Napas Bangsa di Kertas

Share!

Catatan Pameran “Marang Ibu” – Ugo Untoro Oleh JJ Rizal

 

Ada orang Betawi namanya Mahbub Djunaidi. Pada 1979, ia ditugaskan Ajip Rosidi menerjemahkan buku The 100, a Ranking of the Most Influential Person in History karya Michael H. Hart. Buku itu jadi sohor dan dibicarakan seantero jagad sejak terbit pada 1978. Selang tiga tahun setelahnya terbitlah terjemahan Mahbub oleh Pustaka Jaya. Titelnya Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah.

Di dalam buku itu disebutlah nama Ts’ai Lun. Ia adalah penemu kertas. Hart protes dunia melupakan Ts’ai Lun. Mayoritas ensiklopedia besar tak mencantumkan namanya. Hart menggugat jika semua orang tak dapat membayangkan bagaimana bentuk dunia tanpa kertas, demikian pula ia tak bisa bayangkan bagaimana kacaunya sejarah dunia yang mengabaikan Ts’ai Lun.

Tidak kepalangtanggung Hart memasukkan Ts’ai Lun yang seorang pegawai dinas pengadilan kerajaan masa dinasti Han itu di urutan ketujuh bukunya. Artinya jauh lebih berpengaruh Ts’ai Lun ketimbang ilmuwan jempolan, mulai Albert Einstein, Galileo Galilei, Leonardo da Vinci sampai Johannes Kepler. Tidak tersaingi oleh jago bin jagonya filsuf dari Aristoteles, Rene Descartes, Nicollo Machiavelli bahkan filsuf nabinya kaum kiri seperti Karl Marx. Hanya nabi yang sejati seperti Nabi Muhammad, Nabi Isa dan Nabi Kong Hu-Cu yang bisa menyainginya. Kelas para raja dan kaisar pun kudu beruluk tabik serta hormat kepada Ts’ai Lun.

Sebab apa? Begini. Meskipun di negerinya sendiri Ts’ai Lun tidak dihormati (ia dikebiri, ia dicap pemberontak, ia dikucilkan, akhirnya ia terpaksa bunuh diri), tetapi tak bisa disembunyikan betapa Kaisar Ho Ti teramat girang dengan penemuan kertas yang dipersembahkan kepadanya pada 105 M. Keyakinan kaisar kertas bakal bikin Cina melesat maju. Bagaimana tidak sebab Cina menemukan medium reproduksi pikiran paling praktis dan murah. Sutera memang enteng dan lazim digunakan sebagai buku di Cina, sebagaimana juga papirus atau kemudian kulit kambing dan lembu di Yunani, Romawi, Mesir. Tetapi, semua itu langka dan mahal.

Semua jadi lain pasca Ts’ai Lun. Berakhirlah cerita berabenya seorang sarjana atau petugas administrasi kerajaan Cina yang harus membawa beberapa gerobak untuk memuat catatannya yang ditulis di bilah bambu atau kayu. Ts’ai Lun telah meringankan dengan cukup menenteng sebuah buku. Berakhirlah pula eksklusivitas pengetahuan karena Ts’ai Lun telah memungkinkan reproduksi pengetahuan secara massal.

Tetapi cobalah percaya penemuan kertas awalnya disambut gembira kaisar bukan lantaran kepentingan pengetahuan, melainkan kepentingan peperangan. Kronik Cina mencatat bahwa kertas telah memungkinkan diproduksinya senjata perang yang mengerikan, yaitu layang-layang perang. Kaisar Lie Sie Bin memerintahkan bikin ratusan layang-layang beraneka bentuk menyeramkan dari manusia sampai binatang. Lantas diterbangkan di atas pertahanan musuh. Seketika terbirit-biritlah sebab menyangka lawan punya senjata ajaib milik dewa-dewa. Apalagi layang-layangnya diberi suara senar yang mendengung aneh divariasi ledakan-ledakan petasan.

Layang-layang itu pula yang disebut dalam naskah tua Sejarah Melayu dari sekitar tahun 1612. Bukan saja raja-raja dari Melayu, tetapi juga rajaraja dari Sulawesi pada abad ke-17 itu doyan betul main layang-layang. Meskipun namanya disinyalir sejarawan Denys Lombard dari khazanah Arab dan kerajinan kertas sudah dikenal Nusantara dengan nama dluwang, tetapi adalah Cina yang menguasai pasar kertas. Peredarannya meluas bukan saja sebagai alas menulis, menggambar juga permainan seperti layang-layang itu dan hiasan serta keperluan ritual. “Semua payung yang digunakan,” kata F. Valentijn ketika membahas Batavia pada awal abad ke-18, “dibuat oleh mereka dari kertas”.

Apakah di Nusantara kertas lebih dulu digunakan sebagai barang seni? Entahlah, tetapi buku dengan kertas pertama adalah Hikayat Seri Rama yang ditulis lebih lambat dari orang bikin layang-layang dari kertas, yaitu menjelang pertengahan abad ke-17. Tetapi, bagaimana dengan kertas Eropa yang sudah diproduksi mereka pasca Perang Salib? “Mereka, orangorang Eropa itu merobek-robek kertas aturan perjanjian dengan Banten sambil bermabuk-mabukan,” demikian tulis Sanusi Pane dalam bukunya Sejarah Indonesia.

Banten sebagai kota pelabuhan yang kaya tampaknya menjadi saingan kota pelabuhan Makassar dalam penggunaan kertas. Di Kesultanan Banten pada 1662-1663 telah ditulis dengan bahan kertas Eropa buku Sajarah Banten. Selang empat tahun setelahnya, pada November 1667, penggunaan kertas dari semula layang-layang menaik memasuki sebuah makkuluada atau perjanjian dengan sumpah. Leonard Andaya dalam The Heritage of Arung Palakka mengisahkan bagaimana kertas telah menjadi medium penggandaan Perjanjian Bunggaya yang menandakan penguasaan Kompeni terhadap kawasan timur Nusantara.

Aturan baru tanda kuasa Kompeni atas bagian-bagian wilayah Nusantara dituang di atas kertas yang oleh J.A. van der Chijs arsiparis pertama Hindia Belanda dibagi menjadi dua, yaitu Indische stukken dan Patriasche stuken. Di dalam Indische stukken terdapat arsip-arsip yang dibuat dalam konteks kegiatan pemerintahan di tanah jajahan yang berpusat di Batavia, seperti Daghregister van het casteel Batavia (1640-1807), Resolutien van het casteel Batavia (1613-1816) dan lampirannya Notulen (1675-1816), Plakaatboeken (1602-1811). Sedangkan Patriasche stuken adalah arsip yang dibikin di dalam fungsi kedudukan Batavia sebagai kantor pusat VOC yang mempunyai wilayah operasi dagang di perairan Asia.

Arsip yang begitu kaya tersebut menjelaskan betapa kertas telah menopang aktivitas VOC pada abad ke-17 dan ke-18 sehingga memungkinkannya tumbuh sebagai multinational corporation pertama di dunia. Tetapi, kejayaan VOC yang begitu mengagumkan—sampai kini bisa dilihat berkat gambar-gambar di atas kertas impor dari Belanda yang terbaik dengan kuas juga tinta Cina bermutu oleh Johannes Rach—habis salah satunya karena dibelit krediet-brief atau surat hutang sejumlah 134 juta Florin.

Daendels yang mewarisi kebobrokan Kompeni dan memerintah antara 1808- 1811 meyakini di dalam hatinya, “hanya satu pilihan bagi saya yaitu memperbaiki semua tindakan salah.” Bagaimanakah caranya? Lukisan buatan Raden Saleh menjawabnya. Pada 1838, ia mendapat tugas dari pemerintah membuat lukisan Daendels untuk landverszameling schilderijen atau galeri para gubernur jenderal. Sebagai pelukis yang sohor jago menaruh pesan, maka ditaruhnya selembar kertas di bagian paling depan dengan telunjuk tangan kiri Daendels menunjuk berbalut sarung tangan yang dilukis tidak hidup. Kertas itu adalah gambar peta bagian Megamendung dari Jalan Raya Pos antara Bogor dan Cianjur di pegunungan Jawa Barat pada 1810. Lokasi ini paling sulit, bahkan dikatakan memakan korban jiwa 500 buruh Jawa.

Cobalah percaya bahwa kertas bergambar peta Jalan Raya Pos sesungguhnya adalah gambar pos suratan nasib buruk. Bukan hanya kematian buruh Jawa di Megamendung itu, tetapi lebih banyak lagi sehingga bisa disebut—seperti kata Pramoedya— “kuburan-kuburan terluas di Pulau Jawa”. Terlebih lagi ahli sejarah laut A.B. Lapian menyatakan sebagai suratan nasib buruk berupa kepindahan orientasi orang Jawa dari laut ke darat. Ini paling gampang terlihat dari kelenteng tertua di Tuban yang semula menghadap laut lalu berbalik membelakanginya. Kosmologi kehidupan orang Jawa dibawa Daendels memasuki suatu ikatan baru yang dikatalisasi oleh jalan darat buatannya. Pusat-pusat urban muncul di sepanjang jalan itu yang kemudian menjadi arteri ekonomi dan lahirlah kota-kota modern.

Pada 1870, kota-kota di Jawa semakin dipermodern dengan sistem transportasi baru, yaitu kereta api. Batavia-Surabaya bisa ditempuh dalam tiga hari yang sebelumnya paling tidak seminggu. Semula dimaksudnya bukan untuk mengangkut manusia, tetapi gula. Namun, pada 1875 hampir 90.ooo orang yang diangkutnya tiap tahun. Pada 1894, naik mencapai 6.000.000 orang dan jalur kereta api sudah menghubungkan kebanyakan kota-kota di Jawa. Selain gula dan manusia, salah satu komoditi terpenting yang diangkut melalui jalur kereta api adalah surat kabar.

Akibatnya pada 1899 di pedalaman Jawa ada yang menulis: “Aduhai, mengapakah justru kami yang hidup di dalam hutan belukar pedalaman yang terpencil ini yang penuh pikiranpikiran memberontak?” Dialah Kartini. Kereta api telah mengantarkan yang membuatnya “tak kesunyian lagi sebab sudah ditunggu-tunggu oleh kawankawan pendiam tapi setia, yaitu bacaan. Kartini membaca dan menulis di atas kertas-kertas yang lantas segera menjadi ayat-ayat api. Membakar ramalan zaman gelap Rangawarsita, pujangga Jawa sebelum kematiannya pada 1873. Melahirkan zaman baru yang disimbolkan dengan kias terang yang menghiasi banyak sekali kertaskertas surat tulisannya sehingga dititeli Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang)

Apakah artinya itu? Beberapa sarjana cenderung mengartikan sebagai perubahan dari tradisi ke kemodernan, dari tidur menjadi rasa sadar. Kias itulah zeitgeist atau jiwa zaman awal abad ke-20. Terutama maujud dalam bentuk yang disebut Kartini dan Abdul Rivai menjadi tugas para bangsawan baru, yaitu “bangsawan pikiran” untuk melakukan “kerja-kerja wacana”. Alhasil lahirlah joernalisten, kelompok baru yang ke mana pergi membawa kertas catatan dan pena. Tulisan mereka kemudian disirkulasi sehingga menjangkau jauh. Otoritas baru pun hadir mendepak “sabda pandita ratu” dengan perkataan “koran bilang” yang bergema jauh lebih luas. Inilah sebab koran-koran awal abad ke-20 banyak menggunakan kata Doenia. Maksudnya bukan saja mengejek Pakubuwono dan Hamengkubuwono sebagai poros Buwono atau dunia, tetapi juga lahirnya “kebangsawanan baru” itu.

Penggunaan kata dunia itu juga menyiratkan jangkauan atau sirkulasi yang kemudian berkait dengan pelanggan, sehingga koran pun berfungsi sebagai kertas suara piranti memperdengarkan aspirasi. Lahirlah di sini fungsi perwakilan jauh sebelum ada partai-partai. Tidak mengherankan unsur khas yang disukai sebagai nama koran adalah Soeara, seperti Soeara Merdika, Soera Ra’jat atau Soeara Oemoem.

besutan Mas Marco Kartodikromo. Suatu tanda lagi peralihan arti kebangsawanan itu tengah terjadi sekaligus lahirnya neologisme yang mengagumkan dalam bahasa “Indonesia” yang masih sangat muda itu, pergerakan. Segera saja pergerakan menjadi kata yang meliputi keseluruhan aktivitas antikolonial. Bagi semua aktivis dari aliran apapun yang lahir antara 1885 sampai 1915, lencana kehormatan tertinggi seumur hidup bukan darah keturunan, tetapi menjadi orang pergerakan. Terlibat dalam pergerakan berarti sadar. Kesadaran dan pergerakan bergandengan tangan. Sampai di sini dapat dimengerti pula mengapa banyak yang mengambil nama surat kabar dari kias yang bersifat terang, seperti matahari, surya, nyala, bintang, suluh, pelita, sinar, cahaya, api dan fajar.

Sukarno tampaknya menjadi orang yang paling terpapar periode “koran bilang” itu, periode emas kertas yang sering disebut sejarawan zaman kapitalisme cetak. Ia yang lahir pada 1901 menggemakan terus karakteristik zaman itu beberapa dasawarsa kemudian dengan menyebut dirinya “putra sang fajar” yang menjalankan tugas sebagai “penyambung lidah rakyat”. Apakah ini berlebihan dan Sukano sendiri punya kemauan? Rasanya iya tetapi tokohtokoh bangsa ketika berkumpul di rumah Maeda malam sebelum pembacaan proklamasi menyetujuinya. Malam itu teks proklamasi disepakati ditulis dengan menyebut “Sukarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia”.

Malam itu adalah malam kemenangan Indonesia. Tentu saja merupakan malam kemenangan sejarah kertas, ruang kerja wacana yang diinisiasi Kartini dan Abdul Rivai hampir setengah abad sebelumnya. Selang 20 tahun kemudian Sukarno mengakuinya: “Pernyataan kemerdekaan tidak dipahatkan di atas parkamen dari emas. Kalimat-kalimatnya digoreskan pada secarik kertas. Seseorang memberikan buku catatan bergaris-garis biru seperti yang dipakai pada buku tulis anak sekolah. Aku menyobeknya selembar dan dengan tanganku sendiri menuliskan kata-kata proklamasi di atas garis-garis biru itu.”

Tetapi, bagaimana nasib bangsa yang diproklamasikan itu? Pada 1953, seorang peserta revolusi kemerdekaan, Pramoedya A. Toer, menulis cerita Korupsi. Ia menggunakan kertas sebagai akar untuk mengungkapkan bahaya yang disebut Gandhi sebagai dosa sosial dan telah menjadi warna dasar dari kehidupan republik yang baru berumur sewindu. “Ah sekiranya aku polisi dialah yang mula-mula aku tangkap. Tiada dia, pencurian kertas di kantor dan lain-lain tidak akan terjadi di Indonesia ini. Tetapi tidak, karena ada dialah kesempatanku akan hilang lenyap untuk dapat memulai perjuangan besok atau lusa,” kata tokoh utama ceritanya yang memulai korupsi dengan menjual kertas.

Selang enam belas tahun setelah Pram menulis buku Korupsi itu, pada 1969, di Jakarta seorang Jaksa Agung menghadapi pertanyaan-pertanyaan wartawan pada suatu konferensi pers. Pertanyaannya adalah apakah Pram boleh menulis di Pulau Buru. “Ia boleh menulis, tentu saja, tetapi ia tidak memiliki pena dan kertas,” jawab sang Jaksa Agung. Sementara itu Pram yang dibicarakan berada di sebuah kapal yang membawanya ke kamp pembuangan buatan kuasa militeristik korup Orde Baru di Pulau Buru.

Pram melayari rute yang sama yang dilayari Sjahrir dan Hatta tiga puluh empat tahun sebelumnya ke pembuangan di Bandaneira. Hanya perbedaannya adalah Sjahrir dan Hatta mendapat keleluasaan untuk menulis dan membawa buku-buku. Hatta malahan banyak cerita bagaimana ia hidup dari honor menulis dari pengasingan. Tidak demikian dengan Pram. Tidak hanya yang dibuang jauh ke Pulau Buru yang terpencil itu, tetapi juga dialami yang dipenjara di tengah ibu kota, seperti Sitor Situmorang yang di penjara Salemba. “Bagaimana menulis, memiliki secarik kertas dan sepotong kecil pensil pun tidak boleh,” katanya.

Pengalaman perjumpaan dengan kertas keduanya selama di tahanan diperhatikan banyak pengamat. A. Teeuw menulis dalam bukunya yang sudah mejadi klasik tentang sejarah sastra Indonesia pengalaman Sitor mendapat kertas yang diungkapkan dalam sajak “Bukan Pura Besakih” menimbulkan suatu ironi dan transedensi yang jarang dalam sastra Indonesia. Hal yang sama diungkapkan oleh Rudolf Mrazek menanggapi ungkapan Pram di dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang dalam bentuk dialog antara tim universitas dengannya: “Darimana Anda memperoleh kertas untuk menulis?” Jawab Pram: “Aku memiliki delapan ekor ayam.”

Keduanya adalah sama suatu ironi yang membuat sadar bahwa kemerdekaan yang diambil dari Pram dan Sitor sesungguhnya adalah suatu sejarah yang asing dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak juga di zaman kolonial. Malahan bertentangan dengan alasan keberadaan Indonesia sebagai ruang kerja-kerja wacana yang menyejarah itu. Ikhtiar dengan delapan ekor ayam dari Pram untuk mempunyai kertas adalah gambar seseorang yang berusaha mempertahankan kehormatan dari sebuah bangsa yang salah satu alasan keberadaannya sebagai nasion berawal dari emosi Dionysian terhadap daya kata-kata yang dipancarkan dari atas kertas.

Hilangnya kertas dari mereka adalah sebuah potret asal mula dilumpuhkannya gerak manusia, gerak bangsa sehingga tidak mampu menggerakkan kebudayaan, di mana semangat kerja-kerja merayakan pikiran menjadi alasan keberadaannya dan bekal intinya ke masa depan. Revolusi— apalagi revolusi mental—bermula dari kerja-kerja wacana, berpikir. Tetapi, bagaimana bisa jika Ajip Rosidi di ulang tahunnya yang ke-80 pada akhir Januari 2018 lalu masih menyatakan: “pemerintah tidak pernah menaruh perhatian kepada bacaan rakyat, mereka tak juga mengoreksi keputusan Orde Baru setelah G30S 1965 menghentikan produksi dan subsidi kertas untuk buku serta membiarkannya terus impor dengan pajak tinggi, bagaimana kebudayaan punya masa depan?”

Apa yang dapat dilakukan? Sedang telah menjadi sungai besar sikap masabodoh ihwal napas pertama bangsa ini ditiupkan di atas kertas. Mungkin ada baiknya didengar ulang betapa sekembali dari Pulau Buru rajin betul Pram rajin menceritakan kronik Cina tentang seorang kaisar yang baru naik tahta sekitar 5000 tahun yang lalu. Kepada para cerdik pandai kerajaannya kaisar bertanya: “apa yang harus kulakukan agar kekuasaan langgeng?”

itu menjawab dengan lebih dulu menjelaskan tentang penghancuran buku besar-besaran di era proses penyatuan Cina pada 213 SM di bawah Zhao Zheng yang juga dikenal sebagai Shih Huang Ti, pendiri dinasti Qin. Lalu menutup ceritanya dengan menyatakan: “kaisar harus bikin rakyat bodoh”.

Tetapi, kaisar tidak tertarik usul membakar buku, ia memilih langkah yang lebih halus: menghilangkan kertas.

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *