagi berhubungan dengan fakta biologis itu sendiri. Misalnya, perempuan yang sedang menstruasi harus diasingkan dalam kehidupan sosial maupun spiritual. Menstruasi, alih-alih menjadi medan fiksi yang terbuka untuk dimanipulasi oleh berbagai praktik politik pembacaan.

Konstruksi kekuasaan atas tubuh perempuan tidak hanya berlangsung dalam soal menstruasi, tetapi juga pada tubuh kodrati perempuan dan menjadi bagian dari politik identitas yang sensitif. Misalnya, kenapa ketelanjangan juga harus dikonstruksi ke dalam bangunan makna yang menegatifkan tubuh perempuan? Sikap etis yang seksist dan rasis ini membuat tubuh perempuan menjadi medan politik identitas sekaligus medan komoditi yang laten dalam berbagai dimensinya.

Apakah cairan tinta berwarna merah bisa merepresentasi darah menstruasi perempuan, seperti pada karya Charisa Adria Rizanti di atas? Apakah bau bisa dilibatkan sebagai bagian spesifik dari aktivasi medan visual?

Perupa lain memunculkan beberapa karya dari ruang internalnya sendiri, sebagai sebuah pergulatan batin yang berlangsung dari dunia pekerjaan, keluarga dan rumah sakit jiwa. Ruang ini menghasilkan sebuah medan tatapan yang bisa mengubah dimensi ruang. Yaitu munculnya sosok-sosok dengan mata tertutup. Dan realitas tidak lagi ditempatkan di luar tubuh, melainkan di dalam tubuh. Sementara sang tubuh dikonstruksi sebagai mata terpejam yang bisa dibaca sebagai “mata-yang-menatap-ke-dalam”.

Ketika mata dipejamkan, tatapan berhenti, maka proses objektivasi tidak berlangsung. Dan ruang di dalam mata yang terpejam itu berubah menjadi ruang baru: dibukanya ruang internal sebagai tatapan ke dalam. Memejamkan mata menjadi pendekatan khas untuk menghentikan agresi dari objektivasi yang umumnya berlangsung melalui tatapan. Medan politik identitas di sini bergeser menjadi reflektif dan puitis. Medan ini berbeda dengan lukisan-lukisan Amedeo Modigliani yang mengubah mata menjadi lubang hitam, bahwa tatapan tidak diperlukan lagi ketika kita mulai masuk ke dalam alam jiwa seseorang. Mata sebagai lubang hitam, dalam seni lukis Indonesia juga bisa kita temukan pada karya-karya Jeihan (di antaranya juga untuk “menghadirkan” tubuh-puitis perempuan).

Amedeo Modigliani: Anna Zborowska). https://curiator.com/art/amedeo-modigliani/portrait-of-anna-zborowska

Menggunakan tatapan sebagai representasi terhadap setiap agresi yang datang dari politik identitas, merupakan formula yang bisa dimainkan antara tatapan hadirin yang melihat karya, dan sebaliknya: representasi mata pada karya yang memberi tatapan “khas” kepada penonton. Mata realitas dipertemukan pada mata fiksi yang terdapat pada karya. Medan representasi politik identitas melalui tatapan ini juga berlangsung pada karya Fairly Apriani. Memunculkan pertanyaan: Apakah identitas, yang melahirkan teritori arkhaik atas asal-usul dan dibekukan oleh tatapan, masih terus tetap kita gunakan, padahal kita ingin melawan setiap agresi sebagai effek dari aktivasi medan politik identitas yang beku dan keras?

Godaan-godaan kecil dimunculkan dalam proses presentasi karya dari 8 perupa ini. Termasuk menggunakan pandangan Dea Widyaevan yang ikut menulis responnya atas karya Flametta Gabrela pada katalog pameran. Dea mempersoalkan bahwa kerja akivasi visual dalam seni rupa, tidak selalu harus dibaca sebagai sesuatu yang fisikal. Godaan kecil dilanjutkan dengan menghadirkan kecenderung lukisan-lukisan realis Paula Modersohn Becker.

Paula Modersohn Becker: © Bildarchiv Preußischer Kulturbesitz / Nationalgalerie, SMB / Jörg P. Anders. Original: Nationalgalerie, Staatliche Museen zu Berlin

Karya Paula tidak semata merepresentasi sosok seorang gadis muda, tetapi juga ada gelombang kesunyian yang bergerak diam, bayangan kematian yang menyeruak dan alih-alih menguasai kita. Lukisannya tidak berhenti pada sosok sang gadis muda itu. Tatapannya juga tidak berhenti pada mata, melainkan terus bergema melalui proses tatapan ke depan dari sang gadis, dan memunculkan objektivasi-tak-hadir: apa dan siapakah yang sedang ditatap sang gadis dalam lukisan Paula itu?

Objektivasi-tak-hadir itu, membatalkan lukisan menjadi potret dan membatalkan tubuh perempuan dari pesona fisikalnya. Pusar, di luar tubuh, gencetan, tersungkur, mata-mata gentayangan, hendak kemana aku tidur? Di dalam awan, terlalu jauh.

Di tempat tidur, terlalu nyaman. Satu- dua melihat  lagi ke dalam, Yang lainnya, menelanjangi jejak tanpa tahu itu siapa.

Pengalaman tubuh, pencarian identitas, alienasi menjadi persoalan, berhadapan dengan informasi / data-data yang bertabrakan, banjir; data yang mempertanyakan data, berlarian dan dihilangkan. Era kontemporer yang berlapis-lapis mempertanyakan kembali, siapa, dimana, aku? memerlukan upaya-upaya lebih kritis untuk penemuan diri tersebut. Fenomena meminjam “aku” dari objek lain (yang dipililh dari kesadaran/tidak) menjadi lebih mudah diambil daripada melihat aku sebagai aku sendiri. Diri menjadi asing, dan perlunya persetujuan yang komunal.

Plotting:  -a secret plan or scheme to accomplish some purpose.

-also called storyline.

Plotting dalam bahasa Indonesia: merencanakan, berkomplot, bersekongkol. Dalam plotting ini, ada yang menjadi tujuan dalam pameran ini. Melihat fenomena yang terjadi saat ini, perlunya me-plotting untuk menciptakan alur kembali dari luar ke dalam tubuh. Menggunakan media dan latar belakang yang berbeda-beda dialog yang diciptakan akan beragam. Ini akan jadi menarik, dilihat dari percakapan-percakapan yang akan terjadi. Salah satu tujuannya, tubuh tidak lagi bermusuhan, dia sudah mengangkat bendera putih.

Tatapan pada gilirannya bisa dilihat sebagai penempatan, plotiing. Penempatan bisa berarti politis (otoritas) atau literasi (tradisi kritis). Plotting juga bisa berarti bagaimana kita menempatkan sebuah kerangka berpikir dalam bungkusan dan pada tempat yang membuatnya berdiri dan mengalir.

Angkot (angkutan kota) juga sebuah plotting dalam lalulintas kota di Depok. Tetapi juga sebuah un-plotting dalam banyak perilaku lalulintas yang gelap mereka di jalan, untuk mengejar penumpang dan memadatkan penumpang ke dalam tubuh angkot yang kecil. Hiruk-pikuk lalulintas dan tradasi lisan sebelumnya masih meramaikan tubuh angkot melalui penumpang yang tidak saling mengenal, tetapi saling menyapa. Supir angkot, karena masih bisa merasakan surplus melalui penumpang yang selalu memenuhi “setorannya”, masih sering berekspresi dengan menghias angkot mereka, memasang sound system untuk “musik angkot”, hiasan pada kaca jendela angkot, tulisan maupun sticker yang segar tertulis pada bagian belakang badan angkot: “Ayah sangat merindukan kamu, anakku …” yang memunculkan bayangan sebuah perantauan dengan meninggalkan keluarga jauh di kampung untuk mencari penghidupan (mata pencarian).

Kini, tubuh angkot itu kian sunyi, tidak hanya karena penumpangnya kian sedikit, terdesak oleh munculnya aplikasi-aplikasi baru dalam pelayanan transportasi kota. Para penumpang juga kian asyik dengan smartphone mereka masing-masing. Plotting berhadapan dengan un-plotting yang dihadapi angkot, dan tidak terbayangkan 10 tahun yang lalu. Bahkan kini, pemerintah kota Depok akan sedang membranding bahwa kota Depok merupakan kota di mana anak-anak mudanya banyak memproduksi berbagai aplikasi dalam pelayanan digital native.

Proses pameran ini, dari presentasi ke produksi, bisa diandaikan sebuah proses yang berlangsung antara plotting dan un-plotting kemudian plotting kembali.

Kota Depok yang sedang menggeliat sebagai urban-desa juga sebagai urban-post-kolonial ikut memberi spektrum bagaimana plotting dan un-plotting dilihat sebagai dinamik bahwa sebuah penempatan berarti juga bagaimana mengalirkan sesuatu agar penempatan tidak berarti berhenti dan ikut memacetkan yang lain.

Bayangkan, pameran berlangsung dalam tubuh angkot yang berkeliling selama 3 hari di Depok.###

 

 

 

 

 

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *