Catatan Pameran Gambaur Karya Ugeng T Moetidjo

Share!

Oleh Heru Joni Putra

Pameran gambaur karya Ugeng T. Moetidjo mengusung gagasan tentang pembauran. Kerja pembaruan itu sudah terjadi sejak mulai dari judul itu sendiri. Kata “gambar” dan “baur” dipadukan menjadi “gambaur”. Kerja pembauran serupa yang ia praktikkan pada judul itu tampak lebih kompleks pada karya-karya kertasnya dalam pameran di gßalerikertas kali ini.

Modus pembauran dalam karya Ugeng tidak sekadar mengutak-atik beberapa potong gambar menjadi satu ikatan visual saja. Ia justru menunjukkan kepada kita berbagai modus pembauran. Ada bentuk yang berbaur, sifat yang bercampur, atau corak yang bersatupadu. Dengan begitu, gambar-gambar tersebut memberikan kepada kita pembauran yang sesungguhnya tidak sesederhana sebagaimana terlihat sekilas.

Kertas bekas produk industri tertentu digunakan Ugeng sebagai salah satu medium karyanya. Pada kertas bekas itu terdapat keterangan produk tersebut. Bila pada fungsi awal-mulanya, tulisan yang dicetak secara digital pada kertas itu hanya digunakan sekadar sebagai instrumen informasi belaka, maka ketika ia membaurkannya dengan polesan manual yang menjadi corak tertentu, tulisan-digital itu mau tak mau memperluas fungsinya menjadi elemen estetik karya itu secara keseluruhan. Sehimpun tanda-tanda yang melekat pada kertas tersebut turut menjadi bagian penting dalam sistem pemaknaan atas karya itu sendiri. Mungkin pertemuan dua corak visual itu akan berselisih atau bersepadan; yang jelas, keduanya telah membangun konteks yang baru, de-label-isasi—sesuatu yang cenderung ingin dituju oleh kerja pembauran.

Begitu juga material lainnya yang digunakannya dalam karya-karyanya kali ini. Ia tak hanya membaurkan sesama material dua dimesi, tetapi juga antara dua dimensi dan tiga dimensi. Hal yang seperti itu juga berlaku pada pembauran yang dilakukannya pada barang-jadi dan barang olahan. Kedua kerja pembauran ini mengajak pemirsa untuk keluar dari pola kerja pemisahan barang sebagaimana yang lazim dilakukan dalam kerja pengelolaan industrial, dan di saat yang sama berusaha menunjukkan kepada kita bahwa persoalan utama dalam seni rupa bukanlah semata-mata soal material, tetapi lebih bagaimana cara memperlakukan material tersebut. Dengan kata lain, seni rupa dalam karya-karyanya tidak lagi memberatkan diri pada kecanggihan alat, melainkan lebih kepada kemampuan memberikan kualitas tertentu pada sehimpun benda-benda tersebut.

Konsep pembauran yang digunakan dalam pameran ini tak cuma mengafirmasi kehadiran berbagai karya Ugeng T. Moetidjo tersebut, melainkan juga memunculkan relasi pemaknaan yang menantang kita sebagai pemirsa karyanya. Dengan begitu, di pameran gambaur ini, kita dihadapkan pada sehampar sensibilitas dalam memproyeksikan “kenyataan”. Dengan melihat bagaimana ia memperlakukan garis, warna, komposisi, dst., kita bisa keluar-masuk dari suatu sensibiltas ke sensibiltas lain, berhilir-mudik dari suatu proyeksi ke proyeksi lain, dst.

Pembauran pada dasarnya adalah ikhtiar meniadakan sifat ekslusif dari suatu entitas, entah itu entitas abstrak maupun konkret, baik yang material ataupun non-material. Bila suatu watak ekslusif muncul, salah satunya dari lelaku tak henti-henti mencari “kemurnian”, maka pembauran bisa menjadi tindakan sebaliknya: usaha untuk menjauhkan diri dari ambisi untuk menjadi “murni” tersebut.  Tentu masih banyak modus pembauran yang bisa kita temukan dari sehimpun karyanya pada pameranya sekarang. Apa yang dijabarkan di atas hanyalah sedikit belaka. Namun begitu, ia berhasil mengikis watak ekslusif dari suatu benda, waktu, sensibitas, dst. Sekadar contoh, kertas produk industri—yang dipakai pada salah satu karyanya—yakni kardus kemasan dan amplop, jadi tak ekslusif lagi laiknya kertas amplop biasa yang juga jadi tak sekadar kertas biasa, goresan yang hanya menggunakan warna hitam sama-sama bisa “berbunyi” daripada polesan yang menggunakan berbagai warna. Mungkin pada taraf ini ia sedang menstabilkan pemaknaan atas benda ataupun non-benda: sesuatu yang mulanya berat-sebelah secara pemaknaan, kini disejajarkannya kembali.

Lebih lanjut, corak serupa itu juga bisa kita lihat pada penciptaan karya-karya seni yang mencoba melangkah jauh dari dikotomi “seni tinggi” dan “seni rendah”. Dalam karya-karya dari seniman tertentu, kedua elemen estetika dari “dua dunia” tersebut dibaurkan menjadi sehimpun estetika yang tak bisa lagi dilihat dengan logika oposisi biner. Pembauran “yang tinggi” dan “yang rendah” tersebut bukan berarti bahwa ia menjadi seni tinggi dan seni rendah sekaligus. Dengan cara men-desakralisasi-kan “yang tinggi” dan men-estetikaisasi-kan “yang rendah”, pembauran tersebut dengan begitu lebih menunjukkan suatu ikhtiar untuk meneroka definisi baru.

Kini kita bisa mengajukan berbagai pertanyaan. Namun, pertanyaan itu nantinya tidak untuk dijawab dalam tulisan ini, melainkan hanya mengajak pemirsa untuk menemukan sendiri makna dari pembauran yang diusung oleh Ugeng. Apa kira-kira visi pembauran yang dilakukannya dalam pameran gambaur ini? Apakah dengan modus pembauran ini ia justru ingin membangun relasi pemaknaan yang tidak terputus antar berbagai ranah visual di kehidupan kita? Apakah pembauran itu bisa dilihat sebagai usaha untuk mengikis “nilai-lebih” yang terlanjur diberikan industri pada suatu benda dan di saat yang sama mengembalikan suatu benda pada “nilai-gunanya”? Apakah pembauran tersebut menihilkan nilai suatu benda dan dengan begitu pemirsa bisa memberi makna secara arbiter terhadap benda tersebut? Pembaruan apa yang dimungkinkan dari pembauran? Selamat memasuki gambaur.

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *