Pengantar Pameran Scavenging Stories

Share!

Di era komunikasi visual yang semakin bergerak cepat saat ini kita tak henti-henti berada dalam tegangan antara “presentasi” dan “representasi”, antara kenyataan aktual dan duplikasi atas kenyataan itu, antara keseharian yang kita alami sebagai pengalaman langsung dan keseharian yang kita rasakan via medium visual, begitu seterusnya.

Tegangan seperti itu terus-menerus menguji cara kita melihat kenyataan. Semakin berlimpahnya produksi dan persebaran representasi atas kenyataan maka semakin kuat tantangan yang kita hadapi dalam melihat kenyataan itu sendiri. Hal itu dimungkinkan karena hubungan antara kenyataan aktual dan duplikasi atas kenyataan itu tak selamanya dalam hubungan linear. Apa yang kita lihat dan rasakan secara langsung tidak semerta-merta akan seperti itu juga dalam bentuk medium komunikasi visual. Seringkali terjadi,  secara teknis, antara keduanya telah menjadi ‘dua kenyataan yang berbeda’ dan tak mungkin disamakan lagi. Namun, secara sosial, seringkali tetap dimaknai sebagai sesuatu yang sama.

Pada titik ini, kita sesungguhnya sedang bicara soal “the politics of framing”, yaitu bagaimana realitas dibingkai dengan suatu dan lain cara, kemudian dari hasil pembingkaian itu kita mendapatkan informasi atas kenyataan itu sendiri. Era media sosial membuat kita lebih banyak mendapatkan informasi via metode pembingkaian seperti itu daripada informasi yang katakanlah utuh-penuh—terutama untuk informasi besar yang bergerak dengan cepat.  Ini konsekuensi yang tak dapat dielakkan, tentunya. Kita bahkan sudah terbiasa dengan metode seperti itu. Hingga kemudian menyebabkan munculnya semacam kultur di dalam kehidupan kita di era media sosial ini, yaitu kultur pembingkaian (framing culture).

Kita saat ini sangat sadar bingkai. Kita sungguh sadar pentingnya “angel”. Kita begitu sadar tentang fungsi sederhana sampai fungsi politis dari suatu representasi. Sebuah foto yang ditampilkan atas suatu peristiwa selalu mengandung jarak dengan kenyataan yang direpresentasikannya. Sebuah unggun kecil di depan sebuah massa demontrasi bisa tampak seperti sebuah kebakaran besar akibat teknik pembingkaian tersebut. Seseorang yang gendut bisa saja tampak lebih kurus akibat teknik pengambilan gambar yang tepat. Malaikat yang turun dari langit pun mungkin bisa tampak seperti kutukan tuhan paling brutal bila bisa dibingkai sedemikian rupa. Atau sebaliknya, bencana alam yang begitu menakutkan bisa jadi lanskap yang menimbulkan decak kagum tersebab pengambilan gambar yang berbeda dan canggih. Potret memukau dari seseorang bisa saja berasal dari penggabungan strategi pengambilan gambar yang canggih. Singkat kata, dalam “kultur pembingkaian” saat ini kita mendapatkan pisau bermata dua: bisa dipakai untuk membunuh sesama manusia dan bisa dipakai untuk membantu kerja manusia. Perkembangan menakjubkan media komunikasi visual bisa menjadi kaca pembesar bagi realitas sekaligus bisa menjadi batu penghancurnya.

Pameran para perupa muda pilihan Rob Pearce ini, salah satunya, mencoba berperkara dengan kultur pembingkaian seperti itu. Mereka mencoba bermain-main di antara “presentasi” dan “representasi”, antara kenyataan yang dialami dan kenyataan yang direplika. Lebih spesifiknya: antara karya seni sebagai objek material dan karya seni sebagai duplikasi dalam bentuk foto.

Dalam workshop yang diselenggarakan di Galerikertas Studiohanafi, 11-15 Mei 2019, Rob Pearce mengajak tujuh perupa muda untuk mengalami salah satu metode penciptaan karya yang pernah dilakukannya. Sekitar lima tahun lalu, Rob mencoba membuat karya fotografi yang berlandaskan karya seni rupa. Pada mulanya karya seni rupa dan kemudian berujung pada karya fotografi. Karya seni rupa tidak diposisikan sebagai hasil akhir dari kerja kreatif melainkan hanya proses untuk mencapai penciptaan suatu karya fotografi.

Rob membuat karya dari tumpukan kertas buku, majalah, kertas sembahyang, dan sebagainya. Tumpukan kertas itu diolah sedemikian rupa menjadi lapisan demi lapiran kertas dengan komposisi huruf-huruf, kalimat-kalimat, gambar-gambar serta warna-warna yang acak dan ekletik. Salah satu cara pengolahannya yaitu dengan merobek ataupun mengukir (dengan motif tertentu, seperti padi atau dedaunan) sedikit-sedikit tumpukan kertas itu sehingga muncul hubungan tak terduga antar lapisan demi lapisan kertas, antar warna demi warna, antar huruf demi huruf di dalamnya. Pada tahap ini karya Rob tersebut menampilkan kepada kita begitu banyak detail yang setidaknya tersusun dari permainan pada lapisan, permainan pada huruf, permainan warna, dan juga permainan pada motif ataupun sobekan.

Rob bahkan memperkaya detail dalam karyanya dengan mengikutsertakan alam untuk memproses karya kertas tersebut pada tahap selanjutnya. Karya itu dibiarkan berpanas dan berhujan dengan jangka waktu yang tidak ditentukan. Proses pelapukan, pelumutan, pemudaran dan seterusnya yang didapatkan secara alamiah tersebut memberi kejutan-kejutan visual dan tekstur tertentu pada karya Rob tersebut.

Setelah itu, Rob memotret karya kertas tersebut dan kemudian mencetaknya sebagai karya fotografi. Lalu, karya seni rupa tadi, dibawa ke mana? Bagi Rob, itu hanya proses dari penciptaan karya fotografinya dan oleh sebab itu karya tersebut kemudian dibiarkannya melapuk atau mungkin dibakarnya. Namun begitu, tindakan pembiaran karya seni rupa kertas itu tetap ada maksudnya. Dengan hancurnya karya kertas itu maka karya foto tersebut jadi sebuah karya yang tidak bisa diulang. Seperti sebuah momen yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, yang hanya terjadi sekali itu saja, dan tak bisa diulang dengan persis sama. Dalam hal ini, Rob tampak ingin memberikan “aura peristiwa” ke dalam karya fotografinya. Ketika memoto karta kertas itu, Rob tidak sedang memoto objek material saja, melainkan sedang memoto “sebuah peristiwa”.

Begitulah deskripsi sederhana atas salah satu metode penciptaan Rob Pearce yang kemudian dicoba praktikkan oleh tujuh perupa muda tersebut. Dalam penerapan metode itu pada workshop di galerikertas, para perupa muda itu tidak sepenuhnya memakai metode itu sebagaimana Rob melakukannya. Sebagaimana dikatakan sebelumnya, dalam tujuh perupa muda tersebut menggunakan metode itu dengan cara mengkontekstualisasinya ke dalam situasi saat ini. Setelah difoto, mereka tidak membiarkan karya seni rupa mereka itu melapuk sendiri, melainkan tetap mereka pamerkan bersamaan dengan karya fotografi tersebut.

Penekanan yang diberikan perupa muda itu dalam mencoba metode Rob Pearce tersebut adalah pada perbedaan antara karya seni rupa dan karya fotografi menggunakan teknik cropping. Karya kertas mereka itu difoto lalu mereka kemudian memilih bagian-bagian yang dianggap menarik dan kemudian dicropping. Bagian yang telah dicropping itu kemudian dicetak dan dipamerkan sebagai sebuah karya tersendiri dan berbeda dari karya aslinya (karya kertas tadi).

Dengan cara seperti itu, mereka sedang menunjukkan bagaimana perbedaan sensibilitas dalam melihat karya pertama (karya seni rupa kertas) dan karya kedua (karya fotografi) yang mana pada sisi tertentu akan membawa kita pada tegangan antara “objek foto” dan “hasil foto”, antara “kenyataan yang diamati” dan “kenyataan yang direproduksi”, antara “presentasi” dan “representasi”, dan yang tak kalah penting, menunjukkan kepada kita bagaimana efek dari sebuah “framing” ataupun “cropping” terhadap cara kita merasakan suatu kenyataan.  (Heru Joni Putra)

/ Catatan Pameran, Galerikertas

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *