Menikmati Aroma Kertas

Share!

Catatan Pameran BA[KER]TAS Oleh Ugo Untoro

T idak usah dielakkan kalau seni rupa kita, dari modern hingga postmodern, tumbuh dari luar, semenjak dari masa kolonialisme, dan kita sudah melaluinya. Seni rupa yang “berisi aku, ekspresi aku, inilah aku” tidak usah dielakkan karena memang begitulah yang “harus dan telah terjadi” dan tidak usah berkecil hati, sebab itu juga menimpa di hampir semua daerah jajahan.

Tapi beruntunglah bahwa kita mampu atau berusaha mampu untuk menikahkannya dengan apa yang sudah kita miliki bangsa ini dan pergulatan itu masih seru hingga saat ini. Apalagi secara wacana, mungkin baru sekedar wacana, postmodern, kontemporer, kekinian dan entah apa lagi istilahnya, berusaha mengangkat dan mengkaji ulang nilai-nilai lokal, menghargai lokalitas yang selama ini hanya dianggap seni tradisi, dongeng, mitos, dll.

Karena memang tidak bisa dielakkan pengaruh luar itu, dan walaupun kita juga sudah memulai untuk masuk pada era kontemporer, tapi kita juga bisa melihat bahwa pengaruh wacana-wacana itu seringkali hanya terpukau pada kulitnya, tidak atau belum berupaya memahami lebih dengan cara memasukinya. (Kulitnya saja sudah dianggap kontemporer kok, celetuk si polan).

Bila kita ambil contoh dengam cara mundur beberapa dekade, dulu pernah booming surealisme di sini, terutama di Jogja, hingga ada muncul istilah surealisme 7 Jogja. Tidak apa-apa, tapi surealisme itu sendiri mungkin sangat sedikit yang tau, mengerti, kenapa lahir, bagaimana dan apa sebenarnya surealisme itu. Juga, identik, surealisme di sini adalah surealisme ala Salvador Dali, Rene Magritte, cuma dua itu yang notabene sama-sama berbasis teknik realis, figuratif. Tidak ada yang menyentuh surealisme ala Joan Miro, Max Ernst, Yves Tanguy, atau bahkan yang jarang disebut, dan menurut saya, suasana yang dibangun para pelopor surealisme ini (selain Dali dan Magritte) lebih mencekam, menyentuh batas-batas kesadaran, tapi, mungkin saja karena mereka tidak populer, jadi di sini tidak ada yang meliriknya. (Surealisme di sini hanya menjadi fantasi realis, kata Hanafi). Begitu juga dengan isme-isme, gaya (cara pikir, bahasa) yang lain seperti kubisme, dekoratif, abstrak, dll.

Akibat dari peniruan visual semata itu tentu saja membuat si seniman “peniru” tak jarang menjadi mentok, mandeq atau lebih celakanya lagi berubah gaya mengikuti trend secara tiba-tiba. Itupun sah-sah saja, tidak apa-apa, hanya akankah kita selalu dihembus angin tanpa punya akar yang mencengkam jauh ke bawah/dalam?

Lalu era internet, medsos masuk dan menyerbu sampai hampir tiap lini kehidupan sekarang. Di sisi lain memang mempermudah, mempercepat, tapi di sisi lain bisa mengasingkan kita dengan diri sendiri dan lingkungan. Mulai dari kita, bahasa hingga gerak fisik makin terkurangi, belum lagi panca indera yang mungkin saja menjadi eka atau dwi indra saja kelak.

Kecepatan aksesnya memang mempercepat akses seni rupa kita. Juga proses penciptaan hingga pasca penciptaan. Tapi benarkah kecepatan itu juga mempercepat perkembangan seni rupa kita? Secara 8 visual tentu saja iya, juga makin dikenalnya , atau saling mengenal, seni rupa kita dengan seni rupa luar. Tapi, benar-benar berkembangkah seni rupa kita sekarang ini? Seni rupa tentu yang pertama “bertugas” mencolok mata lewat unsur dasar-dasar rupa, visual, dan seniman kita sudah terakui kelihaiannya dalam ranah ini. Setelah tugas mencolok mata itu berhasil, tentu saja muncul pertanyaan tentang ide, gagasan atau apa maksud si senimannya. Dalam hal inipun seniman kita tidak di bawah seniman luar, paling tidak ada beberapa yang benar-benar punya ide, gagasan dengan kepiawaian memadukannya dengan visual yang bisa menohok tajam, dalam. Tapi yang lebih mendasar lagi adalah cara atau pola pikir seorang seniman yang berubah, menjadi lebih baik, luas, unik/orisinal dan berani. Apakah dalam era kecepatan informasi sekarang ini yang telah mengembangkan cara atau pola pikir itu?

Jaman, dunia, semesta, memang terus berubah, entah yang kasat mata atau kasat makna. Kegagalan, kehancuran, kemusnahan akan melahirkan sesuatu yang baru karena pada dasarnya manusia selalu berpikir dan kreatif. Sehingga manusia, seniman, kita seharusnya tidak takut, harus berani menghadapi perubahan atau merubah diri. Boleh saja mengangkat kelokalantapi bukan untuk berpikir secara lokal yang konvensional. Selamat berpameran untuk Yudis, Silvi, Suvi, Louis, dan Yatno. Selama kalian masih terus berkarya, setidaknya masih akan tercium harum kertas.

Yogya – Depok, 22 April 2018

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *