[LIPUTAN] Ruang Representatif Hanura Hosea di Galerikertas Studiohanafi – PORTAL TEATER

Share!

Ruang Representatif Hanura Hosea di Galerikertas Studiohanafi

Setelah lama menetap di Jerman, pameran tunggal ini merupakan yang pertama kalinya di Indonesia.

by Daniel Deha

30 Oktober 2019

Portal Teater – Sebagai salah satu pusat kesenian di Jakarta, Galerikertas Studiohanafi akhir pekan ini lagi-lagi menggelar pameran karya. Kali ini diadakan pameran bertajuk “ALIHAN” bersama Hanura Hosea, perupa senior asal Yogyakarta yang saat ini menetap di Jerman.

Tidak hanya pameran karya, rangkaian acara ini juga akan menghadirkan Diskusi dan Workshop Kertas Perupa Muda bersama sang seniman, yang karya-karya lukisannya telah banyak terpajang di galeri-galeri besar Eropa, terutama di Belanda.

Galerikertas Studiohanafi akan menjadi ruang representatif bagi publik yang ingin melihat karya-karya Hanura Hosea, yang setelah puluhan tahun berkarya di Jerman, akhirnya melakukan pameran tunggal pertama kalinya di Indonesia.

Pembukaan pameran akan terjadi pada Sabtu (2/11), pukul 19.00 WIB dan dibuka oleh Hanafi dan Ugeng T. Moetidjo, dua perupa senior ibukota. Untuk memperluas kesemarakan, seremoni pembukaan akan dimeriahkan oleh penampilan Deugalih.

Terkait

Pameran kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan presentasi karya perupa muda bersama Hanura Hosea pada Minggu (3/11), pukul 16.00-18.00 WIB.

Sementara, Workshop Kertas Perupa Muda, yang menjadi satu rangkaian acara pameran ini, akan berlangsung sepanjang 12-17 November 2019

Pameran “ALIHAN” Hanura Hosea di Galerikertas Studiohanafi. -Dok. Studiohanafi.

Sebelumnya Galerikertas Studiohanafi mendatangkan Henryette Louise, seniman asal Blitar yang menetap di Bandung, untuk mengadakan workshop dan pameran karya bersama 23 peserta terpilih sepanjang 8-26 Oktober 2019.

Meminimalisir Bias Warna

Kurator Galerikertas Studiohanafi Heru Joni Putra dalam pengantar pameran menulis, karya-karya Hanura Hosea cenderung memilih warna hitam-putih, meski itu bukan hal aneh dalam sebuah lukisan. Dan bagi Hosea, hitam-putih adalah pilihan selera.

Menurut Heru, warna hitam-putih bisa menjadi salah satu cara paling menarik bagi Hosea untuk meminimalisasi muslihat warna, atau bias dalam warna. Warna semerbak, pada sisi lainnya, mempunyai watak untuk memanipulasi.

Dalam konteks ini, warna hitam-putih bisa digunakan untuk memberi penekanan pada gambar itu sendiri, sehingga kita tidak larut pada permainan atau komposisi warna dan warni.

Dengan meminimalisir bias warna, hitam-putih mengarahkan fokus kita bahkan sampai pada komponen gambar itu sendiri: kapasitas garis.

Bagi Heru, kultur warna kita memuatkan bias gender, etnik dan bias ideologi yang sangat mencolok. Misalnya, warna pink telah melegitimasi karakter standar untuk perempuan sekaligus melanggengkan karakter standar untuk laki-laki.

“Dalam konteks kultur warna dan politik di baliknya, para perupa seringkali (tidak atau sengaja) menghancurkan kebekuan-kebekuan warna seperti itu. Di tangan para perupa, setiap warna seringkali mendapatkan makna baru,” tulisnya.

 

 

Hanura Hosea. -Dok. Studiohanafi.

Representasi Realitas Psikologis

Kecenderungan Hosea memilih warna gambar hitam-putih, menurut Heru, bisa saja menunjukkan realitas psikologis manusia di suatu kondisi tertentu.

Katakanlah seseorang yang merasakan hidup tak lagi punya jeda, bahkan apa yang semestinya terjadi secara berurutan justru berarsiran.

Dalam hidupnya, apa yang sedang dibayangkannya lebih nyata daripada apa yang sedang dilakukannya di saat yang sama. Ketika ia secara fisik sangat jelas melakukan aktivitas A, tapi yang sedang ada dalam pikiran dan perasaannya sedang melakukan B, C, dst..

Itulah mengapa Hosea lebih memilih warna hitam-putih karena baginya berpikir secara seni adalah tindakan politik; tindakan yang tidak melihat realitas secara lumrah belaka.

Menurut Hosea, karya seni tidak sebatas menghadirkan fenomena kasat mata, tapi lebih dari itu, menunjukkan realitas yang tak sepenuhnya terjangkau oleh indra manusia.

Itulah yang dilihatnya sebagai realitas politis. Melalui karyanya, Hosea ingin menghadirkan ruang politis bagi ekspresi dan pemaknaan kembali atas trinitas manusia, ruang, dan waktu pada tataran paling sederhana.

 

Karya Hanura Hosea. -Dok. Studiohanafi

Representasi Tutur Politik

Ugeng T. Moetidjo, salah satu perupa senior yang diundang dalam proyek seni ini melihat, karya-karya Hosea saat ini cenderung membuat ruang tutur gambar-gambarnya tidak lebih jenak daripada ketika tema pokok yang dikembangkannya berasal dari bayang-bayang sosio-politik dalam negeri yang ditafsirnya dari lingkungan tempatnya hidup: Yogyakarta.

Menurut Ugeng, lukisan Hosea kini berumpun dengan pola representasi bertutur politik yang begitu menggejala pada segolongan perupa menjelang dan pasca lengsernya kekuatan otoritarian Orde Baru, seakan merayakan datangnya kebebasan kreativitas.

Karena merupakan seni maka moda naratifnya menggunakan “alihan” — sebuah idiom pengungkapan secara kias, biasanya, dengan menempatkan humor ke dalam satire atau parodi supaya representasi tidak terbaca secara banal.

Berniat menghindari sifat-sifat banal bagi pengucapan seni, maka jelajah artistik yang memperhitungkan aspek kebanalan ini dengan sengaja tidak hadir sehingga dengan segera saja gagasan politis urung menjadi politik penggambaran.

Ugeng justru menilai, perupa Indonesia masih takut untuk mengajukan konsep seni yang banal karena terlanjur memilihnya sebagai ungkapan tata nilai yang tertib untuk mengakomodasi keinginan borjuis kelas menengah.

Karya lukis Hanura Hosea. -Dok. Studiohanafi

Dualitas Struktur Artistik

Ugeng melihat ada dualitas sruktur artistik yang tampak dalam karya-karya Hosea.

Pada gambar-gambarnya yang terakhir dibuatnya di Jerman, Ugeng melihat ada semacam penundaan untuk memperlihatkan fakta kebanalan dalam karya-karyanya.

Sementara aspek lelucon — seringkali terwujud sebagai humor gelap ketika ia menghasilkan karya-karyanya di Indonesia, terasa mengalami kekangan.

“Ada unsur yang tak dapat ditolak dari kemungkinan bahwa, alam budaya dan sosial dan politik di Jerman sebagai negeri barunya tidak sepenuhnya dikehendaki olehnya sebagai sumber pembentukan artistik,” tulis Ugeng.

Padahal pada karya-karyanya sebelumnya begitu lekat dengan idiom mesin atau kemesinan yang mengejawantahkan berlangsungnya suatu operasi sistem sosial yang mengikat subjek-subjek di dalamnya sebagai sekrup-sekrup suatu perkakas politik.

Kini Hosea berupaya menggeser nuansa sosio-politik ke sosio-domestik dengan tetap memproduksi sejenis kecemasan mental yang menurut sudut pandang pribadinya juga berlaku bagi komunitas-komunitas masyarakat.

Meski, kata Ugeng, kecemasan mental semacam ini relatif bersifat terbuka ketika karya-karya itu diproduksi di sini (baca: Indonesia). Pada karya-karyanya di Jerman, sifat kecemasan mental itu relatif tertutup; tidak membuka diri kepada kehadiran publik.

*Daniel Deha

 

/ Artikel Galeri

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *