Henryette Louise Gelar Workshop Kolaborasi “Open Studio” di Studiohanafi

Share!

Workshop ini akan berlangsung sepanjang 7-24 Oktober 2019.

by Daniel Deha

7 Oktober 2019

in Liputan

Instalasi karya Henryette Louise bertajuk “Mencari Tanah Air” (2016). -Dok. indoartnow.com

 

VIEWS

Portal Teater – Henryette Louise, seniman asal Blitar, akan membuka kesempatan workshop kolaborasi “open studio” dengan seniman lintas disiplin di Studiohanafi Depok, Jawa Barat.

Tidak hanya seniman, workshop yang berlangsung selama kurang lebih sebulan ini juga diikuti oleh mahasiswa, pelajar, event organizer, dosen, arsitek, fotografer, guru, ibu rumah tangga, dan masih banyak lagi.

Setidaknya, setelah melakukan open call sebulan sebelumnya, Louise dan Studiohanafi melakukan seleksi dan memilih 57 peserta yang lolos untuk mengikuti workshop kolaborasi ini.

Menariknya, workshop ini tidak hanya dibuka bagi peserta terpilih, tapi juga buat masyarakat dan pencinta seni lainnya di sekitaran ibukota.

Terkait

Ini menunjukkan betapa terbukanya proses kerja ini seperti yang tergambar dari konsep kerja yang diusung dalam workshop ini, yakni “Open Studio/Full Time Artist”.

“Konsepnya open studio,” kata Lousie dalam keterangan tertulis yang diterima dari Studiohanafi.

Diskusi konsep kolaborasi akan dibuka hari ini, Senin (7/10) pukul 15.00 WIB bersama Heru Joni Putra (kurator Galerikertas) dan Henryette Louise (narasumber).

Sementara pameran proses kolaborasi akan berjalan sepanjang 8-23 Oktober 2019. Pada puncaknya, akan ditampilkan hasil kolaborasi seniman pada 24 Oktober 2019.

Henryette Louise. -Dok. indoartnow.com

Menemukan Makna Baru

Lousie banyak membuat karya instalasi dan juga lukisan. Salah satu proses penciptaan karya instalasinya adalah pengolahan kembali barang-barang tidak terpakai.

Dalam konteks kerja penciptaannya, sebuah benda loak tak hanya sebatas mendapatkan bentuk baru, tapi juga fungsi dan makna baru.

Inilah yang disebutnya sebagai modus penciptaan “re-use” atau “penggunaan kembali”. Konsep ini berbeda dengan konsep “re-cycle” atau daur-ulang, sebagaimanHenryette LouiseHenryette Louisea terjadi pada pabrik atau industri.

Ada perbedaan mendasar antara “re-use” dan “re-cycle” dalam konteks ini. Dalam daur ulang, material bisa saja kehilangan sejarahnya.

Ketika sebuah benda didaur ulang hingga menjadi material mentah, maka makna-makna sosio-kultural dari benda tersebut cenderung lenyap dan kehilangan “nyawa” awalnya.

Lain halnya bila dilakukan menggunakan konsep “re-use”. Di sini, sebuah benda digunakan kembali dengan fungsi dan makna baru; tak akan hilang “nyawa” benda tersebut sepenuhnya.

Selama benda tersebut masih mengandung bentuk awalnya, maka selama itu masih terikat dengan sejarah serta nilai sosial-kulturalnya.

Secara filosofis, kerja “re-use” adalah kerja untuk “bermain-main” dengan bentuk awal serta makna lumrah pada sebuah benda, untuk kemudian diperluas, dikembangkan, atau dibenturkan dengan makna-makna baru.

Disulap Jadi Studio Kerja

Bersandar pada konsep open studio, maka kerja kolaborasi ini membutuhkan ruang yang luas dan bebas. Ruang itu tidak hanya untuk menggelar workshop, tapi juga sebagai studio kerja.

Artinya, selama proses ini berlangsung, Galerikertas Studiohanafi tidak hanya disulap menjadi arena berlangsungnya pameran dan diskusi, tapi bagaimana arena tersebut didesain menjadi ruang kreatif dan dinamis.

Di sana para partisipan dan publik sekitar dapat bertukar gagasan, merangkum ide dan berkarya bersama untuk mengenal lebih dekat bagaimana sebuah karya berproses.

“Jadi, konsepnya terbuka, setiap partisipan bisa datang dan pergi selama durasi workshop. Orang-orang juga boleh datang untuk melihat kami berproses,” ujar Louise.

Heru Joni Putra mengatakan, program “Open Studio/Full Time Artist” ini menggabungkan proses dan pameran.

“Semua partisipan berproses sekaligus berpameran di saat yang sama. Mereka memamerkan proses sekaligus seiring berjalan waktu memamerkan karya-karya yang muncul dari proses tersebut,” katanya.

Bagi partisipan yang tidak mempunyai latar belakang seni (misalnya guru, dosen, arsitek, pelajar, dll), setidaknya, program ini menjadi ruang untuk mempelajari bagaimana seniman bekerja melalui metode yang dijalanan Henryette Louise.

Sementara bagi partisipan yang berasal dari latar belakang seni, program ini dapat menjadi ruang dialog dan uji coba kerja-kerja kolaborasi.

57 Peserta Terpilih

Berikut peserta terpilih workshop kolaborasi “OPEN STUDIO/FULL TIME ARTIST”:

  1. Aditya Fatma Ramadhan
    2. Aditya Pratama (marketing)
    3. Afif Musthafa ( wirausaha,mengelola limbah kain)
    4. Ali Anzi Muntazhar (Graphic designer)
    5. Amyrhiby (Event Organizer)
    6. Arief Rahmansyah (Seniman Mural)
    7.Artha Dewi
    8. Audite Matin (Arsitek Interior)
    9. Bahtiar Dwi Susanto ( freelance)
    10. Bob Novandy (kreator seni kriya daur ulang botol plastik)
    11. Broygodoy (visual artist-studio)
    12. Cahya Yusuf
    13. Carlos Fidel (Asisten sutradara Wee production)
    14. Dayna Fitria Ananda ( Guru SMP)
    15. Dea Safitri
    16. Denny Restu Firmansyah (freelance photography)
    17. Dinihari Suprapto (creative content specialist)
    18. Edwin Makarim Januar (Pelukis dan pengajar)
    19. Eka Apriansah (Mahasiswa)
    20. Epul (pengajar)
    21. Fairly apriani (seniman)
    22. Faizah Weningtyas (Mahasiswi)
    23. Firdaus (guru)
    24. Gilang topan firdaus (Graphic design dan visual artist)
    25. Gladysmara (Mahasiswi ISI Padang)
    26. Haifah Mufidah (pengajar)
    27. I.J Asrary (Mahasiswa)
    28. Iis Damayanti
    29. Joind Bayuwinanda (Aktor dan sutradara teater/sindikat aktor Jakarta)
    30. Kana (Ibu RT dan Perupa)
    31. Kurnia Effendi (seniman)
    32. M.bilal Alfarizi ( Mahasiswa)
    33. Mohammad Fahmi (Mahasiswa)
    34. Muhammad Haris (Mahasiswa)
    35. Muhammad rafif ammar (Freelance)
    36. Rengga Satria (fotografer lepas)
    37. Rivaldo Pratama (Kepala tata usaha SMK LINK AND MATCH)
    38. Salima Hakim (Dosen)
    39. Sifa Ningrum (freelance designer)
    40. Siti Mardianingsih (ibu rumah tangga)
    41. Teguh Hadiyanto (freelance)
    42. Teguh Kurnia Ramadhan ( Mahasiswa)
    43. Tiko Rizky Almughni (Mahasiswa)
    44. Wahyu Imam ( Ilustrator)
    45. Anisa Putri (Pelajar SMK Yapan)
    46. Ranti Dzidni Sauqi (Pelajar SMK Yapan)
    47. Keisa Surya M (Pelajar SMK Yapan)
    48. Rama Alfani (Pelajar SMK Yapan)
    49. Ersa Rahmawati(Pelajar SMK Yapan)
    50. Dina Amelia Putri (Pelajar SMK Yapan)
    51. Novita Candra Sasmita Fransisca (Pelajar SMK Yapan)
    52. Jeremy Nathanael (Pelajar SMK Yapan)
    53. Siti warisal Ummah (Pelajar SMK Yapan)
    54. Khania Al Zhaira (Pelajar SMK Yapan)
    55. Stefani Wihelmina (Pelajar SMK Yapan)
    56. Handika Muhammad Hakim (Pelajar SMK Yapan)
    57. Andri (Organizer Event)

Tentang Henryette Louise

Henryette Louise lahir di Blitar pada 1980. Ia merupakan lulusan Seni Rupa STSI (SekolahTinggi Seni Indonesia) yang saat ini berganti nama menjadi ISBI (Institut Seni dan Budaya Indonesia).

Louise pernah menempuh studi seni rupa di SMSR (1997-1999), Modern School of Design Yogyakarta (1999-2001).

Pada saat masuk STSI, Louise awalnya mengambil jurusan Desain Grafis pada 2002-2008. Kemudian beralih dengan mengambil jurusan Seni Lukis pada 2011-2013.

Louise juga aktif dalam kelompok seniman Invalidurban, sebagai konseptor artistik. Sebagai seniman, ia cukup aktif berkarya secara kelompok maupun perorangan.

*Daniel Deha

/ Artikel Galeri

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *