7, XYCLO oleh Ugeng T. Moetidjo

Share!

XYCLO (dibaca: “syaiklo”) adalah semacam siklus yang mau memerankan dalam waktu singkat–selama sepuluh hari durasi pameran–evolusi gestur atas modus pemanfaatan ruang (galeri) dari visualisasi yang tampil sebelumnya di tema gambaur ke XYCLO. Di tataran itu, terlihat jelas bukan hanya perbedaan model gagasan antara karya-karya dan kerja-kerja yang diproduksi sebelumnya, tapi juga fakta tentang proses memaknai. Yang pertama masih menyisakan residu dari ragam definisi seni rupa sedangkan yang kedua ke imajinasi yang relatif lebih terbebas dari beban itu. Kami lalu berkumpul dan mengundi judul-judul usulan untuk menemukan nama yang pas. Betapa rumitnya ketika seni dikurung dalam pembicaraan–sebab apa yang diproduksi sebenarnya hanya sesuatu yang terlanjur disebut seni. Padahal, seni makin tidak terbatas. Ia kian ada di luar cara-cara metode dan kategorisasi sehingga saat itu cukup ricuh buat menentukan istilah yang benar-benar bisa dengan kena menjelaskan pameran ini tanpa bluffing blah blah blah. Nama itu penting. Tapi posisinya kini sama kalau kita bikin hastag tiap hari.

 

Begitulah, fokus pameran lanjutan di tangan tujuh perupa muda ini mengeksekusi genus dari bagian-bagian bukan kehidupan tiap perupa tapi lingkup fragmenter dari kultur bersama mereka. Bukan bekerja lewat anggapan seni itu self portrait senimannya, ketujuh mereka lebih berperan sebagai produser yang memproduksi–malahan mereproduksi–dan menjauhkan ide the creation, mencipta. Karenanya, putaran evolusi itu di sini ditulis bukan dengan “Siklus” atau “Cyclo” atau “Siklo” dengan alasan mendasar munculnya efek penggunaan huruf X dan Y pada nama “XYCLO”. Mirip representasi genera X dan Y yang asal-usulnya keluar dari berbagai ingatan psikosomatik pada produk-produk mimikris. Melewati ranah konsensual, mereka masuk ke konsensus baru. Sama seperti kecenderungan tipografi kontemporer tidak lagi perlu huruf-huruf vokal sebab huruf-huruf konsonan ternyata juga punya bunyi atau bisa dibunyikan. Desain kata tertentu juga sudah tidak lagi peduli pada ritme sukukata tetapi lebih ke komposisi visual. Mereka sadar, dunia kini yang ditatap boleh tidak lagi bertahan pada disiplin formal bahasa: penulisan dan pembagian sukukata. Performativitas mereka secara otomatis jadi bagian dari perayaan bersama aktifitas-aktifitas budaya keseharian pada ragam produksi yang lalu disebut seni.

 

Seni itu sekarang, pada dasarnya, adalah suatu kesenangan, sejenis kegembiraan yang merepresentasikan imajinasi tentang apa adanya. Mereka relatif memainkan peran signifikan–seremeh apa pun– di situasi global lewat pilihan-pilihan performatif ketimbang tampak merenung dicekam kemurungan. Jika yang sebelumnya jelas merupakan bagian dari survival bergaya eksistensial, yang berikutnya adalah keriangan dalam perayaan komunal. Begitulah budaya kontemporer memainkan model-model fungsionalnya lewat kasus seni sebagai contoh dan pemicu dalam pameran ini. Karya-karya mereka tidak perlu tampil diri sebagai bagian dari wacana historis seni rupa entah lokal entah regional, tapi dengan santainya malah menunjukkan atensi kuat pada yang global yang sama-sama digiatkan anak-anak muda lainnya di berbagai penjuru dunia. Mereka melapangkan jalan bagi saat ketika seluruh penghuni kelak sudah benar-benar jadi warga satu negara bersama. Jadi, di sini dalam hal ini, seni itu bukan instrumen tapi elemen. Maka, cara kita menatap harus diubah, digeser dari yang nilai ke yang fenomen.

Ugeng T. Moetidjo

/ Catatan Pameran

Comments

No comment yet.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *