Instrumen Musik Q-Tik Tubaba disukai Warga Azerbaijan

Share!

Belum secara resmi Indonesian Cultural Festival dibuka (untuk venue fountain square), warga mendatangi booth kabupaten Tubaba. Seperangkat instrumen musik Q-Tik (2 Q-Tik melodi n 2 Rhtym), menjadi perhatian utama, instrumen yang dibuat jadi gigantik dari basis penciptaannya Cetik, merangsang warga secara spontan untuk memainkannya.

Empat pasang pemukul yang disiapkan nampaknya tidak cukup, karena sepasang patah, ini karena penanggungjawab pameran kewalahan melayani pengunjung yg ingin workshop dan memainkan Q-Tik.

Bagi Gunar Muhammad (30) instrumen musik dari bambu ini terbilang aneh dan bunyinya enigmatik, ditambah lagi secara otomatis tubuh bisa jadi lebih enjoy saat memainkannya.

Perasaan suka cita juga disampaikan oleh Qumrad, pelajar berusia 16 tahun, telah menjadi penonton setia karena telah mengikuti festival ini sejak tahun lalu dan menjadi agenda sebagai festival yang harus diikuti.

Tahun ini menjadi lebih spesial karena dia merasa senang bisa memainkan Q-Tik, sebuah intsrumen dari Tubaba, Lampung, Pulau Sumatra. Sebuah wilayah yang tidak pernah didengar seumur hidupnya. Selain musik Q-Tik, Qumrad juga mencoba memainkan instrumen Q-khuk, sebuah instrumen yg dibikin dari wadah karet lalu diikat tali sol sepatu kemudian menghasilkan bunyi angin yang misterius. Sedangkan instrumen Q-Wek, instrumen eksperimental perpaduan dari buah kelewek yg dikeringkan dan wadah karet, berfungsi sebagai alat musik yang digoyang dan ditiup. Lawe Samagaha beberapa kali mendemonstrasikan bahwa buat memainkan Q-wek wadah karet harus kita isi air dulu, baru bisa menghasilkan bunyi seperti suara burung, angin dan suara-suara alam lainnya.

Pada hari pertama ICF di venue fountain square ini nampaknya Booth Tubaba paling banyak diserbu orang, karena memang tidak semata terjadi transaksi ekonomi, melainkan dialog budaya, menariknya lagi para pengunjung yang memainkan Q-Tik dari berbagai usia, dari 5 tahun hingga sekira 60 tahun.

Seorang warga Uganda Chancena Melody, seorang mahasiswa Hubungan Internasional di sebuah Universitas di Baku, menyatakan kesenangannya pada instrumen Q-Tik, karena kelincahan bunyi bambu yang dihasilkan dari setiap ketukannya, sementara Kamil Valiyev terpukau oleh skala musik yang bukan pentatonik dan diatonik, ini hal baru baginya. Antusiasme warga Azerbaijan pada musik Q-Tik bahkan hingga acara selesai digelar pada jam 10 malam, sejumlah warga masih mendatangi Tubaba dan Lawe dalam kelelahan bilang “See You Tomorrow, we will play again”. Sedangkan produk kopi Tubaba “Quppey” yang sebenarnya belum dilaunching produknya di Tubaba sendiri, telah ludes hanya dalam waktu 1 jam saat booth dibuka. Kata Rasyid Khalilov (60) dia memborong kopi Tubaba karena harumnya yang menyengat, dia akan meminumnya di rumah bersama keluarga.

/ Kolaborasi Tubaba

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *