Kenapa Warga Azerbaijan menyukai Tari Nenemo?

Share!

Tari Nenemo di Indonesian Cultural Festival (ICF) ke-3, Baku Azerbaijan

Sore perlahan lingsir di langit Baku, waktu setempat menunjukan jam 7 sore, langit masih biru telor asin, belum gelap melulu. Waktu antara Baku dan Jakarta terpaut sekira dua jam. Di ruang make up berukuran 1,5 meter kali 4 meter di lantai enam gedung opera Hayder Aliyev Sarayi Kelompok Sanggar Pakem Tubaba telah usai bermake-up dan memakai kostum Tari Sembah, tentu lengkap dengan siger pola lima warna emas yang gigantik, kebaya putih (warna utama kebudayaan Pepadun Lampung) dan tapis kualitas nomor wahid.

Mereka dalam situasi terbelah dalam dua perasaan; di satu sisi percaya diri karena segera tampil di hadapan ratusan warga baku, plus pejabat teras dua negara: Indonesia-Azerbaijan, di sisi lain cemas sebab Tari Nenemo luput dalam rundown panitia penyelenggara ICF. Padahal tim telah menyiapkannya satu bulan penuh, nyaris tanpa hari libur, tak ada alasan lain kecuali memberikan karya terbaik di negeri orang! Oleh sebab itulah co Koreografer Helda Yosiana tetap menyiapkan perlengkapan tari Nenemo: 7 pasang celana dan baju, caping bambu dan tongkat dari batang pohon karet. Acara usai sekira jam 10 malam, tak ada kesempatan bagi Tari Nenemo, wajah-wajah penari terlihat murung di bawah sinar lampu sayap panggung itu.

Acara pembuka Indonesian Cultural Festival (ICF) ke-3 memang memiliki kecacatan dramaturgis yang lumayan fatal, seluruh rangkaian acara diorder oleh multimedia dan rekaman suara, dalam setiap pementasan pada latar belakangnya ditampilkan video yang merepresentasikan kebudayaan Indonesia, belum lagi background dua dimensi dengan gambar vektor warna-warni, sebuah hasrat ingin menampilkan sepenuh mungkin kebudayaan Indonesia itu akhirnya menjadi panggung yang penuh gincu yang pepal oleh beautifikasi yang tak perlu. Nampaknya, apa pun festival atas nama Indonesia mustahak ditemani seorang kurator atau dramaturg handal. Kita tunda percakapan ini.

Toh pada gilirannya Tari Nenemo pun tetap digelar…
Di Fountain Square, ruang publik seluas lebih empat lapangan sepakbola, dengan pedestrian selebar dua jalan tol, ruang di mana tempat bisnis, asmara dan kebudayaan tua bersua. Di situlah Tari Nenemo menemukan publiknya, tepat di plaza seluas lebih 100 meter, di antara setengah lusin waralaba internasional Tari Nenemo digelar.

Lamat-lamat suara musik gubahan Lawe Samagaha yang direkam dan dipamplifikasi oleh sekira 50,000 watt sound system itu terdengar di seantro Fountaine Square, membikin para pengunjung yang awalnya hanya jalan-jalan, belanja, nongkrong di kedai kopi dan bermesraan di sekitaran air mancur, berkeremun mendekati pusat suara, dan kemudian menjadi pusat pertunjukan yang penuh daya pukau.

Tari yang dikoreografi Hartati, kali ini tampil dalam format minimalis, hanya dengan tujuh orang penari: Rohman, Sarwandi, Naya Isnaini, Khusnul Khotimah, Wagenda, Fitri Sulastri dan Kiki Windarti.

Diawali dengan gerak-gerak mimesis masing-masing penari, kemudian gontai bergerak dengan posisi rata-rata air, membuat lingkaran kecil dan berdiri penuh, menggenjot dengan paha bagian atas sebagai poros, lalu bahu mendorong, dan kaki secara bergantian diangkat ke arah belakang. Berikutnya kaki membuka lebih lebar, tangan dibuka mengikuti poros, terus menerus buka dan ditutup dengan gerakan rampak. Tongkat-tongkat dari kayu pohon karet tergenggam erat, secara transformatif tongkat digunakan kadang sebagai alat bekerja, menggali tanah, sebagai senjata untuk menyerang, sebagai tumpuan atau sebagai hanya sebagai tongkat itu sendiri untuk mencipta bunyi dari ketukan-ketukan dan gesekannya dengan lantai. Tongkat dan tubuh dalam tari Nenemo seperti satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Sedangkan caping bambu yang dipakai sepanjang pertunjukan menghapus identitas personal lewat muka, personalitas dalam tarian ini kita lihat dari energi, kreativitas gerak dan ruang improvisasi yang memang terbuka. Pun kostum hasil besutan desainer Aguste Soesastro, seperti biasa menampilkan gaya minimalis, potongan kain yang presisi dan lengan pada baju, sementara membuat kedutan-kedutan yang lebar pada bagian atas celana, membikin para penari Nenemo bergaya dalam kesederhanaan.

Demikianlah tari Nenemo yang pada hari pertama (15/9) pementasannya disaksikan oleh sekira 300 pasang mata utuh dinikmati; musik, kostum, gerakan, pola lantai atau lebih tepatnya seluruh komponen dramaturgisnya. Presentasi tari ini pun mungkin tak akan pernah ada tanpa visi sosok Bupati Umar Ahmad yang menginginkan Tubaba memiliki tarian yang berdasarkan filosofi lokal Tubaba: Nemen, Nedes dan Nerimo. Maka lewat tangan dingin Hartati dan para penarinya diwujudkanlah falsafah hidup tentang kerja keras, banting tulang, solidaritas, saling memberikan energi positif dan ikhlas menerima hasil setiap proses.

Karya ini tentu bukanlah karya yang ujug-ujug hadir, apalagi menegasi tari tradisional Lampung yang buhun, toh pada malam sebelumnya para penari Tubaba telah sangat baik mementaskan Tari Simbah Sigeh Penguten, dengan kesadaran penuh akan substansi ritualnya, totalitas tarian yang dikomentari oleh Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Nadjamuddin Ramly sebagai tarian yang ingin membuatnya menangis, karena kekhusukan ritualnya.
Sungguh pun hanya segelintir orang di Indonesia, bahkan di Tubaba yang mengenal tari yang masih balita ini, publik Azerbaijan justru menerimanya dengan sangat antusias.

Adalah Ulnar Basixov, lelaki berusia 35 tahun, warga Baku yang tiga tahun terakhir lebih banyak tinggal di Barcelona, menyatakan antusiasmenya pada tarian ini, sungguh pun dia kesulitan mengurai seleranya sendiri, namun dia merasa bahagia dengan tarian ini. Ulnar selama dua hari menemani para penari Nenemo, dia lebih mirip menjadi bodyguard, selalu berada di samping penari saat beraktivitas apa pun, dia ikut makan siang, briefing, ikut berdoa dan ikut berpelukan saat sukses usai menari. Matanya ikut berkaca-kaca saat para penari menyatakan suka cita.
Tiga gadis belia berusia sekira 18 tahun, salah satunya berambut blonde-kriting, mata biru pun gaunnya yang tanpa lengan itu mengajak Helda Yosiana berbicara dan bertukar akun media sosial. Feteliyeva nama gadis berusia 19 tahun menyatakan gembira melihat tari Nenemo, membuat tubuhnya ikut bergoyang, baru pertama kali dia melihat tarian ini dan jika ada kesempatan ingin belajar. Dia sangat ingin tari Nenemo dipelajari di kampusnya. Percakapan yang diakhiri Fateliyeva bersama seluruh tim tari Nenemo dengan latar air mancur dan gerai Waralaba.

Antusiasme yang ternyata tidak berhenti pada hari pertama gelaran ICF di Fountain Square. Leyla Qarayeva memberikan argumen yang lebih terurai kenapa dia menyukai Tari Nenemo, pertama tari ini memberikan ruang improvisasi yang luas bagi masing-masing penari, sehingga setiap individu bisa bereksplorasi secara lebih bebas, kedua kekuatan individu dalam satu waktu tertentu bersatu membuat komposisi rampak dan menciptakan moving-moving tak terduga sehingga menciptakan komposisi tarian yang indah, yang mengingatkan Leyla pada keadaan Indonesia.

Mahasiswi berusia 25 tahun yang pernah belajar kebudayaan Indonesia di Bandung menyatakan bahwa Tari Nenemo mengingatkannya pada aktivitas-aktivitas petani di Indonesia. Ini adalah tarian yang unik, biasanya tarian Indonesia berkostum warna warni tapi ini lain sekali, oleh sebab itu pula setelah wawancara ini Leyla memohon untuk bisa mengenakan kostum Tari Nenemo dan berharap suatu hari bisa menari Nenemo bersama para penari Tubaba.

Pendapat positif yang kemudian diikuti oleh rekannya Arzu Muradova (25), bahwa tarian ini selain memiliki gerakan yang indah, juga memiliki musik yang enak didengar juga kostum yang enak dipandang mata. Baginya ini adalah pengalaman pertamanya menyaksikan tarian “tradisional” Indonesia tanpa penari cantik, “Tarian Indonesia biasanya cantik-cantik” kata Arju, yang juga pernah residensi selama tiga bulan bulan di Banyuwangi, Jawa Timur.

Bagi Alif Nasirov, bocah 10 tahun dari Baku. Yang terpenting baginya adalah bahagia, oleh sebab itulah pada hari kedua ( 16/9) di Plaza antara Nizami Stret dan Aziz Aliyev, venue hari kedua Tari Nenemo digelar Alif mengikuti setiap gerakan tari Nenemo, dari lingkaran penonton itu Leyla Salim ( 65) berteriak “jangan pergi ke tengah, tetaplah di sini” dengan bahasa Azeri yang parau ditingkahi musik Nenemo yang menggema. Alif tetap menari hingga usai, menunjukan komunikasi kebertubuhan antar benua, antar usia. Seusai menari Alif mengantar para penari ke tenda pameran yang pada hari kedua juga difungsikan sebagai ruang ganti.

Tercipatalah persahabatan antar penonton dan performer. Seperti persahabatan Ulnar Basikov yang tiba-tiba menjadi bagian tim tari ini, seperti Feteliyeva yang menginginkan tari ini dipelajari di kampusnya, seperti Alif yang mengantar para penari ke dalam tenda.
Rasa persahabatan yang juga ditunjukan oleh salah satu pengunjung setia booth Tubaba, Merry Shukurova (40), dia sangat antusias pada Indonesian Cultural Festival, senantiasa mengikutinya sejak tiga tahun silam. Bagi Merry yang memiliki hobi fotografi, adalah pengalaman yang bernilai bertemu dengan tim kesenian Tubaba, dia sangat senang bisa mencoba menggunakan Siger Lampung dan memainkan alat musik Q-thik. Baginya tari Nenemo adalah tari yang unik, lembut, liar dan berenergi, sesekali seperti tarian tentara, katanya, sambil tertawa lepas. Dia berharap Festival ini kembali digelar dan Tubaba bisa kembali hadir dengan karya-karya seni yang luar biasa. “Kembalilah suatu hari” katanya.
Apakah Tari Nenemo akan kembali? Apakah warga Azerbaijan yang ingin workshop tari Nenemo akan terwujudkan?

Rangkaian pementasan telah usai digelar, proverti pameran perlahan mulai dikemas, tenda-tenda dibongkar, produk pameran rata-rata ludes, dari mulai batik hingga rempah-rempah. Sementara booth Tubaba yang mulanya tidak bertransaksi ekonomi hanya menyisakan seperangkat alat musik Q-tiq sengaja ditinggalkan di Baku sebagai jejak bahwa Tubaba pernah ke sini.

Baku, sebuah kota yang cantik, yang telah dibangun sejak 799, tempat waktu sekarang dan dulu bertemu. Pernah hadir para penari dari sebuah kota yang juga memiliki visi kebudayaan yang kuat, membangun hari ini dan masa depan sambil takzim pada masa silam. Tidak pernah terbersit dalam batok kepala mereka, 20 jam meninggalkan Tubaba dengan darat dan udara dari pedalaman Sumatra, bahwa mereka akan menari di negri jauh, tempat kelahiran penyair Nizami Ganzawi, tetapi tidak seperti kisah cinta Qais pada Layla yang nelangsa dengan rasa patah hati yang berlarat-larat, pementasan Tari Nenemo di Azerbaijan justru berakhir indah dengan kisah cinta melulu.

(Semi Ikra Anggara di Baku, Azerbaijan)

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *