Kamu Harus (Cepat) Berpameran

Share!

Catatan Pameran “KODE” Oleh Farhan Siki

Secara kebetulan saja saat menulis esai ini pada suatu malam, terdengar dari radio bututku sebuah lagu picisan “Kamu Harus Pulang” dari grup band Slank, terasa pas saja jika kemudian saya ingin menuliskan pengantar perihal pameran perupa muda yang diberi tajuk “KODE” ini. Dalam lagu yang terasa sangat ringan dan gampang dihapal oleh siapapun itu ada representasi sikap atau keputusan bilamana kamu harus bertindak; …kamu harus cepat pulang, jangan terlambat sampai di rumah, kamu harus cepat pulang walau sedang nikmati malam ini, bla…bla…bla. Lalu saya rasa judul “Kamu Harus (Cepat) Berpameran” itu juga mengindikasikan hal yang sama yakni momen kapan seorang perupa muda itu harus mengambil keputusan berani untuk mengkomunikasikan gagasan kerja seninya ke tengah khalayak. Memang, pernyataan kata-kata “cepat berpameran” disini bisa disalahpahami sebagai sebuah kalimat penganjuran bagi para perupa muda untuk menyegerakan proses kreatif berkeseniannya, yang notabene memerlukan waktu yang relatif panjang untuk bertumbuh dan berkembang. Namun kata “cepat” disini adalah pernyataan langkah tepat kapan seharusnya perupa muda itu mulai berani mengetengahkan gagasan dan praktik seninya ke publik, sebagai sebuah proses kreatif juga bahwa dalam perjalanan karir keseniannya yang masih sangat panjang itu memerlukan semacam asupan, vitamin atau nutrisi yang bersumber dari kritik dan respon publik terhadap karya-karyanya.

Pameran perupa muda bertajuk “KODE” ini saya analogikan sebagai cara “Gunting-Batu-Kertas”, sebuah mekanisme penentuan siapa yang memulai duluan dalam sebuah permainan, atau bisa juga berarti mekanisme untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang dalam suatu permainan. Alih-alih untuk menentukan siapa yang menang, pameran ini justru merelatifkan arti menang-kalah dalam dunia seni rupa, karena justru pameran ini untuk melatih enduro, daya tahan kreatif dalam kompetisi seni yang panjang, bahwa kekalahan dalam suatu etape adalah bahan bakar buat etape selanjutnya, losing is an energy. Oleh sebab itu analogi “Gunting-Batu-Kertas” yang lebih tepat pemaknaannya untuk peristiwa pameran ini adalah sebagai mekanisme untuk menentukan siapa yang lebih dulu berani bermain, bekerja dan mengkomunikasikan hasil karyanya ke tengah khalayak, dan begitulah, pameran ini akan menjadi panggung peran seberapa jauh kontribusi perupa muda dalam turut mendinamiskan dunia seni rupa di Indonesia karena tentu predikat yang melekat pada diri orang muda itu adalah eksperimentatif, kebaruan dan kadang radikal. Pameran ini tentu tak hendak tendensius melontarkan perupa muda ke sebuah tempat “dunia fantasi” seni rupa yang penuh selebrasi, pembukaan pameran dengan dandanan keren dan wah para artis dan pengunjungnya, disertai pesta minum-minum wine atau riuhnya obrolan transaksi jual beli karya seni yang dipamerkan. Tetapi pameran ini bisa mengantar para perupa muda ke sebuah pemahaman dunia professional seni rupa yang penuh dedikasi dan tanggung jawab, yang di kemudian hari akan menjadi nilai yang sangat berarti dalam meniti karir sebagai seorang seniman atau artist.

Saya memilih tiga orang perupa muda ini; Alivion (22 tahun), Vicky Saputra (21 tahun) dan Eka Apriansah (21 tahun) adalah semata-mata melihat secara mendasar presentasi karya-karya drawing mereka beberapa waktu lalu di Galerikertas Studiohanafi Depok, bahwa tiga dari puluhan perupa yang presentasi tersebut andaikan itu dalam suatu kelas memasak, merekalah yang memiliki bahan dasar untuk membuat dan meracik suatu menu masakan, bahan dasar apakah itu? bahan dasar (modal) bagi seorang perupa dalam mencipta karya-karya seni rupa itu setidaknya dapat meliputi dua hal yaitu craftsmanship, kemampuan teknis dalam mengolah aspek artistik visual, dan metaphorical language, bahasa ungkap dalam merepresentasikan emosi dan gagasan melalui pilihan tanda-tanda visual, atau kemampuan membangun makna melalui relasi antar obyek-obyek visual dalam karya. Modal itulah yang mesti harus dipunyai untuk proses kreatif selanjutnya, meskipun apabila memasuki dunia seni rupa sesungguhnya, bahan –bahan lainnya amat diperlukan, seperti knowledge production dan networking secara global.

Lalu bagaimana mereka bekerja untuk pameran ini?. Pertamatama, ada satu hal penting yang mesti disadari oleh seorang perupa dalam membuat sebuah pameran seni yaitu bagaimana merespon dan memaknai ruang sebuah galeri. Galerikertas sejak mula telah diniatkan sebagai ruang eksplorasi atas segala kemungkinan seni bermediakan kertas, dengan fasilitas ruang galeri yang representatif tentu galeri ini bisa memantik semangat eksperimentasi untuk menghadirkan karyakarya yang segar, inovatif dan baru, maka disinilah tantangannya buat Aliv, Vicky dan Eka yang telah bertandang proses berkali-kali di Galerikertas untuk dapat mengintimi ruang per ruang galeri, bahwa mereka bertiga perlu sinergi bersama, bekerja secara kolaboratif untuk dapat secara jitu menyajikan materi pameran dengan karyakarya terbaiknya. Kemudian dalam suatu kesempatan diskusi bersama, mereka menawarkan konsep laboratorium, yaitu pameran ini sebagai ruang eksperimentasi gagasan dan praktik seni, yang lebih bisa membuka lebar ruang interaksi antara mereka dan publik, yang dipandang sebagai arena belajar secara langsung dirinya dalam dunia nyata seni rupa.

Sebagai pendamping pameran saya tak terlalu masuk pada ruang gagasan para perupa karena atas nama kebebasan berekspresi mereka berhak mencari konsep dan bentuk bahasa visual sendiri, diskusidiskusi kami lebih menyoal wawasan dan referensi khazanah seni rupa global, dan bukankah dunia internet juga telah banyak memberikan referensi ragam seni dari penjuru dunia, maka disini yang penting adalah bagaimana para perupa itu menemukan bahasa seninya sendiri, tubuh, jiwa dan pikirannya sendiri karena dalam apa yang disebut desa global, globalisasi bahwa yang terlihat tidak berbeda dengan yang lain adalah sesuatu yang dianggap tidak eksis. Satu hal lagi yang harus digarisbawahi adalah ruang laboratorium yang bagaimana sedang mereka gagas tersebut benar-benar optimal menghasilkan praktik dan pendekatan-pendekatan baru dalam berkarya seni dengan medium kertas, yang idealnya bisa membuka cakrawala bagi perupa muda lainnya untuk ikut serta dengan turut serta merayakan kebebasan berkarya dengan media tanpa batas dan bebas himpitan dari konvensikonvensi berkarya seni yang sudah ada.

Lalu sebagai perupa yang telah lebih dulu mengisi pameran di Galerikertas, kepada mereka saya lebih berbagi pengalaman tentang pemahaman dan strategi merespon atas karakteristik empat ruang galerikertas yang berlainan, ada space yang hanya representatif untuk menggantung karya-karya drawing atau karya on paper yang flat, ada juga ruang yang spesifikasinya cocok untuk karya instalasi, lalu ada ruang dengan karakter display karya yang dilihat secara mata burung (bird’s view) karena tersedianya meja etalase dalam ruangan, juga terdapat space besar semacam hall yang memungkinkan memajang karya-karya berdimensi besar. Dengan begitu para perupa muda yang akan mengisi pameran di Galerikertas ini mempunyai referensi menentukan bentuk dan format karya yang akan dipamerkan. Meski dengan keterbatasan waktu yang relative sangat singkat, tak lebih dari 20 hari menuju pembukaan pameran, huuft, sungguh kerja seni dan praktik manajerial seni yang fantastik.

Hari ini kita melihat dunia seni rupa begitu riuh rendah dengan maksud dan tendensinya masing-masing, melihat praktik dan wacananya yang juga dengan instrumennya sendiri-sendiri dari biennale, triennale, art fair, auction, festival dan berbagai pameran seni di museum pribadi, galeri komersial hingga proyek seni di ruang-ruang alternatif yang dikelola mandiri oleh seniman. Ada juga yang amat penting untuk dicermati dan disikapi adalah fenomena dunia media sosial yang begitu sangat hyper dan agresif menemani nyaris 24 jam waktu-waktu hidup kita, para warga dunia internet atau yang disebut netizen ikut merayakan dengan gempita, pun demikian dengan para seniman, begitu amat sibuk berselancar dan berburu informasi, mencari grant , peluang pameran dan aplikasi-aplikasi pengantar karir ke dunia internasional, tak ada yang salah dengan fenomena ini karena kemajuan teknologi informasi ini adalah keniscayaan jaman. Namun Facebook, Youtube, Twitter dan Instagram seperti kawan dalam selimut, mengasyikan sekaligus meninabobokan kita untuk tidak berbuat apa-apa , tidak mengakibatkan apaapa dan tentu tidak mendapat apa-apa. Bukankah esensi dari hidup berkesenian itu adalah mengembalikan harkat dan martabat manusia dengan sisi-sisi kemanusiaannya. Cara hidup itu pilihan dan setiap orang bebas melilih caranya sendiri-sendiri. Freedom of expression!.

Yogyakarta, 8 Juli 2018

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *