Peristiwa kekertasan

Share!

Catatan Pameran “PARALAKS FIKSI” Oleh Ugeng T. Moetidjo

PROLOG

Koneksi kita dengan kertas bakal segera berakhir. Setidaknya, dalam hal bahwa benda itu takkan lagi jadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, utamanya terkait dengan realitas keinformasian kita. Waktu bagi realitas ketermediaan kita yang baru itu kabarnya akan dimulai pada tahun 2020. Kertas begitu terhubung dengan pola kita bermedia. Akhir koneksi dengan media-media konvensional ini kelak menyudahi seluruh aktifitas dari moda komunikasi kita dengan menggunakan bahan baku itu dan menuntaskan segala bentuk keberadaan kita yang ditentukan lewat kertas. Kertas adalah penopang sekaligus penampang bagi kata atau citra agar termediasikan ke dalam beragam fungsi komunikatifnya. Sekarang saja kita sudah mulai terbiasa melepaskan kertas dari berbagai kebutuhan dan menggantinya dengan yang bukan kertas, yang imaterial, yang kita akrabi sebagai media baru. Habit meniadakan kertas ini sebelumnya sudah diawali dengan penggantian kata “cetak” ke kata “print”. Pada tataran sosial, perubahan kata bagi aktifitas yang sama ini bersifat budaya. Kata yang pertama dipandang merujuk pada kebiasaan konvensional kita dalam menggandakan atau memperbanyak dengan berorientasi pada pendistribusian gagasan atau konsep yang berupaya kita kekalkan melalui reproduksi mekanis; sementara kata yang kedua yang diinisiasi oleh mesin printer, menandai suatu bentuk relasi mekanis yang lebih personal dan berciri privat kendati baik “cetak” maupun “print” sama-sama masih mengandaikan lembar pulp. Posisi baru ini mengubah banyak dari gambaran, memori dan tatapan kita untuk tidak lagi berlangsung di atas kertas. Kecuali oleh kebutuhan yang sangat khusus dan mendesak, kini kita relatif di luar gagasan atau konsep untuk mengarsipkan Peristiwa kekertasan dokumen-dokumen pribadi pada materi kertas. Mencetak bukan lagi prioritas kecuali mungkin sesekali bila kebutuhan mendesak kita masih mem-print.

LAYER MEMORI

Tapi, di tataran ide-ide, kertas masih berpeluang menawarkan beberapa kemungkinan sebagaimana peranannya dulu. Salah satunya yakni pada layer ingatan. Sesudah masa pemanfaatannya nanti usai, mungkin gejala yang bisa terstimuli oleh hilangnya kertas dari kebudayaan kita ialah kerja memori berupa pengingatan kembali segala hal dari keterhubungan mutlak kita sebelumnya dengan kebenaran, melalui kertas. Bayangkan saat kertas sudah benar-benar tiada: tak pernah dilihat lagi oleh siapa pun, tak pernah dipegang, dan ketika itu ingatan tentangnya bisa menjadi mitos arkais. Pada situasi itu kembali terbayang bagaimana lembarlembar kertas telah mengukuhkan nilai-nilai—dari amanat sakral sampai sekadar pengetahuan profan—di samping kegunaan praktisnya sehari-hari sekadar pembungkus barang. Manakala kertas adalah alat kebenaran, ia menjadi media bagi cara kita mengada. Di dalamnya, terlacak memori atas seluruh narasi keberadaan manusia. Selain secara mental, pelacakan itu bisa berlangsung secara geografis karena gagasan, konsep dan gambaran kita tentang tanah yang kita tempati, negara yang kita huni dan dunia yang kita bayangkan, antara lain, tertanam lewat keyakinan akan akurasinya sebagaimana tertera di atas kertas. Peta pegangan tersebut, sebenarnya, hanya kita kenali dari lembar kartografis berskala. Geografi di atas kertas ini sekarang telah mulai bergeser ke geografi dalam kapasitas tera—penyimpanan teknologis paling mutakhir dari geopolitik ingatan. Tera adalah tanah pada geografi virtual. Dalam wacana kekuasaan internal yang sangat sentral, geopolitik ingatan ini direproduksi ke dalam buku-buku bacaan sekolah di mana motif dan tujuan dari wacana yang diproduksinya menempati ruang dan dominasinya.

Politik kertas oleh orde-orde pemerintahan, dari orde kolonial sampai Orde Lama dan Orde Baru, manifestasinya selalu merupakan propaganda keamanan, ketertiban dan ketenteraman. Dalam struktur propaganda tersebut kertas termasuk ke dalam metode identifikasi yang menjalankan mekanisme kontrol terhadap publik. Kertas memiliki makna otomatisnya sebagai perangkat yang mendistribusi informasi tentang identitas-identitas orang, masyarakat atau kelompok. Meksipun demikian, kertas menjadi sekadar alat dari sesuatu yang lebih kuat dan berpengaruh, yaitu: kata-kata dan/atau citra. Dengan kertas, kata-kata dan/atau citra yang diterakan di atasnya dapat terdistribusi sebagai ide-ide atau konsep-konsep dalam bentuk yang dapat dibaca secara visual. Maka, kertas adalah media visual yang memediasikan imajinasi maupun tindakan-tindakan praktis dan filosofis. Kebenaran pada kertas adalah segala hal mengenai sesuatu yang tampil di atasnya dan mengesahkan kefaktualan peristiwaperistiwa yang terjadi di luarnya. Sebaliknya, di tangan personal, kertas adalah fakta dari peristiwa kertas itu sendiri ketika menjadi medium katarsis maupun imajinasi seseorang yang telah melakukan pengubahan tertentu dengan meremas-remasnya menjadi benda untuk dilemparkan.

SIRKUIT PARALAKS

Salah satu tawaran dari kemungkinan ide dan material dengan kertas dan kemudian kritisisme terhadapnya merupakan peluang yang ingin 1 7 dipresentasikan dalam proyek pameran Paralaks Fiksi karya Cecil Mariani sekarang. Dalam hal ini, laku kritis terhadap kertas tersasar pada aspek kegunaannya. Ada tiga layer yang dibentangkan oleh Cecil melalui Paralaks Fiksi: pertama, adalah karya konvensional dwimatra dalam medium kertas; kedua, ‘mereka’ studio kerja; dan ketiga, mengupayakan proyek lokakarya/sekolah paralaks kertas dengan melibatkan sejumlah partisipan. Bagian pertama pada pameran ini bersumber dari citra representasional berbasis garis dari guratan arang dengan sedikit sapuan kuas—dalam nada monokromatis. Bagian yang kedua—satu ruang kerja semi tertutup di lantai ‘atas’ galeri—diorientasikan sebagai semacam ruang kontemplatif dari mana aktivis mengelaborasi gagasan secara dan berproduski; dan yang ketiga aula bagi ruang kolektif yang menegosiasikan beragam gagasan peserta untuk memproduksi konsep yang mengekplorasi sifat-sifat dan potensi trimatra medium kertas.

Bagian ketiga dari Paralaks Fiksi ialah menguji kapasitas material kertas manakala keberadaannya sebagai sarana, alat atau media diposisikan ke dalam pembalikan: dari ciri-ciri fungsionalnya yang umum ke sifat dasar kertas sebagai bahan baku semata. Perlakuan terakhir ini, mungkin akan tetap memberi status kertas sebagai medium namun dalam konteks dan kenyataan yang berbeda, menghindari rotasi sistem normatif menuju sirkuit organisme yang tersirkulasi di dalam lokakarya. Bagian kedua dan ketiga—ruang besar di lantai bawah—dari Paralaks Fiksi ini tidak hanya mempertanyakan dengan sangsi kepastian-kepastian tertentu, semisal apa yang dipandang sebagai pengetahuan tentang kebenaran, akurasi faktual tersistemnya, tetapi juga tentang kertas itu sendiri melalui ragam modus yang diterapkan terhadapnya.

Pada mulanya, kertas merupakan lembaran polos yang rata dan bersih—dan putih. Hampir selalu, kita mengidealisasi kertas ke dalam pola yang demikian. Konsep pembalikan atau penyimpangan atas gambaran seperti itu merupakan suatu tindakan yang belakangan terhadap sifat-sifat mudah lentur sekaligus rentan dari kertas. Ketika ternyata ia kucal, robek, koyak dan sebagainya, dapat dianggap telah terjadi sesuatu dengan kertas itu, selalu dalam relasinya dengan sesosok individu. Pada azasnya, kertas itu sendiri tidak memiliki motif kecuali yang terjadi di luar dirinya. Ia tidak memproduksi fiksifiksi apa pun ke dalam narasi dirinya sendiri.

Proyek pameran ini menggiring kita dalam mengenali fenomen fisik dan psikis kertas untuk memerankan ragamragam model fiksional, justru, melalui fakta-fakta yang kasat mata pada materialitasnya sendiri. Jadi, kertas diposisikan kembali pada keadaan awalnya sebagai suatu lembaran yang dengan mudah menuruti kelenturan wujudnya sendiri ketika materialitasnya benar-benar dibebaskan dari alihfungsi yang menjadi bebannya sepanjang peradaban. Di sini kertas dikembangkan berdasar kemampuan dari kondisi primernya sendiri secara mekanis ke perlakuannya secara organis yang menjadi sistem. Pada masanya, kertas adalah benda teramat penting. Ia alat komunikasi, penampang informasi. Jika kertas dilepaskan dari perannya sebagai sarana atau alat bagi apa pun—taruhlah, melepaskannya dari teks dan/atau citra yang lekat padanya, apakah kertas bisa disangsikan perannya ketika ia telah dianggap nirmakna karena berada di luar apa yang secara adekuat diterimanya.

Kertas adalah media di mana teks dan/ atau citra divisualkan, diberadakan, diberdayakan, agar berada dalam keterbacaan, bahkan secara durabel. Kemungkinan dari layering kertas itu adalah konsep tentang tiga layer yang sama-sama mepresentasikan kertas. Dokumen-dokumen arsip seni rupa yang ditarik dari lembaga-lembaga kearsipan meski dianggap sebagai arsip sungguhan, tentu saja, hanya salinan kertas foto-kopian. Dokumen aslinya, yang pernah diterbitkan dalam format kertas cetak, tetap tersimpan di lembaga terkait. Sementara, salinan dokumendokumen itu dalam format digital sudah melampaui wujud aslinya dari format kertas cetak terbitan. Digitalisasi telah menghapus fenomen fisik dokumen yang dapat teraba kendati ciri-ciri asli cetaknya dalam kertas masih dapat dilihat lewat resolusi citraannya. Apabila di-print, hasil tampilannya pada kertas dapat membayangkan citra asalinya.

Tanda-tanda fisikal kertas dapat dilihat dan diraba dari besarannya, warna, tekstur, maupun kualitas serat bahan tapi juga kelenturan serta kegetasannya. Pengamatan tersebut bisa menentukan bentuk perlakuan terhadap kertas sebagai medium kekaryaan untuk proyek pameran ini. Sebuah jalur komunikasi dari mana aktivis dan partisipan mulai mengonstruk bentuk karya yang akan digarap. Hal ini dapat menjelaskan bagaimana format kerja-kerja personal di area kolektif mendefinisikan dan menata hubungan-hubungan yang akan berlangsung antara wacana sosial dan budaya dengan tangan-tangan yang membuat produksi-produksi itu. Ruang relasional tersebut menunjukkan bagaimana konsep sensibilitas memasuki kontak antara tangan dengan kertas, juga respons anggota-anggota tubuh lainnya dengan ide-ide dan praktik-praktik kekertasan, kestabilan emosi dan keadaan-keadaan psikis pembuat dalam momen-momen kerja produksi—berpengaruh pada bentukbentuk perlakuan terhadap kertas sebagai tindakan personal sekaligus publikal. * * *

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *