[LIPUTAN] Pameran “SULUH” Hanafi-Farhan dan Refleksi Musim Hujan – Portal Teater

Share!

Pameran “SULUH” Hanafi-Farhan dan Refleksi Musim Hujan

09 Januari 2020 / Daniel Deha

Portal Teater – Akhir Oktober lalu, Hanafi menyelesaikan pameran kolaborasi dengan koleganya Goenawan Mohamad (GM) di Komaneka Fine Art Gallery, Ubud, Gianyar, Bali. Pameran kedua maestro seni rupa Indonesia itu bertajuk “57×76”.

Persis dua bulan berselang, pemilik Galerikertas Studiohanafi Depok, Jawa Barat itu kembali menyapa pencinta seni di Pulau Dewata lewat pameran kolaborasinya dengan Farhan Siki, perupa kelahiran Lamongan yang kini menetap di Yogyakarta.

Pameran Hanafi-Farhan ini mengusung tajuk “SULUH” yang berlangsung selama sebulan penuh (1 Januari-1 Februari 2020).

Hanafi (lahir di Purworejo, 5 Juli 1960) dikenal luas sebagai pelukis, meskipun bekerja selama puluhan tahun dengan media-media artistik yang beragam.

Sejak 1990-an, ia terlibat dalam puluhan pameran tunggal dan bersama di dalam dan luar negeri. Hanafi dikenal sebagai seniman yang paling sering berkolaborasi dengan praktisi seni lain, terutama dari sastra, teater dan arsitektur.

Pameran tunggal terakhir dilakukannya pada 2017, antara lain: “The Maritime Spice Road” (Konsulat Jenderal Indonesia di New York, AS); “Boundless Voyage” Sin Sin Fine Art Hongkong; dan “Coming Home: HOME BY A NEW ROAD” di Komaneka Fine Art Gallery Bali.

Farhan (lahir di Lamongan, Jawa Timur, 17 Juli 1971), adalah perupa lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Jember (2000).

Ia mulai belajar melukis pada Student Fine Art Studio, Universitas Negeri Jember pada tahun 1992.

Pameran tunggal yang terakhirnya digelar di Plaza Sant’ Allesandro 4, Milan, Italia, bertajuk “Trace” tahun 2016. Sementara pameran bersamanya terakhir tahun 2018.

“SULUH” dan Musim Hujan

Dalam sebuah katalog pameran, Hanafi menulis demikian:

“Hidup begitu singkat, sedangkan penguasaan ketrampilan menuntut banyak waktu.

Kefanaan telah didapatkan dengan gerak memperluas ruang-ruang harapan.

Mengerahkan kecerdasan pikiran dan menghaluskan perasaan agar tak mengabaikan hal kecil yang penting dari hidup sehari-hari.”

Memadatkan pengamatan melihat, pengalaman mengalami, pengalaman dalam menyampaikan kembali pengalaman lewat ketrampilan tangan dalam kehidupan yang begitu singkat, seperti musim.

Ingatan di musim hujan tahun lalu, cahaya tipis pagi pada daun kelapa berbeda dengan pagi musim kemarau. Bayangan tipis dari matahari menumbuhkan belukar liar, suara nafas mereka bersahutan.

Musim hujan datang sekali lagi dengan membawa cahaya, yang bukan dari tahun lalu, mungkin sisa tahun lalu, atau hanya serupa suluh yang membuat jalan panjang bagi kita semua.”

Suluh adalah alat yang dipakai untuk menerangi kegelapan. Biasanya terbuat dari daun kelapan kering atau damar. Suluh berarti obor yang membawa cahaya.

Mengawali tahun 2020, seniman berambut panjang ingin membawa secercah cahaya yang barangkali dapat menerangi tapak perjalanan kesenian Indonesia.

Dengan menempatkan “suluh” sebagai pembawa cahaya (yang kemudian dikontraskan dengan lampu pijar produk revolusi industri), Hanafi mungkin saja ingin menghembuskan satu filosofi hidup untuk kembali ke alam; ke matra lampau.

Merawat alam sebaik-baiknya agar bila musim hujan tiba sekali lagi, kita tidak lagi terjebak dalam bandang yang menghanyutkan. ‘Suluh’ memberi kita satu mantra agar “memeluk alam seerat memeluk diri”.

Beberapa karya pameran yang memuat pesan-pesan tersebut, antara lain: Genangan Kota Kota (160×180 cm, acrylic on kanvas, 2019), Kebahagiaan Hijau (165×180 cm, acrylic on kanvas, 2019), Dinding-Dinding Batu (140×160 cm, acrylic on kanvas, 2019), Laut Pagi Timur (180×200 cm, acrylic on kanvas, 2019), dan Laut Sore Barat (200×325 cm, acrylic on kanvas, 2019).*

/ Ulasan

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *