Paralaks fiksi: pameran, kertas dan pedagogi

Share!

Catatan Pameran “PARALAKS FIKSI” Oleh Cecil Mariani

Paralaks fiksi berangkat dari rangkaian pertanyaan panjang yang tak nyaman. Kenapa saya berpameran/kenapa saya merancang sekolah? Apa itu pameran/sekolah? kenapa dia berfungsi dan masih bertahan? Bias dan titik buta apa yang saya cenderung saya produksi dalam konteks pameran/sekolah?

Apa yang ingin saya hadirkan lewat fiksi permainan pameran/ sekolah? bagaimana saya membingkai pameran/sekolah ketika saya tidak tahu persis bias fiksi-fiksi saya sendiri? Dengan konteks kelangkaan akses ruang berproduksi dan ruang belajar non-fiksi dominan, bagaimana saya menyiasati ruang belajar, bekerja dan berkarya itu sendiri? kenapa harus ruang? Bagaimana subyektifitas saya terbingkai dan ditaklukan oleh konteks pameran/sekolah dan jejaring sosialnya? Suara, kenangan, pikiran, nilai-nilai siapakah yang saya reproduksi dengan mengira bahwa itu adalah suara, kenangan, pikiran dan nilai nilai saya sendiri? Bagaimana saya mengagas pameran/sekolah di bingkai itu? Bagaimana menimbang keterhubungan banyak hal yang membuat sebuah fiksi bernama pameran/sekolah terselenggara, disepakati nilainya dan saya bagian dari komponen di alur permainannya? Bagaimana menyampaikan binatang tawaran pameran/sekolah atau fiksi-fiksinya dalam bingkai komunikasi, konsensus, media kertas, media pameran/ sekolah, relasi keterhubungan yang memungkinkannya? dan lantas apa? Saya belum bisa menjawabnya semua dan justru akan menjebloskan anda semua untuk turut memikirkannya.

Fiksi yang saya maksudkan bukan sifat narasi seperti yang umumnya dipakai untuk kategori sastra. Ia lebih besar dari narasi karena kehadiran narasi membutuhkan suatu konsensus hukum dan aturan realitas. Narasi adalah aplikasi. Fiksi, sistem operasi. Dibalik fiksi ada sejenis sistem dan semua sistem bentuknya rangkaian permainan. Fiksi adalah kedok sekaligus antarmuka navigasi. Seperti  baju perlengkapan selam atau jelajah antariksa, direka dengan mengasumsikan alam jelajah yang keras dan tak tertebak juga mengancam. kita mengenakan fiksi yang kita yakini untuk bergerak dan menjelajah agar tak terlahap oleh pengalaman dahsyat di luar sana yang lolos dari proses pemaknaan kita. Tapi kita kemudian dikenakan oleh fiksi- -kedok dan tambalan kita sendiri, dan diprogram olehnya agar bergerak sesuai alur fungsi-fungsi nya. fiksi juga membuat kita mengabaikan hal-hal di luar hukum fiksi, Kita lupa bahwa fiksifiksi besar adalah fiksi yang kita sepakati dan turut bermain melanggengkannya, lalu kita lebih sering jadi perkakas untuk fiksi-fiksi bisa bekerja. Dikondisikan oleh fiksi dan fiksi menciptakan kondisi hidup kita. Lalu tanpa daya kita menyebutnya non-fiksi.

Saya dikondisikan oleh pameran, kecemasan saya akan pengkondisian yang lebih besar yang mengkondisi pameran membuat saya justru mengambil pameran, perupa dan atau sekolah/ lokakarya sebagai kedok penambalnya. Pameran/sekolah adalah paralaks fiksi, tambalan siap pakai atas apa yang bocor dari realitas. Paralaks dari fiksi yang saya suapkan ke diri saya sendiri soal kenapa saya mempraktekan ini, menampilkan ini, berbuat itu, menggambar ini dst. dengan fiksi yang akan saya makankan ke publik sebagai norma pameran/sekolah dalam yaitu fiksi yang berpretensi mendamaikan kegelisahan akan absennya isu, konteks dan pemaknaan dari pengantar pameran.

Tambalan atas apa yang bocor dari jahitan realitas pameran? Ketika penghidupan dilimpahi dengan makna kedaruratan dan krisis sosial, kenapa pameran/sekolah yang diupayakan/ ditambalkan? Selalu akan ada argumen isu-isu sosial yang merelevankan pameran/sekolah, atau pameran/ sekolah yang relevan adalah yang mengkritisi konteks-konteks sosial. Saya menyangsikannya. Konsep paralaks menggeser posisi dasar pembentukan fiksi-fiksi tentang apa yang saya kerjakan dan mengapa saya mengerjakannya, juga soal apa yang diharapkan publik yang tentang pameran. Paralaks fiksi membuka modus produksi saya yang berfungsi dalam relasi sosial saya dengan rekan-rekan di seni budaya yang merupakan bias jurang/gap tak sadar, semi sadar dan sadar. Tentang fiksi yang saya ciptakan sendiri dan fiksi yang muncul tentang saya dan apa yang muncul dari karya usai produksinya. koherensi fiksi yang korslet atau gagal menutup atau menambal bingkai pameran dan saya mencari dan membutuhkan fiksi baru yang plastis untuk sebuah pameran/sekolah

Paralaks fiksi meraba dan menerka sumbu ganda beberapa kedok rekaan dan berusaha mencari cara-cara menggeser pengulangannya.Paralaks adalah konsep cara, upaya meringkus fiksi-fiksi, nonfiksi maupun asal muasal jurang-jurang bias menjadi sesuatu kategori benar yang tak disangka-sangka dari komponen fiksi yang sama. Paralaks adalah alterasi dari beberapa titik fiksi yang tak nampak terkait namun tersangkut satu sama lain dalam bias pada gapnya. Ia variasi perbedaan atau penyebab yang baru tercipta, ragam bias yang bisa merujuk ke arah posisi atau trajektori yang sama maupun bergerak ke sejenis yang liyan baru yang kita butuhkan ketika pameran/ sekolah menjadi fetis komoditas yang melampaui nilai semata guna. Dari sebab memproduksi akibat namun akibat juga menyebabkan sebab. Fiksi yang korslet karena ia bocor. Yang bocor bisa bergerak paralaks sehingga ia menjadi yang tak disangka-sangka.

Kedok Pameran Gambar 7

‘Paralaks fiksi’ merupakan kerja dari kata benda ‘pameran’. Pameran adalah salah satu praktek kita bersama di kesenian bersepakat untuk asyik tambal-menambal, menegosiasikan sudut pandang dan merangkaikan fiksi-fiksi yang bocor seputar realitas. Fiksi yang tengah populer kini seputar pengalaman pribadi seniman, sejarah dan arsip, kolektifitas dan praktek-praktek melibatkan masyarakat serta ragam fiksi heroik yang baik lainnya. Fiksi-fiksi yang terproduksi dalam Pameran adalah gejala dari kebocor-bocor fiksi-fiksi yang lebih berkuasa.

Pameran, juga kerja-kerja kita seharihari adalah fiksi-fiksi yang efektif dan produktif namun tak memuaskan. Pameran merupakan suatu konsensus/ konvensi fiksi yang kokoh tentang satu mekanika platform, suatu sistem kesepakatan yang dibangun atas operasi rupa-rupa kerja pemain, aktor, agen, dan relasi antar obyek-obyek tertentu di atasnya bisa merepetisi, memproduksi dan mereproduksi ragam fiksi-fiksi baru lewat kerja fiksi, lewat kerja imajinasi. Sangking kokohnya ia otonom sebagai nilai, dan diselenggarakan dimana-mana tanpa pusat kekuasaan yang kentara jelas menginstruksikannya. Kekuasan yang saya maksud biasanya bercokol di titik buta kita. Tentunya terkait dengan rantai berantai mekanika platform mesin fiksi lainnya; fiksi ekonomi, fiksi kebangsaan, fiksi ketergantungan pada sistem finansial, fiksi tentang asal usul dan obsesi akan identitas dan identifikasi. Fiksi adalah abstraksi peta tatanan yang menginformasikan nilai suatu permainan sekaligus wajah antarmuka dan baju perlengkapan yang memungkinkan interaksi-aturan maintatanan terbentuk.

Kembali ke pertanyaan kenapa saya berpameran/membuat sekolah? fiksi internal saya yang tak bisa menjawabnya dengan memuaskan karena ia selalu bias, namun toh saya menjalaninya juga dengan jerih payah kerja menyelenggarakannya dan menciptakan fiksi pendamaian soal kenapa saya mereproduksi. fiksi apa dan siapa yang saya jalani? Dan dari apa saya menciptakan kedok ini? kedok semacam jembatan mediasi terhadap realitas yang nampaknya tak bisa saya navigasi tanpa kedok, baju perlengkapan jelajah antariksa. Pameran ini adalah kedok saya belajar. Setidaknya, ini fiksi yang saya identifikasikan; mencari teritori baru dengan peta lama.

Sekolah Paralaks

Kita mengenakan fiksi sebagai baju perlengkapan jelajah karena ingin tahu dan ingin menjelajahi. Berhubung paralaks adalah cara beroperasi ia berpotensi diurai dan diiterasi menjadi sebuah eksperimen pedagogis. Menjelajah kemungkinan operasi konsep paralaks dalam meringkus fiksi dan keserta-mertaan biasnya apakah mungkin bisa menjadi awal mula produksi realitas baru? Atau menjadikan bias dari fiksi-fiksi justru sebagai bahan dasar pengembangan teknologinya. Bila kita memproduksi fiksi, fiksi kemudian medikte bias kita, Paralaks bisa jadi perangkat jelajah fiksi spekulatif, menerka probabilitas bias dan kita mungkin bisa memproduksi sesuatu yang lebih asing lagi dari praktek kokreasi yang kita kenal bersama dengan menyangsikan landasan fiksi-fiksinya dan belajar dengan metode geseran paralaks.

Paralaksis institut adalah eksperimen dalam metode mereka fiksi-fiksi dalam praktek pameran dan praktek sekolah untuk menjadi fiksi yang berbeda. Bagaimana pameran/sekolah sebagai platform fiksi bisa lebih beringas lagi? fiksi apa yang ingin kita produksi, 8 fungsikan, paralakskan? Bagaimana dengan mengkorsletkan fiksi hingga ia menggeser dan atau mentransformasi? Apa yang ingin saya hadirkan lewat permainan pameran/sekolah? Banyak pertanyaan yang belum selesai hingga pameran/sekolah ini mesti dikemas. Saya tak ingin menjelajah dan menjawabnya sendirian, karena saya bisa belajar lebih banyak dengan melanjutkan peran saya dalam fiksi ini. Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab adalah pemandu uji-coba dalam sekolah paralaksis. Di antara fiksi-fiksi bersama yang walau meleset bisa saling bekerja kita bisa menemukan kategori lain dengan jelajah paralaks

Peristiwa Kertas

Kertas sebagai titik berangkat materialitas pameran. Ia tak hanya media tapi juga peristiwa sekaligus agen dalam fiksi pameran dan bagian dari fiksi yang lebih besar lagi. Apa yang tak disangka dari kertas? di sini Ia harusnya membawa motif-motif paralaks fiksi, atau dari kertaslah paralaks fiksi sebenarnya tergagas. Ia juga ia gagasan yang lolos dari fiksi teknologi yang dominan sekarang yang bertumpu pada listrik (api) dan logam. Suatu fiksi dengan bocoran yang melimpah untuk dispekulasikan dan didekati dengan paralaks yang adalah bagian dari karya program sekolah.

***

Paralaks fiksi dengan kertas dan pedagogi adalah posisi yang tidak hendak mendekati publik dengan semata isu keseharian, namun tawarannya adalah memisahkan dan melengahkan fiksi keseharian dengan pertanyaan soal membongkar pasang, memelintir, menggeser mekanika yang membuat reka fiksi bisa, merekakan sejenis arah dan transposisi secara paralaks. Bukan untuk mengasingkan, mengamankan atau mendiskoneksikan diri dari realitas tapi untuk meresikokan, membicarakan, memetodekan dan membongkar pasang cara-cara mental mereka-ulang fiksi justru di dengan jurang dan biasnya, Dengan membangunnya di atas repetisi fiksi yang koheren dan yang rombeng, dimana keduanya bisa menyesatkan sekaligus berpotensi memberi jalan keluar. Resiko uji coba ini saya ambil agar fiksi isu-isu dan fiksi penandapenanda keseharian yang kita hadapi punya harapan untuk bergeser dan bergerak drastis dan korslet secara.. ehem radikal.

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *