Kehidupan Urban dan Luka Sosial

Share!

Catatan Pameran “MAL” Oleh Tony Rudyansjah

 

Kini tangan siang hari yang perkasa terbaring di atas kota

Tirai telak diselak dari jendela dan pintu pun terbuka

Mata yang penat dan wajah lesu para penjahit telah siap di tempat kerjanya

Mereka merasakan kematian telah melanggar batas kehidupan mereka

Dan riak muka yang layu mempamerkan ketakutan dan kekecewaan

Di jalanan padat dengat jiwa-jiwa yang tamak dan tergesa-gesa

Dan di mana-mana terdengar desingan besi

Pusingan roda dan siulan angin

Kota telah menjadi arena pertempuran di mana yang kuat menindas yang lemah

dan si kaya mengeksloitasi dan menguasai si miskin

Betapa indah hidup ini,

Cintaku, Seperti dada penjahat yang berdebar-debar karena selalu merasa bimbang dan takut

(Khalil Gibran)

Aku mendengar anak sungai merintih bagai seorang janda yang menangis meratapi kematian anaknya dan kemudian bertanya,

“mengapa engkau menangis, sungaiku yang jernih?

Dan sungai itu menjawab,

“Sebab aku dipaksa mengalir ke kota tempat manusia merendahkan dan

mensia-siakan diriku dan menjadikanku minuman-minuman keras dan mereka

memperalatkanku bagai pembersih sampah (Khalil Gibran)

Aku tetap meradang, menerjang luka dan bisa ku bawa berlari. Berlari.

Hingga hilang pedih perih. Dan aku akan lebih tak perduli.

Aku mau hidup seribu tahun lagi (Chairil Anwar)

 

Pameran Farhan Siki kali ini mengambil tema ‘perkotaan/ urban’ dan ‘luka’. Pertanyaannya kemudian apa relevansinya seorang perupa menyoal isyu perkotaan dan luka sebagai tema utama dari karya seninya?

Kota sebagai hasil dari peradaban manusia modern penuh dengan berbagai ambiguitas dan paradoks. Di satu sisi, kata itu membangkitkan di benak kita tentang citra penduduk kota (bürger/burgher) yang tinggal di balik benteng istana para aristokrat, dan berupaya (pada abad ke-11 dan ke12) memperoleh kemerdekaan, kesetaraan dan bebas dari kungkungan menindas sistem feodalisme Eropa masa itu. Dalam sejarah masyarakat Eropa, kelas Bourgeoisie inilah yang membentuk apa yang kita kenal sekarang ini dengan istilah masyarakat sipil (civil society/bürgerliche Gesellschaft). Tentu saja romantisme sekaligus impian akan kebebasan, kemerdekaan dan kesetaraan adalah bayangan cukup kuat yang melekat pada kata ‘kota’ hingga sekarang. Perpindahan sebagian penduduk Irlandia ke benua Amerika di masa awal ditemukannya wilayah frontier ini tidak sedikit karena didorong oleh impian untuk meraih kebebasan dan kemerdekaaan.

Citra lain yang muncul atas kata kota adalah kota bandar yang lahir akibat kedatangan bangsa-bangsa Barat ke “Dunia Baru” di luar Eropa. Maksud kedatangan mereka adalah dalam rangka memperoleh pasar baru di benua Asia, Afrika dan Amerika bagi barang-barang komoditas hasil industri. Bahan mentah hasil-hasil bumi diolah lebih lanjut menjadi barang komoditas yang mahal dan mewah, seperti minyak wangi dan lain sebagainya. Kota dalam konteks sejarah seperti ini sangat erat berkaitan sebagai surga pusat belanja di mana berbagai kilauan kemegahan barang barang komoditas mewah tersedia, dan warga kota dibayangkan dapat dengan mudah memperolehnya. Kota adalah Bandar di mana berbagai barang mewah dan megah datang dari berbagai penjuru dunia, dan para penduduk kota adalah orang-orang beruntung karena dengan mudah dapat memperolehnya.

Sebagai perbandingan, keyakinan akan cargo cult yang dibawa ratu adil di dalam banyak masyarakat di kawasan Austronesia merupakan satu gambaran yang apik untuk menjelaskan gejala keinginan terpendam kita semua untuk bisa memperoleh berbagai komoditas mewah dari luar tersebut. Tidak sedikit dari kita yang berasal dari desa beranggapan bahwa orang kota adalah penduduk surga yang tidak perlu membanting tulang, tidak perlu bekerja berkeringat di bawah terik matahari mencangkul tanah yang keras dan tandus untuk bisa hidup dan mendapatkan dengan mudah kemegahan komoditas mewah apapun yang mereka idamkan.

Kota dan Seperangkat Luka Sosial

Kata ‘kota’ dalam sejarah umat manusia juga berasosiasi dengan berbagai pusat industri Eropa seperti Liverpool, London dan Milan. Di kota-kota inilah berbagai produk industri dihasilkan dari berbagai bahan mentah yang berasal dari berbagai penjuru dunia dan dilipatgandakan secara massif dengan tingkat kecepatan yang tak terbayangkan sebelum revolusi industri. Dengan kemajuan sains dan teknologi, kerakusan manusia untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu yang sesingkatnya terlayani dengan sangat memadai. Efisiensi merupakan kata kunci utama untuk kesuksesan usaha di dunia industri. Temuan mesin dan alat pengukur waktu memungkinkan kerja manusia diatur layaknya baut-baut dari mesin produksi untuk menghasilkan barang-barang komoditas seeffisien mungkin, sehingga badan manusia juga harus dikelola dan didisiplinkan sesuai demi misi itu. Teknologi yang ditemukan peradaban manusia digunakan untuk menjadi “pelayan” dalam rangka memenuhi kerakusan manusia mengejar effisiensi produksi, sedangkan kemajuan ilmu pengetahuan seperti psikologi digunakan untuk mengatur mental dan pikiran manusia (governmentality dalam istilah Michel Foucault) agar tubuh dari warga kotanya dapat didisiplinkan melalui sistem panopticisme pengorganisasian masyarakat urban agar sesuai dengan tuntutan industri.

Tak heran apabila banyak ahli perkotaan yang kemudian berpendapat bahwa hanya di kotalah pengorganisasian atas manusia bergeser menjadi pengadministrasian atas barang. Tak ayal tingkat kemajuan manusia mengelola dunia seperti itu memakan korban manusia. Anak kecil yang kehilangan masa remaja karena terpaksa harus bekerja sebagai buruh pabrik dalam lingkungan industri yang penuh dengan polusi udara beracun mematikan, daerah slum yang padat penduduk dan penuh dengan tingkat pelacuran, kriminalitas dan kematian yang tinggi adalah kesan yang mudah sekali hinggap di bayangan kita ketika mengingat kehidupan kota dalam pengertian ini. Kota dan industri tampak bagaikan bangunan pencakar langit dan pabrik yang dibangun di atas tumpukan korban manusia yang tidak kurang jumlahnya— wajah terluka dan sosok berdarah-darah dari manusia di era (post) industri ini.

Singkatnya, kota menampilkan konstelasi akan berbagai kontradiksi dan ambiguitas kemanusiaan. Di satu sisi ia menampilkan kebebasan, kemerdekaan, kesetaraan, kemegahan, namun di sisi lain menampilkan juga korban, luka dan pengingkaran kemanusiaan. Lalu apa relevansinya Farhan Siki menyoal isyu itu dalam karyanya?

Lima Argumen

Menurut hemat saya paling tidak ada lima argumen utama yang bisa diajukan untuk menjawab pertanyaan di atas.

Pertama, dalam menyoal perkara itu, Farhan Siki tidak larut ke dalam romantisme “kembali ke alam” atau “kembali ke gemah ripah loh Jinawi kehidupan desa”. Ia tidak terperangkap menolaknya, namun tetap memilih bergulat secara intens dengan berbagai paradoks kehidupan kota, dan berusaha menawarkan pemaknaan atasnya (dan bahkan dengan menggunakan kertas, yang merupakan juga komoditas hasil industri yang sangat dekat berelasi dengan kehidupan kota, sebagai media ekspresi estetisnya).

Kedua, wajah berdarah-darah penuh luka dari sosok manusia di kota, dengan berbagai ruang yang penuh dengan “objek-objek tajam” saling berbenturan, ditampilkan Farhan Siki dalam karya-karyanya sebagai bagian yang takterpisahkan dari kehidupan urban. Ia adalah bagian takterpisahkan dari totalitas kota. Melalui karya-karyanya, dan ini, Farhan Siki berupaya menggeser perspektif kita semua agar apa yang acapkali kita anggap “afkir”, “bukan bagian yang penting”, “hal-hal lumrah yang layak diabaikan/ diingkari” menjadi focal point dari perhatian estetis kita semua.

Ketiga, dengan menampilkan perkara itu sebagai bagian penting dalam karya-karyanya, Farhan Siki mengajak dan melatih kita semua agar terbiasakan untuk tidak menerima perkara ini sebagai sesuatu yang taken-for-granted, melainkan sebagai nutrisi bagi kepekaan estetis dan rasa kemanusiaan kita.

Keempat, melalui pergeseran perspektif dan peningkatan kepekaan estetis di atas, karya-karya Farhan Siki mendemonstrasikan kepada kita bahwa persepsi estetis seharusnya bisa menunjukkan keanekaragaman yang lebih luas dan sekaligus susunan bangunan yang lebih kompleks atas realitas kehidupan urban dibandingkan apa yang bisa ditangkap dan diserap persepsi inderawi seharihari semata. Dalam persepsi inderawi kita biasanya cukup puas hanya dengan menangkap corak-corak umum yang bersifat tetap dari objek-objek kehidupan kota di sekitar kita. Kepekaan estetis jauh lebih kaya. Ia sarat dengan berbagai kemungkinan tak terbatas yang sulit ditangkap, kalau tidak bisa dikatakan tidak mungkin, oleh pengalaman inderawi sehari-hari. Dalam karya-karya Farhan Siki, kemungkinankemungkinan itu dijadikan aktual, diangkat ke permukaan dan diberi sosok tertentu. Tersingkapnya hal yang takkan tertuntaskan ini, yakni kualitas-kualitas tertentu atas wajah kehidupan urban, merupakan salah satu keistimewaan dan pesona seni. Ini merupakan alasan keempat, dan hal itu (menurut saya) berhasil secara baik dilakukan Farhan Siki melalui karya-karyanya.

Kelima, penyingkapan atas kemungkinan-kemungkinan tak terbatas atas realitas perkotaan yang ada sekaligus kualitas-kualitas tertentu lainnya yang mungkin ada, menyadarkan kita akan kekurangan dan keterbatasan realitas yang ada sekarang ini. Perkara itu bisa saja pada akhirnya mendorong kita untuk melakukan koreksi terhadap realitas yang ada di sekeliling kita saat ini. Meskipun bersifat tidak secara langsung, karya-karya Farhan Siki dengan perspektif estetis semacam itu mengandung aspek emansipatoris, dan ini adalah alasan kelima dan terakhir kenapa karya-karyanya relevan untuk dibicarakan dalam konteks kehidupan urban dan sosok terluka wajah kemanusian kita semua sebagai warga kota.

Saya mengapresiasi keberanian dan kelenturan Farhan Siki. Saya melihat ada sejumlah kecerdasan, kejutan dan liukan dalam pameran kali ini. Kepada anda semua, saya ucapkan selamat menyusuri relung-relung kota dengan sejumlah memar dan luka sosial, sembari berikhtiar menyembuhkan luka itu di antaranya melalui dan atau dengan karya dan atau seni, karya seni di milenium yang tunggang langgang ini . Selamat menikmati!

Depok , 17 Mei 2018

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *