Fiksi yang Membocorkan Dirinya Sendiri

Share!

Catatan Pameran “PARALAKS FIKSI” Oleh Heru Joni Putra

Pameran Cecil Mariani “Paralaks Fiksi” mencoba membuat perkara dengan cara kita melihat kenyataan. Dalam konsep pamerannya, Cecil menegaskan bahwa segalanya adalah fiksi. Kata fiksi yang diajukan Cecil tidak dalam pengertian benar atau bohong. Ia jelas tak berurusan dengan kategori itu. Fiksi lebih dilihat sebagai sesuatu yang keberadaannya mensyaratkan adanya rekaan.

Konsekuensi ketika kita mengatakan segalanya adalah fiksi, dalam pengertian seperti itu, adalah pertanyaan tentang apa itu realitas. Dan Cecil sudah mengantisipasinya. Baginya, realitas adalah fiksi yang kita sepakati bersama. Artinya, antara kita dan dunia yang serba fiksi ini diperantarai oleh konsensus. Konsesuslah yang membuat sesuatu yang pada mulanya berupa fiksi yang disadari menjadi realitas (fiksi yang tidak disadari). Konsensus, dengan begitu, dimaknai suatu sistem—entah itu sistem bahasa, sistem hukum, sistem sosial, dst—yang berfungsi untuk menyelubungi segala sifat-sifat fiksi atas entitas tertentu sehingga entitas tersebut tampak seakan-akan tidak fiksi lagi. Dengan begitu, konsensuslah yang menjadi jembatan kita untuk masuk ke realitas.

Seperangkat konsep yang dipakai Cecil perihal fiksi tersebut diartikulasikannya ke dalam bentuk karya seni. Salah satunya adalah berupa pemosisian ‘ruang pameran’ sebagai ‘ruang bekerja’ atau konseptualisasi Fiksi yang Membocorkan Dirinya Sendiri 1 2 atas ‘aktivitas di ruang bekerja’ sebagai ‘karya seni yang dipamerkan’. Ruang pameran dalam hal ini tak hanya dalam artian ruang galeri, tetapi juga seperangkat aktivitas pameran berserta isinya. Sementara itu, ruang bekerja tidak sekedari dimaknai sebagai studio, namun juga seperangkat kerja-kerja penciptaan. Dalam pola umum, ada jarak yang tegas antara ‘ruang bekerja’ dan ‘ruang pameran’ seorang seniman. Penyebutan ruang bekerja ini seringkali digantikan dengan “dapur” ataupun “laboratorium” ataupun “studio”. Apapun istilah yang digunakan, yang jelas istilah itu berusaha mengakomodir eksperimen seniman. Sementara itu, “ruang pameran” merupakan suatu destinasi untuk melihat hasil dari eksperimen seniman tersebut. Tentu banyak seniman yang menjadikan ruang pameran sebagai perpanjangan dari eksperimen yang dilakukannya di ruang bekerja, namun yang jelas nalar ruang pameran diperuntukkan pada segala temuan yang diperoleh seorang seniman dalam berbagai ujicoba yang dilakukan sebelumnya. Untuk mengartikulasikan nalar seperti itu, tak jarang ruang pameran juga disebut sebagai “etalase”, “beranda”, dan sebagainya.

Sebagai destinasi untuk melihat hasil akhir, suatu ruang pameran umumnya tidak sepenuhnya membocorkan serba-serbi kerja di belakang layar. Bahkan tak jarang, kerja belakang layar itu menjadi rahasia. Kalaupun pada akhirnya rahasia itu akan terbuka juga, itu butuh waktu lama untuk membeberkannya. Kadangkala pun, cerita-cerita belakang layar itu hanya dikeluarkan sedikit-sedikit, dari satu orang ke orang lain, dengan pereduksian di sana sini yang tak terelakkan. Singkatnya, kita terlanjur susah mengakses proses penciptaan suatu karya, dari masih berbentuk material belaka hingga menjadi sesuatu yang disebut karya seni, kecuali bila kita benar-benar sengaja mengikuti proses kerja seorang seniman. Minimnya produksi pengetahuan perihal kompleksitas proses, tak dapat dielakkan bahwa salah satu efeknya bagi masyarakat bisa saja berupa penyepelean yang dilakukan ketika melihat karya seni. Kasuskasus penghancuran karya patung di ruang publik dengan alasan yang tidak menyertakan pandangan tentang seni itu sendiri dapat kita jadikan sebagai salah satu contohnya. Atau mungkin bagi seniman pemula, kurangnya penyerapan pengetahuan perihal dinamika penciptaan karya di belakang layar dapat mendukung gejala maraknya penciptaan karya seni yang cepat-saji, kuat di wacana lemah di keterampilan, terlalu condong mencari-cari isu di luar karya daripada menggali isi di dalam karya itu sendiri, dan seterusnya. Tanpa mengalami proses yang penuh resiko dan tantangan, menciptakan sebuah karya seni seakan-akan hanya kerjasekali-jadi atau seakan-akan bisa bermodalkan kemampuan meniru ataupun memodif belaka.

Dalam konteks terpisahnya “ruang bekerja” dan “ruang pameran” atau ketidakseimbangan produksi pengetahuan dari belakang layar dan depan layar itulah yang membuat pameran Paralaks Fiksi ini menarik untuk ditelisik lebih dalam. Cecil tampak berusaha melenyapkan jarak antar kedua ruang tersebut sehingga antara ruang bekerja dan ruang pameran menjadi transparan. Bagaimana strategi Cecil untuk menunjukkan transparasi antar kedua ruang tersebut? Cecil dengan jelas menunjukkannya 1 3 melalui sebuah “karya ruang ” yang berjudul “Shrine for Fiction Reproductions”. Dalam karya ini, salah satu ruang pameran tidak diisi oleh karya yang sudah jadi atau tidak diperuntukkan sebagai pemajangan hasil akhir penciptaan. Penataan ruang ini pun tidak diarahkan untuk menjadi suatu etalase yang akan menitik-fokuskan pandangan kita kepada susunan karya-karya. Cecil justru menata galeri menjadi “studio”. Seperangkat perkakas yang berada di dalam galeri tersebut menunjukkan suatu karakteristik tempat bekerja atau ruang eksperimen seniman. Apakah strategi Cecil menghadirkan sisi transparan antara ruang bekerja dan ruang pameran hanya berhenti pada kerja menata ruang belaka? Tentu saja tidak.

Ikhtiar Cecil untuk memperkuat aspek transparan tersebut dilanjutkan dengan mengonseptualisasi sebuah aktivitas lokakarya sebagai bagian dari “karya ruang ” tersebut. Sejalan dengan program galerikertas, Cecil mengumpulkan beberapa seniman muda untuk mengikuti lokakarya berkala yang diadakannya selama pameran. Dalam konteks sebagai “karya ruang ”, tujuan dari lokakarya ini tak hanya menciptakan ruang diskusi antara Cecil dengan para seniman yang lebih muda, tetapi juga membuat sebuah proyek penciptaan seni bersama-sama, bahkan direncanakan dalam waktu jangka panjang melebihi durasi pameran Paralaks Fiksi. Setiap pertemuan yang diadakan itulah yang menjadi presentasi kerja belakang layar dari penciptaan sebuah karya seni. Dan di momen itulah semakin kentara transparasi antara ruang kerja dan ruang pameran: Cecil di saat yang sama sedang membuat karya sekaligus sedang memamerkan karyanya Selain itu, setali dengan “karya ruang ” tersebut, karya berjudul “Map for Fictional Teritorry: Reality Abstracted” mencoba mengusung sisi lain dari proses penciptaan suatu karya seni. Bila tadi mengandalkan keberadaan ruang, partisipasi, dan aktivitas lainnya, karya ini justru lebih kalem. Beberapa karya origami-abstrak yang dibuat dengan kertas sewarna dipasang sejajar di dinding galeri. Tiap origami tersebut berbeda corak lipatannya. Ada yang sangat sederhana dan ada yang lebih banyak mengandung detail. Dengan cara yang sederhana, pemandangan origami-abstrak dalam posisi paralel seperti itu menunjukkan bagaimana sebuah evolusi suatu material menjadi sebuah karya seni. Kita dapat melihat bahwa perubahan dari material menuju hasil akhir bukanlah sebuah kerja sekali-lalu, melainkan penuh reka-reka, utakatik, ataupun ujicoba.

Pada gilirannya, ketika kita sedang melihat bagaimana sebuah karya tercipta maka di saat yang sama karya itu menunjukkan bagaimana sebuah fiksi direka. Ketika pameran Paralaks Fiksi ini mengusung gagasan bahwa segalanya sebagai fiksi—begitu juga pameran inipun sebuah fiksi—maka dengan begitu, pameran ini adalah sebuah fiksi yang membocorkan dirinya atawa fiksi yang membuka kedoknya sendiri.

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *