Pengalaman Pribadi

Share!

Catatan Pameran “PLOTTING” Oleh Heru Joni Putra

Bagaimana seniman mengelola “pengalaman pribadi” dalam penciptaan suatu “karya untuk publik”? Tak ada karya seni yang bisa terbebas dari pengalaman pribadi senimannya. Tidak semua pengalaman pribadi seniman yang kemudian muncul sebagai aspek dominan dalam suatu karya, meskipun ada juga yang memilih untuk menghidupkan suara karyanya berdasarkan pengalaman pribadi seniman itu sendiri.

Pengalaman pribadi bisa muncul sebagai pemicu dari proses penciptaan karya, lalu dalam perjalanan penciptaan tersebut, pengalaman pribadi ikut terseret ke belakang layar, sementara karya itu terus berevolusi menemukan suaranya sendiri, yang mungkin tidak lagi identik dengan pengalaman pribadi senimannya. Dalam hal ini, pengalaman pribadi mungkin hanya jadi salah satu elemen kecil dari komponen-komponen yang menyusun suatu karya. Dan pengalaman pribadi pun bisa juga tetap bertahan, dari sebagai pemicu untuk penciptaan suatu karya sampai ke suara dominan ketika karya tersebut sudah dianggap selesai oleh senimannya. Suatu karya seni, dengan begitu, ditujukan sebagai “loudspeaker” dari pengalaman pribadi.

Apapun modus keberadaan pengalaman pribadi dalam suatu karya seni, tampaknya tidak mudah bila pengalaman pribadi itu akan hadir seutuhnya sebagaimana ia rasakan senimannya. Ketika suatu peristiwa terjadi, maka tubuh kita sekaligus menjadi medium pelibatan (aksi tubuh) dan medium penyimpanan pengalaman (memori tubuh). Bila yang pertama berurusan dengan “pengalaman otentik” maka yang kedua berkaitan dengan “reproduksi pengalaman”. Kedua peran tersebut dijalani oleh tubuh kita dan penciptaan karya seni berbasis pengalaman senantiasa memicu kembali munculnya kedua peran tubuh tersebut dengan cara yang tidak gampang. Ketika “memori tubuh” dicoba untuk menjadi jalur utama untuk memanggil “aksi tubuh”, usaha tersebut tak selamanya berhasil. Atau ketika “aksi tubuh” diharapkan muncul sepenuhnya kembali, “memori tubuh” menahan atau memiuhkan sedikit-banyaknya.

Oleh sebab itu, penciptaan karya seni yang berbasis pengalaman pribadi tampaknya menjadi tegangan yang tak pernah selesai antara tubuh yang merasakan pengalaman otentik dan tubuh yang mereproduksi pengalaman tersebut ke berbagai medium, suatu relasi yang saling memperkarai antara “aksi tubuh” dan “memori tubuh”. Ketegangan serupa itu sangat mungkin terjadi, salah satunya karena tubuh tidak selamanya menyimpan pengalaman otentik. Dalam hal memori sebagai suatu “konstruksi sosial”, tubuh kita sangat mungkin untuk menyimpan peristiwa yang tidak kita alami sendiri, tapi peristiwa yang sudah jadi “memori bersama” yang mana kemudian tubuh kita dilumrahkan untuk menyimpannya sebagai/seakan-akan pengalaman otentik kita sendiri. Seperti peristiwa politik yang menghasilkan trauma tertentu, ingatan akan peristiwa itu disimpan oleh tubuh orang-orang yang mengalami langsung, tapi dengan suatu dan lain cara seringkali tak dapat dielakkan bahwa tubuh-tubuh yang berada di luar ruang dan waktu peristiwa tersebut kemudian turut menyimpan memori-memori yang muncul karenanya. Mungkin ini semacam tubuh yang terdisiplinkan oleh memori kolektif—entah itu memori negara, memori kelompok, dst. Yang jelas, tubuh selalu berpotensi untuk menyimpan “memori” yang tak selamanya dirasakannya sendiri.

Dalam berhadap-hadapan dengan persoalan tersebut, seorang seniman tak jarang merasa karya yang dibuatnya masih belum cukup untuk menyampaikan pengalaman pribadinya (atau mungkin senimannya cemas belaka bila pengalaman yang sudah direproduksi dalam karya seni itu justru berpotensi untuk bergerak liar dari pengalaman otentik), maka biasanya seniman tersebut ikut bersuara menjelaskan maksud karyanya kepada publik. Kadangkala “maksud” tersebut ditujukan sebagai “maksud sebenarnya” dan ada juga yang sekedar “maksud awal-mula” yang tidak berpretensi menjadi “maksud sebenarnya”. Dalam kasus seperti itu, biasanya seorang seniman menjadikan karyakarya sebagai representasi paling dekat dari berbagai pengalamannya.

Dalam berurusan dengan pengalaman pribadi, selain seperti contoh di atas, para seniman lain biasanya menjadikan pengalaman pribadi tak lebih sebagai pemicu belaka atau pada akhirnya membiarkan terciptanya jurang pemisah antara pengalaman pribadi dan ekspresi utama yang muncul dari karyanya. Mungkin, kalau merasa diperlukan, ia akan menyeberang dengan hati-hati, melewati jurang itu, dari “karya untuk publik” ke “pengalaman pribadi” dan kemudian balik lagi dengan tak kalah hati-hatinya. Barangkali seniman dalam kasus seperti ini mencoba untuk lebih mengandalkan “memori tubuh” daripada “aksi tubuh”, berpijak pada reproduksi pengalaman daripada bersikeras untuk menghadirkan pengalaman otentik seutuh mungkin. Karena tubuh menyimpan banyak memori, yang tidak saja dari satu peristiwa, tetapi juga menyimpan memori bersama, maka seringkali seniman berpikir bahwa penghadirkan kembali pengalaman otentik menjadi mustahil. Justru yang diharapkan oleh seniman tersebut adalah suatu gejala yang mencuat dari akumulasi berbagai memori tersebut. Kerja mencipta karya seni kemudian menjadi ikhtiar untuk mengabstraksikan segala jaling-kelindan dan silang-sengkarut memori, pengalaman, pikiran, dst. ke dalam suatu konsep penciptaan. Dengan begitu, pengalaman pribadi—yang otentik itu—seringkali menjauh dari potensi suara dominan dari suatu karya. Senimannya, oleh sebab itu, merasa tak perlu lagi terlalu banyak bicara tentang pengalaman pribadinya. Mungkin ia merasa karyanya telah punya suara sendiri, yang tak harus diidentifikasi melalui pengalaman pribadi yang memicu lahirnya karya tersebut, meskipun di saat yang sama kadang ia mempersilahkan pemirsa karyanya menelusuri jejak personal dalam karyanya.

Begitulah setidaknya dua modus kehadiran pengalaman pribadi dalam karya seni. Tentu keduanya tidak berkaitan dengan persoalan baik ataupun buruk suatu karya. Ini hanya soal cara seniman memperlakukan pengalaman pribadi. Sejak dahulu sudah banyak seniman memperlakukan pengalaman pribadinya dengan cara kedua tersebut dan sama-sama menghasilkan karya terbaik darinya, meski tentu banyak pula yang bekerja di luar kedua modus penciptaan tersebut. Yang jelas, pameran “Plotting” oleh delapan perupa muda pilihan Fiametta Gabriela ini menunjukkan kedua hal tersebut. Sebagai sebuah proses panjang dalam menciptakan berkarya selanjutnya, kedua hal tersebut tentu mesti dicoba sebaik-baiknya. Barangkali ada yang nyaman dengan salah satu cara atau mungkin ada yang ingin keluar dari kedua modus penciptaan tersebut. Seniman yang tidak ingin cepat mati tentu sering mengevaluasi cara kerjanya sendiri, baik lewat jalur diri sendiri atau lewat jalur pandangan orang lain. Selamat untuk delapan perupa muda yang sangat bersemangat. Perbedaan pengalaman pribadi dan orientasi berkarya akhirnya bisa di-plotting dalam satu ruang dan waktu. Selamat memamerkan proses.

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *