Bahasa Sedang Melakukan Operasi Terhadap Bahasa

Share!

Catatan Pameran “OPERASI” Oleh Heru Joni Putra

Bahasa merupakan salah satu instrumen yang digunakan manusia untuk menciptakan representasi dari realitas. Realitas, dalam pengertian yang seperti itu, tidak bisa dijangkau manusia. Begitu sulit untuk menyampaikan realitas secara “murni” tanpa reduksi manusia dan segala korelatnya. Pada akhirnya, untuk menyampaikan suatu realitas, manusia membutuhkan suatu piranti untuk memahami, merespon, menyampaikan, dst. realitas. Namun, dengan menggunakan piranti yang disebut Bahasa, manusia tetap saja tidak bisa benar-benar bisa menyampaikan realitas secara objektif.

Berbagai cara pun dilakukan, tapi toh manusia hanya bisa menyampaikan representasi dari realitas. Selalu ada yang retak, reduksi, pelintiran, ketidakobjektifan, dll yang muncul dari perkakas itu sendiri. “Manusia tidak bisa menyampaikan realitas secara objektif karena kehadiran manusia di dalam realitas itu bersifat inheren,” kira-kira demikianlah suatu kali Slavoj Zizek pernah menulis perihal sikap kontranya pada pandangan “realisme objektif”.

Kondisi tersebut, pada prinsipnya, menunjukkan bahwa Bahasa sebagai produk kebudayaan manusia, senantiasa menyimpan watak politisnya. Bahkan, dalam pandangan tertentu, realitas dikatakan sebagai hasil konstruksi bahasa. Di sisi lain, permainan bahasa dianggap membuat manusia semakin berjarak dengan realitas. Semakin realitas dideskripsikan dengan berbagai cara maka semakin renggang posisi manusia terhadap realitas itu sendiri.

Bahasa dalam hal ini tentu tidak sekedar dalam pengertian semesta linguistik, melainkan segala perangkat yang digunakan manusia untuk melakukan praktik pemaknaan (signifying practices), entah itu bahasa visual, bahasa musik, bahasa tubuh, dst. Kesenian, dengan begitu, merupakan salah satu dari sekian banyak perangkat bahasa yang digunakan manusia untuk melakukan praktik pemaknaan atas realitas. Konsep “realisme” dalam seni, baik dalam seni rupa ataupun seni sastra, tak luput dari tegangan yang tak hentinya antara jarak manusia dan realitas itu sendiri.

Pameran Operasi dari tujuh perupa ini pada satu sisi menunjukkan bagaimana “watak politis” dari Bahasa itu sendiri: Bahasa dipandang tak sekedar sebagai semesta pengaturan penanda-petanda belaka ataupun sekedar alat komunikasi antar manusia. Di samping fungsi populernya sebagai piranti pesan, Bahasa mengandung sisi lain: entah itu sebagai alat untuk perekaan ketidaksadaran politis, instrumen konstruksi atas realitas, metode dalam menguasai pikiran manusia, ataupun candu bagi para pengidap akut political correctness, dan seterusnya. Dalam konteks itulah, pameran Operasi ini tampak seperti Bahasa yang sedang membahas dirinya sendiri, Bahasa tentang Bahasa, atau Bahasa yang mengedepankan self conscious dalam dirinya.

Seberapa jauh Bahasa [seni rupa] bisa membahas watak Bahasa [dalam pengertian yang lebih luas dari seni rupa]? Dengan suatu dan lain cara, setiap perupa sedang menunjukkan titik yang berbeda. Untuk memasukinya, kita tak bisa melepaskan diri dari konsep yang diusung oleh setiap perupa sebagai semacam panduan awal. Setelah itu, para pemirsa yang berkunjung ke Galerikertas Studiohanafi bisa meneroka sendiri segala macam pintu masuk yang ditawarkan para perupa kali ini dalam mengajak kita untuk melihat serba-serbi Bahasa. Tentu, sebagai karya seni, pintu masuk itu bisa saja tersedia begitu saja atau kita mesti menciptakannya sendiri. Apapun itu, yang jelas, kita seperti sedang menantang diri kita untuk melihat bagaimana suatu “operasi” Bahasa berlangsung atau melihat bagaimana para perupa sedang berusaha memaknai berbagai praktik pemaknaan dalam kehidupan sosial.

Selamat untuk rekan-rekan perupa yang saat ini berpameran bersama, setelah melewati berbagai macam diskusi, bertukar pikir dengan paham, bersama Cecil Mariani dan beberapa pengampu diskusi lainya di Galerikertas. Semoga ke depan kita selalu menantang diri untuk mencari cara lain dalam berperkara dengan Bahasa. (Heru Joni Putra).

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *